"Penonton yang terhormat, dimohon kerja samanya untuk tidak menyalakan petasan dan kembang api selama pertandingan berlangsung, karena Sriwijaya FC sudah kena denda 380 juta karena itu dan mungkin nanti dilarang melaksanakan pertandingan di Palembang kalau masih terjadi kejadian seperti ini..."Begitulah kira-kira pengumuman dari pembawa acara pertandingan Sriwijaya FC dan Persela Lamongan semalam 2 Juni 2018.
Ini diberitahukan karena masih saja terdengar petasan dan ada sekelebat cahaya mitip kembang api di tribun atas saya saat pertandingan berlangsung yang membuat panitia pelaksana agak "geregetan" jadinya. Bagaimana tidak, semua koordinator suporter pasti sudah diberitahu dan pasti sudah mengumumkan ke para anggotanya, tetapi masih saja kejadian. Apakah beberapa petasan kemarin dan kembang api yang berhamburan setelah pertandingan usai akan menambah denda bagi SFC yang sudah 380 juta itu?
Apalagi Sriwijaya FC punya 3 kelompok suporter yang terkadang saling berseteru, membuat harus ekstra berfikir menonton bola langsung di stadion, karena berbagai pertimbangan, "Is that worthy?"
Ternyata punggawa SFC tidak membuat kedua anak remajaku kecewa, dalam 30 menit pertama sudah tercipta 2 gol dari Muhamadou N'Diaye (27) dan tendangan penalti Manuchekhr Dzhalilov (30).
Apakah cukup? Ternyata tidak. Persela yang 20 Mei 2018 lalu membantai Persija Jakarta 2-0 meladeni SFC bermain terbuka seperti tidak takut kebobolan sama sekali, tidak ada kesan "parkir bus" atau bermain kasar, mereka tetap bermain taktis walaupun malam kemarin sepertinya Stadion Jakabaring yang berpenonton 7000-an orang saja (maklum bulan puasa dan belum dihitung yang tidak bayar alias menyelinap) sangat memihak ke tuan rumah.
Gol Sriwijaya kembali hadir dari Vizcarra (42) , N'Diaye (53) dan Wanggai (85). Gol hiburan dari Persela didapat dari  Loris Arnaud di menit 82. Bahagia? Sangat, karena SFC sementara ini di peringkat 3 liga tertinggi di Indonesia dan Palembang masih bisa berbangga punya tim juara (2008,2012) yang berpotensi kembali juara musim ini karena "squad" lumayan "moncer" dan pelatih kawakan Rahmad Darmawan.
Tetapi kembali ke persoalan suporter dan disiplin dalam mendukung SFC, pertanyaan mendasar apakah SFC yang menjadi motivasi para suporter ini berkumpul dan bergembira atau SFC hanya alasan antara, padahal memang kelompok-kelompok ini punya agenda yang lebih penting dari hanya sekedar tim pemandu sorak dari tribun atau pemain ke 12? Karena sulitnya pecahan-pecahan suporter ini bersatu menimbulkan tanda tanya besar, timnya satu kenapa harus ada 3-4 pecahan pemandu sorak? Belum lagi sudah dimohon jangan nyalakan kembang api dan petasan, tetapi masih dinyalakan, berarti SFC dan pertandingan itu sendiri tidak ingin mereka pedulikan yang penting hasrat menyalakan kembang api itu tetap dijalankan dengan atau tanpa peringatan.
Sriwijaya FC memang harus berunding lagi dengan kelompok suporternya dari hati ke hati, sebab kalau karena suporter ini, SFC harus selalu terusir dari Stadion Gelora Jakabaring untuk pertandingan kandang, maka tujuan utama SFC dibeli tahun 2004 untuk memberdayakan stadion peninggalan Pekan Olahraga Nasional 2004 itu tidak terwujud. Intinya, kalau SFC sering dihukum bermain diluar Palembang daripada di dalam kota Palembang akibat ketidakdisiplinan suporter, sebaiknya jual saja SFC ke kota yang suporternya lebih mudah diatur.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H