Laptop yang sudah menemani sejak 2015, kini terbujur kaku. Tombol powernya sudah di tekan, tapi tidak hidup juga. Barang yang sudah lama dekat dengan kita, Â jika rusak atau hilang, Â maka akan terasa sakitnya. Seakan-akan barang itu sudah menjadi bagian dari diri sendiri.Â
Bukam hanya barang mungkin,  tapi setiap  yang kita rasa kita memilikinya jika tidak ada maka akan terasa kehilangan.  Persahabatan,  cinta,  iman,  guru,  orang tua,  segalanya akan pergi saatnya. Kepergian yang terasa semakin dalam hingga kadang hidup kita serasa ikut berakhir.Â
Dalam setiap proses itu tentunya yang kita lakukan adalah mengikhlaskan nya, Â melepasnya. Justru di saat seperti itulah terasa sulit untuk melepasnya. Ada bagian dari diri kita tidak rela jika pergi begitu saja. Bagian terdalam yang penuh hasrat liar dalam kegelapan.Â
Hasrat itu terbentuk dari lingkungan sejak kecil hingga sekarang. Para ahli memberinya nama "bawah sadar". Kumpulan ingatan, Â kenangan, Â trauma, Â kegetiran, semua berkumpul menjadi satu.Â
Biarlah semua menjadi apa adanya. Toh hidup sebagian besar terdiri dari misteri yang tak bisa kita urai lewat kata. Mencoba menerima semua nya bisa jadi penghiburan bagi kita. Setidaknya kita mengerti kalau hidup tidak dibangun dari apa yang kita dapat, Â melainkan dari paa yang kita lepaskan.Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H