Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - biasa saja htttps://susyharyawan.com eLwine

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Gadget Pilihan

Blokade Games Online

4 Maret 2021   21:16 Diperbarui: 4 Maret 2021   21:19 221
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Blokade Games Online

Sore tadi, seorang rekan membuat status media sosial, permintaan pembekuan atau pemblokadean  games online. Alasannya karena anak susah untuk melakukan aktivitas lain. saya ikut berkomentar, itu sih ketidakberdayaan orang tua yang kemudian dibebankan pada negara. Tentu saja asumsi yang bisa melakukan pemblokadean adalah pemerintah.

Patut kita cermati bersama, bagaimana anak bisa kecanduan dan bahkan sudah ketergantungan pada gadgt, smartphone, atau media sejenis, dengan dalih games online. Apakah gamesnya yang salah dan kemudian minta dilakukan pembekuan?

Apapun di dunia ini sejatinya netral. Semua hanya sarana, hiburan, pelajaran, atau apapu n tujuan dasarnya. Memang ada ekonomi bisnis ikut serta. Toh semua netral. Wajar, nah ada memang isu, desas-desus, kalau games, kartun di televisi, permainan fisik itu upaya pihak tertentu untuk embuat terlena, dan jauh dari dunia spiritual. Cek saja melalui media pencarian. Konspirasi melalui permainan, tontonan, dan sebagainya.

Nah lepas dari teori konspirasi ini, tanpa melibatkan adanya urusan tersebut, layak dilihat beberapa hal  sebagai berikut;

Anak yang kecanduan hape, gadget, smartphon, salah satu di dalamnya games, coba tanyakan kapan mulai memegang HP, siapa yang mengenalkan mereka?  Sangat mungkin seja dini, mungkin mulai bisa duduk sudah dipegangi HP. Siapa yang mengenalkan dan memberikannya? Orang tua jelasnya. Mana berani ART memulai demikian, atau jika ART ditegur pasti tidak akan berani.

Jelas orang tua, menjadi tertuduh pertama dan utama. Tidak ada yang lain.

Kedua, apa aktivitas utama orang tua, di rumah, atau di luar, ketika senggang, atau pertanyaan lain, seberapa sering orang tua, bermain dan berinteraksi dengan anak. Lebih banyak main, berbincang, atau bercengkerama dengan anak, atau main HP?

Ini soal contoh dan keteladanan yang sangat mudah dilihat, dicerna, dan pastinya ditiru anak. lha mosok larinya ke pemerintah. Kan naif.

Ketiga, kewibaan orang tua yang makin lemah. Ini soal kewibawaan orang tua yang makin lemah dan luntur di hadapan anak. Suka atau tidak perkembangan zaman memang mengubah segalanya. Dulu, anak hanya mendengar bapak berdehem saja sudah tahu apa maksudnya. Misalnya berhenti mainnya dan gati aktivitas yang lebih bermanfaat.

Sekarang? Orang tua ngomel satu kata, anak seribu kata melengking pula.  Kalah dalam banyak hal.

Ketiga, Mirip dengan kewibawaan, orang tua tidak lagi memiliki otoritas yang cukup terhadap anak. Anak kadang lebih galak dan bisa lebih "berkuasa" dari pada orang tua. Ini karena pembiasaan sejak dini.

Keempat, pokoknya diam, anteng, dan tidak rewel. Jelas ini sejak dini, anak dipegangin HP dan kemudian melihat aneka hiburan dan itu jelas sangat menarik bagi anak. Ketika  diambil nangis, menjerit, dan berguling. Orang tua "kalah" dan memberikan dan menuruti maunya anak.

Mekanisme ini terus dibawa sampai gede, dan usia sekolah. Merengek, ngambeg, dan orang tua luluh, dan makin tidak berdaya.

Apakah itu games, atau HP, atau gadget yang salah? Ya bukan. Semua netral, tidak bernilai baik atau buruk. Hanya karena tidak tepat penggunaannya, semua jadi berabe. Games termasuk di dalamnya. Awalnya anaknya anteng, main sendiri. Ibu bisa masak, nyuci, setrika, atau malah medsosan sendiri, leluasa. Si bapak ngopi, udud, dan main hape pula.

Nah, ketika orang tua merasa anak harusnya belajar, makan, mandi, atau juga main, tetapi masih juga asyik mainkan HP atau gadget, games online apa bisa dengan mudah dan segera bisa berubah atau berhenti? Tidak akan. Sudah ketagihan, nyandu, dan mengalahkan segalanya.

Games ataupun gadget tidak sepenuhnya salah. Pendidikan dan pendisiplinan yang lemah sejak awal.  Tabiat manusiawilah yang biasa mencari kambing hitam, enggan merasa bersalah, dan melihat atau menimpakan kesalahan pada pihak lain. Ini khas manusia.

Adam menyalahkan Hawa saat melanggar makan buah terlarang. Hawa menuding ular ketika terdesak. Manusia pertama bersikap demikian. Anak cucunya ya biasa mencari pembenar dan menuding pihak lain untuk bertanggung jawab.

Zaman memang berubah. Pola pendidikan dan pendekatan pada anak juga pasti harus berbeda. Kadang orang tua hanya model tradisional. Apa yang diajarkan orang tua dulu, dicopi pastekan pada anak-anak mereka. Ya tidak akan bisa.

Pembiasaan. Jangan salah, kalau sejak kecil sudah pegang smartphone, mana bisa nanti saat sudah lebih mandiri bisa berhenti ketika waktunya melakukan aktivitas yang lebih penting.  Perlu keseriusan di dalam membiasakan.

Kedisiplinan.  Jadwal di dalam rumah kadang tidak ada. Padahal itu juga penting. Tentu tidak perlu seperti di asrama atau sekolah. Namun waktu itu diatur kapan bermain, kapan santai, kapan belajar, berapa jam ngegame dan sebagainya.

Keteladanan. Orang tua juga melakukan hal yang sama. Jangan kemudian melarang anak asyik dengan gadget, tetpi orang tua juga main hape terus.

Komunikasi. Nah ini kadang-kadang diabaikan. Malah cenderung anak pasti salah dan kalah, dan orang tua benar dan pasti menang. Prlu diubah, menang-menang, asal bukan malah orang tua kalah.

Jangan salah dan menilai anak tidak bisa diajak omong. Sejak dini mereka sudah bisa, hanya bahasa terbatas.  Hal sangat penting namun sering diabaikan.

Terima kasih dan salam

Susy Haryawan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gadget Selengkapnya
Lihat Gadget Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun