Priyanka Chopra, aktris Bollywood yang kini juga berkiprah di Hollywood, mengejutkan publik ketika mengumumkan bahwa dirinya dan suaminya, Nick Jonas, telah menyambut kelahiran anak pertama mereka melalui metode surrogacy atau ibu pengganti. Kabar ini memicu perbincangan luas, terutama tentang apa itu surrogacy dan mengapa semakin banyak pasangan, termasuk selebriti, memilih jalur ini untuk memiliki keturunan.
Keputusan Priyanka untuk memilih surrogacy, selain menjadi sorotan publik, juga membuka diskusi tentang metode ini yang masih belum begitu dikenal di kalangan masyarakat umum, terutama di negara-negara dengan pandangan tradisional mengenai kehamilan. Apa yang melatarbelakangi pilihan ini? Dan bagaimana sebenarnya proses surrogacy bekerja? Mari kita bahas lebih dalam mengenai metode ini serta alasan di balik pilihan Priyanka Chopra dan Nick Jonas.
Surrogacy adalah metode reproduksi di mana seorang wanita, yang disebut surrogate atau ibu pengganti, mengandung dan melahirkan anak untuk pasangan lain yang nantinya akan menjadi orang tua si bayi. Proses ini biasanya dilakukan oleh pasangan yang mengalami kesulitan untuk hamil secara alami atau memiliki kondisi medis yang membuat kehamilan menjadi risiko bagi sang ibu.
Dalam kasus Priyanka Chopra dan Nick Jonas, mereka memutuskan untuk menggunakan surrogacy untuk menyambut anak pertama mereka. Meskipun mereka tidak mengungkapkan alasan pasti di balik keputusan tersebut, spekulasi muncul bahwa kesibukan dan kesehatan fisik bisa menjadi faktor yang memengaruhi keputusan mereka. Dalam sebuah wawancara, Priyanka mengungkapkan, "Kami sangat bersyukur untuk mendapatkan bayi kami lewat ibu pengganti. Proses ini adalah hal yang sangat pribadi dan kami menghargai privasi ibu pengganti kami serta keputusannya untuk membantu kami memiliki keluarga."
Andrea Wiwandhana, founder CLAV Digital, dalam pandangannya tentang tren surrogacy di kalangan selebriti mengatakan, "Surrogacy adalah salah satu cara bagi pasangan modern, terutama mereka yang memiliki jadwal sibuk atau masalah kesehatan, untuk tetap bisa memiliki keturunan dengan cara yang lebih fleksibel dan aman. Ini adalah bentuk inovasi dalam dunia medis yang memungkinkan lebih banyak keluarga untuk terbentuk."
Ada dua jenis surrogacy yang umum, yaitu traditional surrogacy dan gestational surrogacy. Traditional surrogacy melibatkan penggunaan sel telur dari ibu pengganti, yang berarti dia secara genetik terkait dengan bayi tersebut. Sedangkan gestational surrogacy, yang lebih sering digunakan saat ini, adalah metode di mana sel telur yang digunakan bukan berasal dari ibu pengganti, melainkan dari ibu biologis atau donor sel telur. Dalam kasus ini, ibu pengganti hanya berfungsi sebagai "wadah" untuk mengandung bayi, tanpa hubungan genetik dengan bayi yang dilahirkan.
Dalam kasus Priyanka Chopra, metode yang digunakan adalah gestational surrogacy. Ini berarti bahwa sel telur yang digunakan berasal dari Priyanka atau donor lain, dan dibuahi dengan sperma dari Nick Jonas sebelum ditanamkan ke rahim ibu pengganti.
Surrogacy menjadi semakin populer, terutama di kalangan selebriti seperti Kim Kardashian, Sarah Jessica Parker, hingga Nicole Kidman, yang juga menggunakan metode ini untuk memiliki anak. Namun, surrogacy tidak selalu diterima dengan mudah di berbagai negara. Di beberapa tempat, metode ini dianggap kontroversial dan bahkan ilegal karena memunculkan isu-isu etika dan hukum terkait hak-hak ibu pengganti dan hak-hak anak yang dilahirkan.
Ada berbagai alasan mengapa pasangan, termasuk Priyanka dan Nick, memilih surrogacy sebagai jalan untuk memiliki anak. Salah satu alasan utama adalah masalah kesehatan. Beberapa wanita mungkin memiliki kondisi medis yang membuat kehamilan terlalu berisiko, seperti gangguan jantung, masalah kesuburan, atau komplikasi kehamilan sebelumnya. Dalam kasus lain, wanita yang telah melalui perawatan kanker, seperti kemoterapi, mungkin tidak lagi dapat hamil secara alami.
Selain itu, ada juga faktor-faktor pribadi yang memengaruhi keputusan menggunakan surrogacy, seperti usia. Priyanka Chopra yang saat ini berusia 40 tahun mungkin merasa bahwa surrogacy adalah cara yang paling aman dan cepat untuk mendapatkan keturunan. Faktor usia sering kali menjadi pertimbangan bagi banyak pasangan, karena peluang kehamilan secara alami menurun seiring bertambahnya usia.
Pasangan yang memiliki gaya hidup atau jadwal yang sangat sibuk juga sering memilih surrogacy. Selebriti dan pasangan yang bekerja di industri dengan tingkat mobilitas tinggi, seperti musik dan film, mungkin merasa sulit untuk menjalani proses kehamilan sembari mempertahankan karier mereka. Surrogacy memberikan solusi yang memungkinkan mereka untuk tetap memiliki anak tanpa harus menghentikan atau menunda aktivitas profesional mereka.
Proses surrogacy tidaklah instan dan memerlukan persiapan matang, baik dari segi fisik, medis, maupun hukum. Sebelum memulai surrogacy, pasangan biasanya berkonsultasi dengan dokter kesuburan untuk menentukan apakah ini adalah jalan terbaik untuk mereka. Proses ini bisa dilakukan melalui agen surrogacy, yang akan mencarikan wanita yang bersedia menjadi ibu pengganti. Ibu pengganti harus menjalani pemeriksaan medis dan psikologis untuk memastikan dia sehat dan siap menjalani proses kehamilan.
Pada tahap ini, sel telur dari ibu biologis (atau donor) akan diambil dan dibuahi dengan sperma dari ayah biologis. Embrio yang telah terbentuk kemudian ditanamkan ke rahim ibu pengganti melalui prosedur yang disebut IVF (in vitro fertilization). Setelah embrio tertanam, ibu pengganti akan menjalani kehamilan seperti biasa. Aspek hukum adalah bagian yang sangat penting dalam surrogacy. Pasangan yang akan menjadi orang tua biasanya membuat kontrak dengan ibu pengganti untuk memastikan bahwa hak-hak dan kewajiban kedua belah pihak terlindungi. Ini termasuk hak hukum atas anak yang akan lahir.
Ibu pengganti akan menjalani kehamilan selama sembilan bulan seperti biasa, dan setelah bayi lahir, hak asuh anak sepenuhnya akan diserahkan kepada pasangan yang menggunakan jasa surrogacy. Meski surrogacy menawarkan harapan bagi banyak pasangan yang ingin memiliki anak, metode ini juga sering menuai kontroversi. Beberapa orang melihat surrogacy sebagai praktik yang melibatkan eksploitasi terhadap perempuan, terutama ibu pengganti, yang mungkin berasal dari latar belakang ekonomi yang lemah. Selain itu, isu-isu hukum yang kompleks sering kali muncul terkait hak ibu pengganti dan hak orang tua biologis.
Di beberapa negara, surrogacy komersial dilarang karena dianggap tidak etis. Namun, di negara-negara lain, seperti Amerika Serikat dan India, praktik ini legal dan diatur secara ketat. Beberapa kalangan mengkritik bahwa surrogacy hanya tersedia bagi mereka yang mampu secara finansial, sehingga menciptakan kesenjangan antara mereka yang memiliki akses ke teknologi reproduksi ini dan yang tidak.
Keputusan Priyanka Chopra dan Nick Jonas untuk menggunakan metode surrogacy merupakan salah satu contoh bagaimana selebriti modern memanfaatkan kemajuan teknologi medis untuk membentuk keluarga mereka. Meskipun surrogacy masih menjadi topik yang kontroversial di berbagai belahan dunia, tidak bisa dipungkiri bahwa metode ini telah memberikan harapan baru bagi pasangan yang mengalami kesulitan memiliki anak.
Sebagai metode yang terus berkembang dan mendapatkan popularitas, surrogacy memunculkan pertanyaan tentang masa depan reproduksi dan bagaimana masyarakat global akan menghadapi tantangan-tantangan etika dan hukum yang menyertainya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI