Setidaknya, kondisi itu terjadi hingga 2019 sampai penggusuran yang dilakukan oleh pemerintah untuk merevitalisasi Banjir Kanal Timur. Kejadian tersebut tentunya menjadi sebuah problematika tersendiri.
Di satu sisi, sentra industri kecil ini menjadi andalan bagi Kota Semarang, namun di lain sisi pembangunan kios-kios di bantaran sungai juga tidak dapat dibenarkan.
Paguyuban Bina Warga Bugangan yang menaungi para perajin sempat bersitegang terhadap pemerintah atas kebijakan ini. Namun demikian, pembongkaran tetap dilakukan pada 95 kios yang berdiri di sepanjang bantaran sungai.
Para perajin di Bugangan ini rencananya akan direlokasi ke daerah Penggaron yang letaknya jauh dari wilayah semula. Tentunya hal tersebut tidaklah mudah bagi sebagian warga Bugangan yang telah menggantungkan hidupnya turun menurun sebagai perajin logam dan kaleng bekas.
Diperlukan komunikasi yang baik dan intens antara Pemerintah Kota Semarang dengan warga setempat untuk menghasilkan solusi yang benar-benar tepat serta tidak menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat.
Sudah semestinya apresiasi patut diberikan terhadap warga Bugangan yang telah mengembangkan kreatifitas dan memberikan kontribusi terhadap perekonomian Semarang sejak puluhan tahun lamanya.
Sumber
Sony Kurniawan dan Rafi Reza Adiansah, Rancang Bangun Mesin Pengepres Kaleng Minuman 330 ml dengan Penahan yang Diberi Alur (Surabaya: Departemen Teknik Mesin Produksi Kerjasama ITS-Disnakertransduk Jawa Timur, 2017)
Abdul Aziz SR, Ekonomi Politik Monopoli: Negara Pelayan Kapitalis dan Kuasa Korporasi dalam Bisnis Pasar Modern (Surabaya: Airlangga University Press, 2018)
Suara Merdeka, "Saksikan Kompor Bugangan", 7 Juni 1974.
Perajin Kompor Minyak Bugangan" (sumber).
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H