Hari ini, Senin, 10 Oktober 2016, pukul 04.00 WIT, saya bangun pagi. Saya langsung menyiapkan pakaian dan perlengkapan yang akan dibawa ke kampung Tablanusu. Saya mengaturnya di dalam tas BNPB yang kami dapat sewaktu mengikuti pelatihan fasilitator di Yogyakarta pada bulan Juni silam.
Pukul 05.00 WIT, sudah mulai terang. Tetapi, langit Abepura tampak mendung. Angin bertiup pelan. Udara pagi segar. Saya cuci motor dan memanaskan mesinnya. Kemudian, saya mandi dan sarapan pagi. Saya mengirim SMS ke om Priyo Cipto, “Selamat pagi om. Saya sudah siap dan lagi tunggu di kosku. Trims.” (05.45 WIT). Setelah sarapan, saya menunggu kedatangan om Abu dan Priyo. Haji Kadir yang akan mengantar kami ke Tablanusu.
Saya menggunakan waktu yang ada untuk mengantar Yuni ke tempat tunggu angkotan di depan SD Muhammadiyah. Sesaat setelah saya datang dan memarkir motor di grasi, pada saat saya mengunci pintu grasi jemputan datang. Tampak Haji, Om Abu dan Om Priyo. Saya langsung berlari mengambil tas dan bergegas ke mobil. Waktu menunjukkan pukul 06.43 WIT. Kami melanjutkan perjalanan ke Ibu Leni Pasulu. Di sana, kami mengambil empat alas tidur. Dua untuk Tablasupa dan dua untuk Tablanusu.
Dari Ibu Leni, kami menjemput Teri dan Games di lingkaran Perumnas III. Waktu menunjukkan pukul 07.18 WIT. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan ke BPBD di Sentani. Pukul 08.01 WIT, kami tiba di kantor BPBD. Di sana kami mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke Tablanusu yaitu tripleks, semen, ATK dan peralatan masak. Kami tunggu Farid agak lama, sehingga kami segera berangkat ke Tablanusu.
Pukul 08.20 WIT, kami berangkat ke Tablanusu. Tetapi, kami masih singgah di pasar lama untuk beli minyak tanah. Om Abu beli minyak tanah lima liter. Harganya lima puluh ribu. Minyak tanah satu liter delapan ribu rupiah, ditambah harga jerigen sepuluh ribu rupiah. Setelah beli minyak tanah, kami langsung melaju menuju Tablanusu.
Kami tiba di Tablasupa pukul 09.36 WIT. Kami langsung ke aula GKI, tempat pelaksanaan kegiatan. Belum banyak peserta yang hadir. Kami memasang spanduk. Selanjutnya, kami menunggu peserta.
Pelaksanaan koordinasi dan sosialisasi fasilitasi ketangguhan masyarakat di Kampung Entiyebo, Tablanusu, Distrik Depapre dilaksanakan pada hari Senin, 10 Oktober 2016 bertempat di aula serba guna Gereja Kristen Injili (GKI), Tablanusu. Sebelum pelaksanaan kegiatan ini, pada tanggal 5 Oktober 2016, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Jayapura, Leni Pasulu dan fasilitator mengunjungi Kampung Tablanusu untuk mempersiapkan proses pelaksanaan pembukaan kegiatan Desa Tangguh Bencana di Tablanusu.
Selain itu, untuk memastikan pelaksanaan kegaitan koordinasi dan sosialisasi fasilitasi ketangguhan masyarakat di Kampung Entiyebo, Tablanusu, maka pada tanggal 7 Oktober 2016, fasilitator dan tim BPBD kembali mengunjungi kampung Tablanusu. Koordinasi dilakukan untuk kelancaran pembukaan dan rangkaian kegiatan fasilitasi ketangguhan masyarakat di kampung Tablanusu. Secara khusus, pada kesempatan ini disepakati bahwa kegiatan akan dilaksanakan di aula GKI dan untuk konsumsi akan diurus oleh ibu-ibu Persekutuan Wanita (PW) GKI Tablanusu.
Kegiatan koordinasi dan sosialisasi fasilitasi ketangguhan masyarakat di Kampung Entiyebo, Tablanusu, pada hari Senin, 10 Oktober 2016 bertempat di aula serba guna Gereja Kristen Injili (GKI), Tablanusu diawali dengan registrasi yang dimulai pada pukul 09.00-10.00 WIT. Sambil menunggu peserta lain, peserta yang sudah hadir langsung coffe break, sambil berbagi pengalaman.
Pada pukul 11.00 WIT, proses kegiatan koordinasi dan sosialisasi ketangguhan masyarakat di Kampung Tablanusu secara resmi dimulai dengan pembukaan, yang dibawakan oleh Master of Ceremony (MC), Games Wanimbo, Fasilitator Kampung Tablasupa, yang turut hadir dalam kegiatan ini. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Bapa Markus Apaseray.
Acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Ada dua sambutan yaitu dari Kepala Kampung Entiyebo, Bapak Menase Soumilena dan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Jayapura, Lenny Pasulu. Kepala kampung dalam sambutan dan arahannya mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada pihak BPBD dan BNPB yang telah berkenan datang dan mendampingi kampung Tablanusu untuk mengantisipasi berbagai bahaya bencana yang mungkin akan terjadi di kampung Tablanusu. Ia mengatakan bahwa materi yang akan diberikan selama proses pendampingan sangat penting untuk mengatasi berbagai bencana yang mungkin akan terjadi. Karena itu, perserta diharapkan mengikutinya dengan baik, memahami materi yang diberikan, sehingga kalau ada bencana peserta yang mengikuti pelatihan ini bisa memberikan pertolongan, tidak harus tunggu dari luar. Masyarakat sendiri harus menolong dirinya.
Sementara itu, Ibu Lenny Pasulu mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan yang ketiga kali BPBD Kabupaten Jayapura datang ke Kampung Tablanusu. Hal ini menunjukkan bahwa Kampung Tablanusu rawan bencana sehingga menjadi perhatian utama. Ia mengatakan proses pendampingan ini dilakukan supaya masyarakat di kampung bisa mengenal kampungnya dan bisa hidup aman dari bencana alam.
Ibu Leni juga menjelaskan bahwa dana program Desa Tangguh Bencana ini berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Provinsi Papua hanya Kabupaten Jayapura yang mendapat program ini, yang dilaksanakan di dua kampung yaitu, Tablasupa dan Tablanusu. Ia menyampaikan bahwa BPBD tidak membawa uang, tetapi ilmu pengetahuan yang sangat berguna untuk masyarakat.
Setelah memberikan arahan, pada pukul 11.28 WIT, Ibu Leni, mewakili Kepala BPBD Kabupaten Jayapura, membuka secara resmi proses fasilitasi ketangguhan masyarakat yang akan dilaksanakan di kampung Tablanusu sampai bulan Desember 2016.
Rangkaian acara pembukaan selesai. Fasilitator Teriben Kogoya langsung memandu jalannya proses pengenalan Desa Tangguh Bencana. Ia menjelaskan maksud dan tujuan pelaksanaan program Destana di kampung Tablanusu.
Ia juga menyampaikan bahwa selama proses kegiatan ini akan dilakukan kajian risiko bencana, sistem peringatan dini, rencana evakuasi, rencana pengurangan bencana tingkat kampung, kelompok relawan, integrasi rencana aksi komunitas dan rencana pengurangan bencana ke dalam RPJMK, simulasi dan lokakarya penutupan.
Selanjutnya, dilakukan pembentukan Kelompok Kerja (Pokja). Para peserta sepakat menunjuk Bapak Orgenes Soumilena sebagai ketua Pokja.
Selain itu, peserta juga melakukan kontrak belajar selama proses fasilitasi yaitu kegiatan akan dimulai pada pukul 09.00-13.00 WIT. Hal ini dilakukan karena sore hari ada ibadah jemaat. Peserta mengenakan pakaian bebas rapi dan selama kegiatan tidak diperkenankan merokok di dalam aula kegiatan.
Acara ini berakhir pada pukul 13.11 WIT. Mama Dorlenci Y. Suwae memimpin doa penutup sekaligus doa makan siang. Setelah doa kami makan bersama. Makanan yang disediakan oleh ibu-ibu Persekutuan Wanita (PW) terbilang luar biasa: papeda, ikan kuah kuning, keladi tumbuk, keladi, sayur, nasi dan ikan kuah kuning.
Setelah makan, kami menyimpan barang-barang bawaan kami di rumah Bapa Samson Soumilena, tempat kami akan menginap. Kami mengangkat tas pakaian, tripleks, semen dan perlengkapan ATK. Sesudah itu, pukul 14.09 WIT, kami berangkat bersama-sama ke Tablasupa. Kami naik di mobil kijang inova yang dikemudikan Haji Kadir. Perjalanan lancar. Hanya saja, ada hal yang menakutkan karena jalanan menanjak dan berbatu, tetapi Haji Kadir sering menerima telpon. Hal semacam ini sangat berbahaya untuk keselamatan kami.
Pukul 14.41 WIT, kami tiba di kampung Tablasupa. Om Abu, Priyo dan Games akan tinggal di Polindes. Tampak sepi dan kotor karena sudah beberapa bulan ini tidak ditempati. Ada seorang pemuda yang bergiat membantu menyapu dan mengatur barang-barang yang dibawa oleh Om Priyo, dkk.
Kami berdiri di teras rumah. Ibu Lenny memberikan pengarahan terkait absen dan proses pendampingan. Selama pekan ini kami akan melakukan fasilitasi untuk kegiatan pengenalan desa tangguh bencana, kajian risiko, sistem peringatan dini, rencana evakuasi dan pembentukan forum PRB kampung. Sesudah diskusi itu, pukul 15.46 WIT, kami pulang ke Tablanusu. Perjalanan lancar. Kami tiba kembali di Tablasupa pada pukul 16.15 WIT.
Saat tiba kembali di Tablanusu hari sudah sore. Pukul 16.30 WIT, saya pergi ke pantai. Saya menyusuri tepi pantai, terutama di area Suwae resort. Ada pondok penginapan. Ada ruang pertemuan. Bangunan tertata rapi. Di halaman ada pohon kelapa. Lampu terpasang di beberapa pohon kelapa. Suasana sore ini benar-benar indah.
Sesudah dari pantai, saya menyusuri kampung. Berjalan di atas batu-batu kecil memberikan kesan tersendiri. Tak mudah dilukiskan dengan kata-kata. Suatu perasaan kagum bahwa di kampung terpencil ini, di bibir samudra pasifik terdapat panorama alam yang indah. Bukan itu saja warganya pun ramah.
Saya kembali ke rumah Bapa Simson Soumilena, tempat kami menginap. Teri dan Farid beristirahat. Saya pun istirahat. Malam hari, saya mandi. Sesudah itu, kami makan bersama. Malam ini, kami menikmati makanan siang yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu PW. Di lantai, kami bersila dan menikmati makanan yang lezat itu, sambil sesekali berbagi pengalaman satu sama lain. (Tablanusu, 11 Oktober 2016; pukul 06.30 WIT)

Kampung Tablanusu, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua sudah terkenal sejak lama sebagai daerah wisata pantai. Secara pribadi, hari ini 10 Oktober 2016, merupakan kali kedua saya menginjakkan kaki di kampung ini. Dan merupakan pertama kali bertatap muka dengan warga kampung Tablanusu.
Hari ini, kami memulai kegiatan fasilitasi ketangguhan masyarakat di kampung Tablanusu. Kami akan tinggal selama sepekan dan bersama-sama dengan masyarakat, khususnya yang tergabung dalam kelompok kerja (Pokja) untuk berdiskusi dan merencanakan penanggulangan bencana di kampung Tablanusu.
Pada kegiatan pembukaan ini, kepala kampung hadir. Ia memberikan arahan. Saya tertarik pada pernyataannya bahwa masyarakat kampung sendiri yang mesti pertama-tama menolong dirinya sendiri apabila terjadi bencana alam. Artinya, masyarakat harus siap sedia, bersikap waspada dan berjaga-jaga. Karena itu, tepatlah pendampingan semacam ini untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam upaya mencegah dan menghadapi bencana alam.
Seluruh proses pendampingan ini menuntut keterlibatan masyarakat, terutama Pokja. Sebab, merekalah yang akan mencari dan menemukan serta melaksanakan apa yang perlu untuk kampung Tablanusu. Partisipasi Pokja sangat menentukan keberhasilan pendampingan ini. Fasilitator bersifat membantu.
Selain itu, Ibu Lenny Pasulu memberikan arahan yang tidak kala menariknya bahwa program ini tidak menjanjikan uang atau bangunan fisik, tetapi memberikan ilmu pengetahuan sebagai bekal membangun kampung. Ia juga meminta agar warga kampung Tablanusu menerima kami fasilitator seperti anak, adik dan kakak mereka. Suatu wejangan yang melampaui kategori sosial, suku, budaya, adat dan agama. Melalui proses fasilitasi ini bukan hanya terjadi proses transfer ilmu, tetapi juga saling mempelajari, saling menerima dan menghormati satu sama lain.
Saat ini, di Papua seiring pemberlakuan otonomi khusus, ada banyak dana masuk ke kampung-kampung. Tujuannya, masyarakat memanfaatkan berbagai dana itu untuk pembangunan di kampung. Masyarakat sendiri yang membangun kampungnya. Namun, di balik gagasan cemerlang ini, tersimpan persoalan bahwa masyarakat terbiasa mengukur segala pekerjaan dengan uang. Semangat gotong-royong dan kerja sama semakin memudar. Apabila ada uang masyarakat kerja. Kalau kerja sosial, tanpa uang masyarakat tidak mau terlibat. Pemberian diri untuk kampungnya sendiri terasa berat.
Melalui proses fasilitasi ini, masyarakat kampung Tablanusu diarahkan untuk mengembangkan semangat gotong-royong untuk mencapi Tablanusu sebagai kampung tangguh. Suatu kampung yang mandiri dalam menghadapi berbagai permasalahan, baik pembangunan maupun kebencanaan. Untuk itu, diperlukan suatu perencanaan yang baik melalui diskusi dan pendalaman, sehingga kegiatan yang akan dilakukan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Penanggulangan bencana perlu dibicarakan dan direncanakan. Fasilitasi ketangguhan masyarakat ini menjadi momentum untuk membicarakannya. Ada ruang yang luas untuk merencanakan upaya konkret penanggulangan bencana di Tablanusu. Harapannya, menghasilkan bukan saja dokumen, tetapi juga suatu kesadaran kolektif tentang pentingnya mengantisipasi bahaya bencana alam.
Salah satu sikap antisipatif yang perlu dikembangkan adalah menjaga dan memelihara lingkungan alam. Alam, hutan, gunung, kali, batu, kayu, pasir, laut, ikan, perlu dilihat sebagai saudara, yang kehadirannya sangat menentukan kelangsungan hidup masing-masing pihak. Orang Tablanusu perlu memelihara alamnya supaya tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi saat ini dan mendatang, bukan hanya orang Tablanusu yang menikmatinya, tetapi juga para turis yang datang ke Tablanusu.
Kita berharap ke depan, Tablanusu menjadi kampung percontohan. Ketika orang berbicara tentang kampung tangguh, Tablanusu menjadi acuannya. Untuk sampai ke cita-cita semacam ini, semua pihak perlu bekerja sama. Warga kampung Tablanusu perlu saling melengkapi dalam upaya konkret menjaga kampung. Misalnya, menjaga alam dengan menanam pohon, tidak menebang pohon secara sembarangan dan tidak menggunakan dopis saat mencari ikan. Tampaknya hal-hal ini sederhana, tetapi seringkali diabaikan. Karena itu, melalui kegiatan ini, masyarakat yang terlibat perlu mencamkannya secara sungguh-sungguh dan menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.
Sekali lagi, program sebaik apa pun yang masuk ke kampung, kalau masyarakat tidak berpartisipasi aktif, maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Masyarakat kampung adalah subjek perubahan di kampung. Hanya orang-orang kampung yang dapat mengubah kampungnya, bukan orang dari luar kampung. Karena itu, segenap warga masyarakat Tablanusu perlu memanfaatkan momentum pendampingan ini untuk meningkatkan kapasitasnya di bidang kebencanaan supaya ke depan Tablanusu benar-benar menjadi salah satu percontohan kampung tangguh di tanah Papua. (Abepura, 19 Oktober 2016; pukul 09.36 WIT).
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI