Kalian berteori, kalian berkampanye dan kalian merasa dinomorduakan. Teori kalian hanyalah sebuah karangan pembelaan yang akan diiyakan oleh mereka yang memiliki kemampuan berpikir dibawah kalian, kampanye kalian hanyalah sebuah cara untuk memperkenalkan keberadaan kalian agar supaya manusia yang tidak perduli memaklumi dan mengamini cinta kalian, ingat, mereka yang tidak perduli yang mengamini, kami ummm... baiklah saya tidak bisa mengatasnamakan kalian yang lain, jadi saya yang perduli justru tidak akan mengamini keinginan indah kalian, kalian tidaklah nomor dua, kalian merasa nomor dua hanya karena kalian sadar, bahwa kalian berbeda, bukan perbedaan yang indah tapi justru perbedaan yang buruk, yang memang sudah ada sejak jaman dahulu tapi sudah dinyatakan juga dalam setiap ajaran agama bahwa keberadaan kalian tidaklah menyenangkan hati Tuhan kalian.
Saya lajang, saya trauma dengan pria dan saya menjadi homoseks? Tidak.
Kamu homoseks dan kamu teman saya? Ya, dan kita terus berteman. Kamu berharap saya mendukungmu atas nama cinta? Tidak, saya tidak mendukungmu justru atas nama cinta.
Kita tetap bertegur sapa? Ya, karena cinta tak terbatas pada penyimpangan kalau tidak mau disebut dosa, kamu sahabat saya dan kita sama-sama manusia ciptaanNya.
***
Noni mendenguskan nafas panjangnya, tersenyum sejenak, merasa puas menuliskan materi random yang ada di kepalanya. Menutup jendela lembar penulisan dan segera menghubungi sahabatnya yang kini berjauhan.
“Hei, sorry baru bisa balas, dari tadi gue lagi asik nulis cuy, hehehehe.”
“Oh ya? Nulis apaan lagi? Cinta-cinta lagi? Ciyeh yang lagi jatuh cinta...”
“Yups, as always, it’s all about love love and love. Nulis tentang lo cuy :p”
“Oh really? May i see?”
“of course, just wait for a minute.”