Kualitas postingan sangat berpengaruh terhadap jumlah orang atau netizen yang membaca, melihat, atau memberi like. Jika postingan itu tidak atau kurang berkualitas, mengurangi jumlah netizen yang melihat, membaca, memberi like, atau memberikan rating.Â
Begitupun sebaliknya. Bahkan, jika bersifat tidak orisinal, jiplakan, atau berbau sara, Â konten tersebut tidak dipublikasikan (masuk kotak); pemiliknya mendapat "surat cinta" dari admin, atau ia harus berurusan dengan hukum.
Postingan atau konten tidak lain adalah duplikasi kenyataan yang diramu atau digarap sedemikian rupa sehingga menarik untuk dibaca, dilihat, atau ditonton.Â
***
Memainkan Tarian adalah Kebijakan dalam Memosting
Seorang penari selalu berusaha tampil di atas pentas dengan tarian yang memukau penonton. Ia bangga, puas, tersanjung, bahkan bahagia apabila mendapat pujian, applause dari penonton. Apalagi tampil sebagai pemenang bila itu adalah suatu perlombaan.Â
Begitu juga dalam bermedia sosial. Setiap kita bebas memosting atau men-share konten kita ke media sosial. Tapi kita juga hendaknya memosting konten-konten dengan bijak agar tidak tersandung masalah yang merugikan diri sendiri.
Inilah cara saya memainkan tarian-tarianku.
#1 Meneliti teknis penulisan konten.
Sebelum dipublikasikan, saya membaca dengan teliti konten untuk menilai struktur, isi dan bahasa tulisan.
 Strukturnya haruslah sistematis, yaitu pendahuluan yang berisi latar belakang pemilihan judul. Isinya yang logis, argumentatif (disertai bukti, fakta atau pendapat orang lain sebagai pendukung), serta bagian penutup berupa kesimpulan yang menegaskan kembali bagian isi, atau berupa harapan bagi pembaca. Bahasanya yang efektif, kalimat yang pendek dan ringan untuk dibaca.