"Kaisar Posmowi terlalu 'bernasib'. Dia diserang fitnah tetap populer, dia dikritik karena salah penampilan atau tindakan tetap populer, bahkan dia ngakak pun tetap bikin populer. Sementara saya mau bikin pencitraan bagaimanapun juga selalu bikin orang muak. Sebel!" Akunya.
Lalu setelah setahun berjalan mereka membenci, melontarkan kecaman di media sosial maupun media antisosial si kaisar tetap santai saja, ketiganya berunding mau diapain nih kaisar.
"Capek membencinya bro. Mau memujinya juga malu."Keluh Do Wan.
"Ya, mau bagaimana lagi? Tunggu aja di kepeleset, pasti yang benci nambah banyak. Kita tambah teman..."Usul Do Tu.
"Kalau ternyata dia tidak kepeleset? Lalu tambah populer?"Tanya Do Tri penasaran.
"Kita pindah warga negara saja, bagaimana?"Usul Do Tu.
"Susah, Bro. Semua kerajaan sekarang telah hadir kaisar-kaisar baru yang 'bernasib' seperti Posmowi. Masak kita harus membenci mereka juga? Lalu kalau gagal menyebar kebencian, kita harus ganti warga negara lagi?" Do Tri gak sepakat.
"Habis bagaimana lagi? Kita bertiga sudah memilih jalan hidup begini : 'The hater's way. Sekali benci tetap benci. Jangan plin-plan dong..." Do Tu si pembenci ideologis mulai kesal.
"Entahlah Bro. Saya capek jadi pembenci. Lagian kebencianku karena peristiwa masa lalu, sudah tidak aktual. Aku capek. Lebih baik apatis saja. Aku vakum dulu membenci...." Do Wan pergi.
"Aku juga bro. Susah mengalahkan orang 'bernasib'. Aku vakum juga ah..."Do Tri pergi.
"Sialan! Hei, lihat,ya. Aku Do Tu, pembenci idealis takkan menyerah. Aku akan membenci kaisar sampai mati, saat makan, saat mandi, saat tidur pun si kaisar akan kumaki-maki."