Mohon tunggu...
Rio agung
Rio agung Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Tentang perdesaan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Keadaan Masyarakat Pedamaran Sejak Perusahaan Sawit Masuk ke Pedamaran dan Revitalisasi Mata Pencaharian di Lahan Gambut

26 Mei 2023   09:21 Diperbarui: 26 Mei 2023   10:30 203
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jauh sebelum perusahaan perkebunan sawit hadir di kawasan Pedamaran (Pedamaran dan Pedamaran Timur), Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, lahan gambut di kawasan tersebut telah dimanfaatkan secara bijak oleh masyarakat Pemadaman.jauh dari peristiwa kebakaran

Namun karena banyak hadirnya perusahaan HPH dan perkebunan sawit, Pedamaran menjadi sorotan dunia akibat kebakaran gambut yang terjadi hampir setiap tahun. Termasuk Pada tahun 2015.

Mengapa lahan gambut  tidak terbakar sebelum perusahaan perkebunan kelapa sawit datang? Dulu lahan gambut diberlakukan masyarakat secara baik. Pada lahan gambut yang dangkal, yang memiliki batas sungai dimanfaatkan sebagai persawahan dan sumber purun yang digunakan sebagai bahan baku tikar.

“Sementara pada lahan gambut yang dalam hanya dimanfaatkan untuk mencari ikan atau kayu jika dibutuhkan,”

Namun, lahan gambut di Pedamaran, baik di Kecamatan Pedamaran dan Pedamaran Timur, yang mencapai 120 ribu hektare, mengalami kerusakan sejak hadirnya sejumlah perusahaan hak pengusahaan hutan (HPH) pada 970-an. “Termasuk pula aktivitas perambahan,” Kerusakan tersebut mengalami puncaknya saat kebakaran akibat kemarau panjang pada 1997-1998.

Setelah itu terus hadir perusahaan perkebunan sawit. Kerusakan lahan gambut kian bertambah karena perkebunan tersebut kian menurunkan kualitas lahan gambut “Ini akibat kanalisasi yang dilakukan, termasuk pula karakter sawit yang memang rakus air sehingga pada musim kemarau lahan gambut cepat kering dan mudah terbakar,”

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Kehutanan, tercatat sejumlah puluhan perusahaan perkebunan sawit di Pedamaran. Antara lain PT. Tania Selatan (PIR Trans) dengan luas 4.205,68 hektare, PT. Sampoerna Agro Tbk (3.243,46 hektare), PT. Telaga Hikmah I (1.000 hektare), PT. Telaga Hikmah II (5.500 hektare), PT. Gading Cempaka Graha (10.000 hektare), dan PT. Chandra Agro Teluk Gelam dan Pedamaran (7.500 hektare).

Pada kebakaran lahan gambut 2015 lalu, sebagian besar konsesi perusahaan-perusahaan tersebut terbakar. Bahkan, Presiden Jokowi meminta, izin PT. Tempirai Palm Resources dicabut saat dia mengunjungi lokasi kebakaran di Pedamaran

Berdasarkan data Hutan Kita Institute (HaKI) sejumlah perusahaan perkebunan sawit di Pedamaran yang ditemukan titik apinya di antaranya adalah PT. Tempirai Palm Resources, PT. Rambang Agro Jaya, PT. Sampoerna Agro Tbk, PT. Chandra Agro, dan PT. Nusantara Citra Jaya

Dampak gambut terbakar

Bukan hanya kesehatan yang dirasakan masyarakat Pedamaran akibat kebakaran lahan gambut di konsesi 

perusahaan perkebunan sawit. “2015 lalu, kami tidak punya bahan baku purun. Lokasi purun kami terbakar. Kami terpaksa membelinya dari daerah lain. Misalnya dari Pangkalanlampan. Jumlahnya terbatas dan harganya lebih mahal,”Syarifudin Gusar, pegiat lingkungan hidup Pedamaran yang menjadi jaringan SHI Sumsel

Lokasi purun milik masyarakat Pedamaran yang tersisa itu berada di Lebak Purun Arang Setambun yang luasnya sekitar 1.000 hektare. Lokasi ini di sekitar konsesi perkebunan sawit, yang 2015 lalu turut terbakar

Selain habisnya purun, produksi ikan di Pedamaran pun mengalami penurunan. Dampaknya ikan asin, pekasem (ikan difermentasi) dan selai ikan, sulit diproduksi masyarakat Pedamaran. “Kalau dulu setiap kali kita bertandang ke rumah warga pasti dihidangkan pindang ikan. Sekarang jarang sekali, justru mi instan yang sering.”

KERAJINAN MENGGANYAM TIKAR PURUN

Salah satu kerajinan anyaman tradisional yang masih banyak dipakai dikalangan masyarakat sumatra Selatan adalah Tikar Purun atau Tikar Pedamaran.

Sebagian besar tikar purun bermotif geometris dan memiliki daya tahan yang cukup tinggi ,karena dibuat dari tanaman purun yang batangnya berserat,yang memiliki kemiripan dengan pandan ,tumbuhan ini merupakan tumbuhan rumput yang hidup liar di dekat air atau rawa -rawa di sekitar kabupaten Ogan Ilir Dan Ogan Komring Ilir

Kerajinan ini pun banyak dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga atau kaum wanita, kerajinan tikar purun ini berlangsung turun temurun sampai dengan sekarang.

A.HASIL

1.Kondisi umum

Masyarakat Pedamaran sejak turun- temurun telah memanfaatkan rawa gambut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Praktik pengambilan komoditas rawa gambut ini dilakukan secara manual tanpa proses pembakaran. Di antara aktivitas tersebut adalah menggunakan tanaman purun dan berbagai ikan sebagai bahan baku produk yang akan dijual kembali oleh masyarakat ke dalam atau luar Pedamaran.

Kegiatan menganyam purun menjadi tikar merupakan salah satu tradisi sekaligus mata pencaharian masyarakat di Pedamaran. Umumnya, para penganyam merupakan perempuan yang diajari menganyam oleh ibu dan nenek mereka sejak dini. Motivasi utama para responden adalah untuk membantu suami mereka memenuhi kebutuhan rumah tangga. Mereka juga mendapatkan beberapa manfaat tambahan seperti mengisi waktu luang, membuat lebih sehat, mengurangi stress, dan dapat membeli kebutuhannya sendiri.

Pemanfaatan purun sebagai mata pencaharian warga Pedamaran tidak terlepas dari nilai budaya dan tradisi yang terkandung pada kegiatan menganyam purun. Budaya juga menjadi salah satu alasan mengapa mereka meneruskan kegiatan tersebut dari generasi ke generasi. 

Sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang responden bahwa anaknya harus diajari menganyam sebab menganyam merupakan tradisi turun-temurun. Pernyataan ini menunjukkan bahwa budaya menjadi salah satu faktor keberlanjutan dari pemanfaatan purun sebagai mata pencaharian di Pedamaran. Sebagai contoh, masyarakat Pedamaran menggunakan tikar purun sebagai alas duduk di rumah dan berbagai ritual adat (Lampiran). Tikar tersebut juga digunakan dalam acara adat tradisional seperti pernikahan, penguburan ari-ari bayi yang baru lahir, pemakaman, serta peresmian rumah baru. 

Tanaman purun diambil dari Lebak atauRawa Gambalan yang berjarak 2–3 jam dari desa menggunakan perahu getek. Tanaman tersebut kemudian dijual kepada penganyam dengan harga Rp7.000,00–10.000,00 per ikat, yang dapat dibuat menjadi 2–3 lembar tikar. 

Para responden penganyam di Kecamatan Pedamaran dapat membuat 1–3 lembar tikar standar yang dihargai Rp5.000,00–8.000,00 per lembarnya oleh para pengumpul, bergantung pada ukuran. Menurut responden penganyam, harga tikar ini masih terlalu rendah mengingat proses pembuatannya yang lama. Para responden pengumpul menyebutkan bahwa mereka dapat mengumpulkan 1–2 kodi tikar per hari yang kemudian dijual kepada pedagang tikar dengan keuntungan Rp5.000,00–10.000,00 per kodi.

Tikar di Pedamaran umumnya dijual ke luar daerah oleh para pedagang menggunakan transportasi darat. Terdapat dua jenis responden pedagang tikar di Pedamaran, yaitu yang menjual langsung ke pembeli dan ke pedagang lainnya. Tikar-tikar ini dijual bukan hanya di Sumatera Selatan, tetapi juga di provinsi-provinsi lain di Sumatera.

Tikar tersebut didistribusikan antara lain ke daerah Kecamatan Tugu Mulyo (Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan), Desa Lubuk Seberuk (Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten OKI, Provinsi Sumatera Selatan), Kota Lubuklinggau (Provinsi Sumatera Selatan), Kabupaten Empat Lawang (Provinsi Sumatera Selatan), Kota Pekanbaru (Provinsi Riau), dan Kota Curup (Provinsi Bengkulu). Para pedagang biasa menjual tikar purun dengan harga Rp7.500,00–20.000,00 per lembar.

Penduduk juga dapat membeli langsung tikar khusus (contoh: tikar untuk pernikahan) kepada para pengrajin. Tikar ini hanya dibuat berdasarkan pesanan. Harga satu set tikar pernikahan adat Pedamaran (yang terdiri dari 2 lembar tikar tiga warna untuk alas tidur pengantin dan 1 lembar tikar putih untuk prosesi pernikahan) berkisar antara Rp150.000,00–300.000,00. Harga satu set tikar ini lebih mahal dibandingkan dengan tikar biasa akibat tingkat kesulitan pembuatan tikar yang jauh lebih tinggi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun