Mohon tunggu...
Emanuel Pratomo
Emanuel Pratomo Mohon Tunggu... Freelancer - .....

........

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Keotentikan Memotret Nilai Humanisme Dalam Festival Film Pendek Indonesia 2016 [2]

25 Januari 2017   20:47 Diperbarui: 25 Januari 2017   20:53 198
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Nah setelah menyaksikan film pendek para finalis  kategori pelajar, mari sekarang kita melihat film pendek para finalis kategori mahasiswa.

Film "Different" yang merupakan karya animasi ini, menggambarkan sebuah usaha dari seseorang untuk membahagiakan orang lain. Seorang lelaki yang terpesona melihat kecantikan wanita yang memiliki status sosial yang lebih tinggi darinya. Mereka saling bertatapan terhalang lalu lalang kendaraan di jalan raya. Kemudian sang lelaki memiliki ide memainkan gitar untuk menarik perhatian sang wanita. Kemudian beberapa lembar kertas bergerak mengikuti gerakan irama nada. 

Dok.Pribadi
Dok.Pribadi
Menurut sang kreator film "Different" bernama Gerald ini proses pembuatan memakan waktu hingga enam bulan lamanya. Film pendek ini merupakan materi tugas akhir untuk sidang skripsi di Universitas Bina Nusantara. Dalam setiap jalinan cerita dibuat dengan banyak simbol dan perumpamaan. Sang lelaki yang sederhana disimbolkan dengan sedikit warna saja, sementara sang wanita yang berstatus sosial tinggi disimbolkan dengan aneka warna terang menyala. 

Keadaan pengkotakan status sosial yang terjadi di masyarakat diperumpamakan dengan kotak berwarna. Lalu lalang mobil di jalanan menyimbolkan berbagai macam permasalahan yang ada dalam setiap status sosial dimasyarakat. Kemudian saat sang lelaki berubah warna saat bermain gitar,  untuk menunjukkan bahwa kita dapat memiliki cara unik dalam untuk beradaptasi di berbagai macam lingkungan status sosial. Sebenarnya berbagai macam penghalang itu hanyalah ada dalam diri kita. Semua ilusi penghalang itu digambarkan dalam adegan mobil yang berantakan & beterbangan.

Film "Merengguk Asa Di Teluk Jakarta" berkisah tentang kehidupan manusia perahu yang mencari nafkah sebagai nelayan di sekitar kawasan Teluk Jakarta. Sang nelayan ini dahulu ikut orangtua yang berasal dari Indramayu,  kemudian menetap beberapa kali mulai dari Ancol, Muara Karang hingga Muara Angke. Kehidupan orangtua sebagai nelayan turut menurun kedirinya. Sang nelayan bersama anaknya akhirnya lebih banyak hidup berada di lautan mencari ikan. Akses pendidikan sang anak yang terbatas serta berbagai kendala kehidupan sebagai warga yang tak memiliki identitas KTP DKI Jakarta turut terpotret dalam jalinan cerita ini. 

Menurut para kreator film "Merengkuh Asa Di Teluk Jakarta" ada pesan yg disampaikan bahwa dibalik pesona gemerlap & kemewahan Jakarta, masih ada problematika sosial yang bertolak belakang di sudut-sudut tersembunyi tertentu. Para nelayan yang bermukim di Muara Angke ini banyak berasal dari Indramayu Jawa Barat. Namun mereka ini tak memiliki KTP DKI Jakarta, sehingga sulit menempati hunian (rumah susun (rusun) serta berbagai layanan sosial yang disediakan oleh Pemerintah DKI Jakarta. Maka dari itu mereka memilih hidup diatas perahu sambil bekerja mencari ikan. 

Film "I Love Me" berkisah seorang gadis yang hidup tak pernah lepas dari ber-medsos ria melalui ponsel yang tergenggam dalam tangan. Suatu ketika apartemen tempat tinggalnya mengalami pemadaman listrik. Akhirnya sang gadis memutuskan berjalan menikmati suasana jalanan kota. Tak hentinya untuk mengabadikan dalam foto, semua hal menarik yang dijumpainya. Ketika baterai ponsel benar-benar kosong dayanya, warung hingga minimarket didatangi untuk menumpang melakukan pengisian daya ulang (charger) ponselnya. Namun semua menolak dengan berbagai macam alasan masing-masing.

Kemudian sang gadis teringat akan penjual nasi goreng yang sering didatanginya. Sambil menikmati makanan, ponsel pun mulai kembali terisi dayanya. Tak lama kemudian sayup-sayup mulai terdengar alunan anak kecil, "Aku adalah pengamen di jalanan. Aku bernyanyi untuk mencari makan. Jangan samakan kami dengan pereman, Kami bukanlah pembuatan keributan"

Film "Omah" berkisah tentang  bapak menginginkan sang anak yang bersama dalam perantauan untuk dapat sesekali menengok sang ibunya. Berbagai argumentasi sang anak dikemukakan mengenai lakon kehidupan yang ingin dijalaninya. 

Film "Di Ujung Jari" mengisahkan seorang anak muda yang hampir dalam rutinitas hidup kesehariannya tak dapat lepas dari genggaman perangkat ponsel pintarnya. Mulai dari bangun tidur, mandi, beraktivitas di luar rumah, hingga kembali ke rumah dan istirahat tidur malam. Namun semua itu mengubah cara pandang hidupnya, saat ketika ponselnya harus berpindah tangan secara tak terduga. 

Makbul Mubarak mengatakan bahwa tidak ada perbedaan penjurian apakah film itu berjenis dokumenter atau fiksi. Penilaian diberikan berdasarkan kepada sineas yang dapat memberikan kesegaran perspektif. Ada mitos bahwa film buatan sineas pelajar Jakarta selalu lebih baik dibandingkan buatan sineas pelajar daerah. "Itu tidak benar dengan bisa melihat dominasi para pelajar daerah dalam final FFPI 2016 kali ini. Kemudian banyak orang bisa mengucapkan kata humanisme,  namun belum tentu bisa mengartikannya secara otentik bagaimana alternatif menjadi manusia sesungguhnya," ungkap Makbul lebih lanjut dalam sesi tanya jawab. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun