Mohon tunggu...
Mas Wartono
Mas Wartono Mohon Tunggu... Guru - Guru Ahli Madya, Quizizz Super Trainer, Nara Sumber BPB IKM A3, Penggerak Bergema BLPT A1, Penggerak Dedikatif Komunitas Belajar, Guru Penggerak, Pengajar Praktik, Guru Inovatif, Ketua Komunitas Guru Cakap Teknologi, Analis Data SPSS, Aktor Awan Penggerak

Saya bertugas sebagai guru di daerah terpencil dipulau terluar yaitu Pulau Ndao Nuse, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Saya mengabdi sebagai pendidik sudah 19 tahun. Hobi saya adalah membaca dan mencari tantangan baru dalam dunia pendidikan. Saat ini saya lebih benyak sebagai nara sumber di berbagai kegiatan terutama yang berhubungan dengan kurikulum merdeka.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Webinar (Nasibmu) Dulu dan Sekarang

6 Desember 2024   14:10 Diperbarui: 6 Desember 2024   14:21 260
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: Flyer Webinar Komunitas (Dokumentasi Pribadi Penulis)

Webinar sebagai bagian dari transformasi digital di dunia pendidikan telah menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan kompetensi guru. Komunitas belajar daring yang terbentuk melalui webinar menawarkan kesempatan bagi guru dari berbagai daerah untuk berbagi ilmu, memperluas wawasan, dan memperoleh informasi terkini terkait pengajaran. 

Namun, keberadaan webinar menghadapi tantangan besar dengan munculnya peraturan baru yang menghapus kewajiban guru untuk mengunggah dokumen sertifikat dalam pengelolaan kinerja. Tulisan ini mengupas perubahan dinamika webinar komunitas belajar sebelum dan sesudah diberlakukannya peraturan tersebut. Fokus utamanya adalah bagaimana perubahan ini memengaruhi motivasi guru yang sekadar memburu sertifikat dibandingkan dengan mereka yang serius ingin mendapatkan ilmu.

Pendahuluan

Webinar telah menjadi metode populer untuk pelatihan dan pengembangan profesional guru di era digital. Salah satu pendorong utama partisipasi guru dalam webinar selama ini adalah pemberian sertifikat yang digunakan sebagai bukti pengembangan diri dalam pengelolaan kinerja. Namun, peraturan baru yang menghapus keharusan mengunggah dokumen sertifikat dalam Sistem Penilaian Kinerja Guru (PKG) menjadi titik balik yang signifikan. Dengan kebijakan baru ini, muncul pertanyaan: apakah guru tetap termotivasi untuk mengikuti webinar, terutama komunitas belajar? Apakah fokus mereka akan bergeser dari sekadar mengejar sertifikat menuju upaya serius dalam memperoleh pengetahuan? Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui analisis ilmiah.

Webinar di Masa Lalu: Fungsi Ganda Ilmu dan Sertifikat

Peningkatan Kompetensi Guru

Webinar dulu menjadi medium strategis dalam peningkatan kapasitas guru. Dengan kemudahan akses, guru dapat mengikuti pelatihan dari mana saja. Webinar juga sering kali dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik, seperti strategi pembelajaran, inovasi teknologi pendidikan, atau manajemen kelas inklusif. Namun, di balik dampak positifnya, motivasi banyak guru mengikuti webinar lebih sering dipengaruhi oleh sertifikat yang diperoleh. Sertifikat ini diperlukan untuk memenuhi kewajiban administratif, seperti kenaikan pangkat atau penilaian kinerja. Dalam beberapa kasus, guru hanya hadir secara pasif untuk memenuhi syarat mendapatkan sertifikat.

Fenomena Pemburu Sertifikat

Fenomena "pemburu sertifikat" menjadi salah satu sisi gelap dari popularitas webinar. Guru yang terlibat dalam pola ini hanya memprioritaskan kehadiran formal tanpa niat untuk benar-benar belajar. Sertifikat menjadi tujuan akhir, bukan ilmu atau penerapan praktik yang diharapkan. Di sisi lain, guru-guru yang sungguh-sungguh belajar mengeluhkan bahwa webinar sering kehilangan maknanya karena sebagian peserta hanya hadir secara simbolis.

Perubahan Kebijakan: Dampaknya pada Motivasi Guru

Peraturan baru yang menghapus kewajiban mengunggah sertifikat dalam PKG bertujuan untuk mengurangi beban administratif. Kebijakan ini juga diharapkan mendorong guru untuk lebih fokus pada pengembangan kompetensi sejati. Namun, dampaknya terhadap motivasi guru bervariasi.

Guru Pemburu Sertifikat

Bagi guru yang selama ini hanya mengejar sertifikat, perubahan kebijakan ini bisa menjadi disinsentif. Tanpa dorongan administratif, mereka mungkin kehilangan minat untuk mengikuti webinar. Akibatnya, jumlah partisipan dalam webinar komunitas belajar berpotensi menurun, terutama dari kelompok guru ini.

Guru Pemburu Ilmu

Sebaliknya, bagi guru yang berorientasi pada pembelajaran, kebijakan ini memberikan ruang untuk fokus pada esensi webinar. Tanpa tekanan administratif, mereka dapat belajar dengan lebih mendalam dan menerapkan ilmu yang didapat dalam praktik mengajar. Kebijakan ini juga membuka peluang untuk menciptakan komunitas belajar yang lebih bermakna, di mana partisipasi didasarkan pada niat tulus untuk berkembang.

Webinar Sebagai Media Belajar Bermakna

Untuk memastikan webinar tetap relevan dan diminati, terutama setelah perubahan kebijakan, beberapa langkah strategis dapat diambil:

  • Menyesuaikan Topik dengan Kebutuhan Lapangan: Penyelenggara webinar perlu melakukan survei atau analisis kebutuhan untuk menentukan topik yang relevan. Webinar yang berfokus pada solusi praktis, seperti pembelajaran berbasis proyek, strategi literasi, atau teknologi pendidikan, akan lebih menarik bagi guru.
  • Membuat Webinar Lebih Interaktif: Webinar yang bersifat interaktif, dengan diskusi, studi kasus, atau simulasi, akan meningkatkan keterlibatan peserta. Guru yang aktif terlibat dalam proses belajar lebih cenderung mendapatkan manfaat yang bermakna.
  • Mendorong Pembentukan Komunitas Belajar: Webinar dapat menjadi awal terbentuknya komunitas belajar yang berkelanjutan. Komunitas ini memungkinkan guru untuk terus berbagi pengalaman, belajar dari satu sama lain, dan mendukung pengembangan profesional yang berkesinambungan.
  • Memberikan Pengakuan Non-Sertifikat: Meskipun sertifikat tidak lagi diwajibkan, penyelenggara dapat memberikan pengakuan non-formal, seperti poin pengembangan diri atau penghargaan simbolis, untuk memotivasi partisipasi.

Motivasi dan Pembelajaran Guru

Menurut penulis individu akan lebih termotivasi ketika kebutuhan mendasarnya terpenuhi. Dalam konteks guru, kebutuhan administratif (sertifikat) adalah motivasi dasar. Namun, ketika kebutuhan ini tidak lagi menjadi prioritas, motivasi intrinsik, seperti keinginan untuk belajar dan berkembang, menjadi lebih dominan. Webinar yang esensinya adalah untuk meningkatkan pengetahuan guru untuk di bawa ke kelas pembelajaran menjadi suatu yang akan tetap di rindukan oleh guru, asalkan webinar benar-benar memenuhi kebutuhan guru. Guru yang berpartisipasi aktif dalam webinar komunitas belajar tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga merasa menjadi bagian dari kelompok yang saling mendukung. Hal ini memperkuat motivasi mereka untuk terus belajar.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Perubahan kebijakan yang menghapus kewajiban mengunggah sertifikat dalam PKG membawa dampak yang kompleks terhadap nasib webinar komunitas belajar. Bagi guru yang hanya memburu sertifikat, kebijakan ini mungkin mengurangi minat mereka untuk mengikuti webinar. Namun, bagi guru yang serius belajar, kebijakan ini memberikan peluang untuk fokus pada esensi pembelajaran. Untuk memastikan keberlanjutan webinar sebagai medium pengembangan profesional, diperlukan upaya kolaboratif dari penyelenggara, pemangku kebijakan, dan guru itu sendiri. Webinar harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan nyata di lapangan, melibatkan peserta secara aktif, dan mendorong pembentukan komunitas belajar yang bermakna. Dengan demikian, webinar dapat terus menjadi sarana efektif dalam mendukung pengembangan kompetensi guru, tidak hanya sebagai formalitas administratif, tetapi sebagai ruang belajar yang penuh inspirasi dan berdampak nyata.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun