Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - biasa saja htttps://susyharyawan.com eLwine

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kenaikan Dolar, Nasionalisme, dan Jiwa Kerdil

6 September 2018   14:19 Diperbarui: 6 September 2018   18:23 574
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Beberapa hari ini, kondisi dunia sedang ada gunjang-ganjing soal naiknya dollar terhadap mata uang di banyak negara. Beberapa negara bahkan sudah megap-megap kondisinya. Nah moment bagus, para politikus minim pretasi mengaitkan hal ini dengan kondisi bangsa. 

Malah mulai dimirip-miripkan keadaan ini dengan krisis '98. Berbagai data disajikan para ahli bahwa kondisi itu cukup jauh berbeda. Satu indikasi yaitu menguatnya dollar tidak serta merta akan sama kejadian 98.

Jadi ingat, waktu itu usai kuliah, mau masuk ke asrama, ketika mengurus segala administrasi masuk sekolah baru itu, di angkutan kota, banyak yang mengeluhkan mau membeli beras sebojok, istilah di daerah untuk kisaran delapan kilo saja susahnya minta ampun. 

Perlu diketahui desa saya dulu sentra beras dengan adanya 3-4 penggilingan gabah. Pedagang beras itu sangat banyak, membeli gabah basah atau kering kemudian diolah menjadi siap edar. 

Bayangkan, daerah beras tetangganya tidak bisa membeli beras. Semua beras ternyata tersedot ke Semarang. Hilir mudik colt L-300 dengan penuh muatan memang.  Itu kondisi 98. Kali ini, sama sekali tidak ada, mau beli beras seberapapun silakan saja.

Demi hasrat memenangkan kontestasi politik, mereka hendak menangguk untung dengan banyak trik yang seolah-olah nasionalis. Mau melepas tabungan atau simpanan mereka yang berupa dollar. 

Yakin ini mau membantu negara, atau mau mencari untung semata? Bisa dilihat rekam jejak mereka. Berapa bagian yang mereka lepas dan yang mereka tahan. Toh ini satu indikasi yang belum memberikan banyak informasi bagi hidup bersama. Namun ketika sudah melebar dengan menyebut pemerintah gagal, bisa dilihat rekam jejaknya sejak lama seperti apa.

Nasionalisme juga bisa dilihat sikapnya menghadapi hal ini, bagaimana media bisa dengan sangat sadis dan merendahkan ketika memilih kata untuk menggambarkan keadaan ini, keok, terkapar, KO, tidak berdaya, kata dan kalimat negatif demikian yang selalu dijejalkan dan diberikan kepada masyarakat. Pantas Jepang, Korea, China itu bisa maju dan bertahan di dalam berbagai keadaan. Mereka memiliki jati diri yang cukup kuat, bukan malah gila yang selalu berbau asing dan minder dengan jati diri sendiri.

Sekarang bayangkan dan renungkan saja, berapa banyak sih bangsa ini yang memiliki dolar? Wong melihat yang namanya dollar saja tidak banyak, mengapa geger? Karena elit yang ada maunya. Mereka pun mendapatkan keuntungan kog dengan tabungan mereka berbentuk dollar. Hanya saja mau membuat resah dan mengaitkan dengan rakyat akan menderita, rakyat akan tercekik, rakyat yang mana?

Lebih miris lagi itu pejabat yang kalau mau jujur hitung-hitungan gajinya dengan rupiah, besarannya jelas, kog bisa teriak-teriak menukarkan dollar? Lha dari mana mereka punya dollar? Berbicara tentu bukan yang berasal dari pengusaha, namun yang ASN atau pejabat  yang tidak berangkat dari pengusaha. Lucu dan aneh sebenarnya.

Rakyat kebanyakan itu selalu pakai rupiah, paling-paling uang asing bagi yang naik haji, pun bukan dollar. Hayo ngaku saja siapa sih yang paling punya banyak dollar? Pengusaha, yang jalan-jalan ke luar negeri, baik dinas, ataupun atas nama dinas, pejabat yang menerima suap dalam bentuk apel washington, mana ada yang makan saja di warteg namun berbicara dollar berpengaruh pada mereka?

Keadaan ini semakin panas karena kepentingan pilpres 2019, jika beberapa waktu lalu, tidak akan sepanas ini.  Pun keadaan bukan hanya Indonesia, faktor Amerika yang memberikan faktor utama.

Masalah adalah ketika data yang ada, fakta yang terjadi itu dipangkas dan disembunyi sebagian, seolah-olah keadaan sangat genting, mirip 98, negara bisa kolaps, hutang tidak terbayar, dan seterusnya dan seterusnya. Padahal banyak fakta dan indikator yang tidak mengarah ke sana. Ini yang penting, kepentingan politik yang bisa berbahaya.

Rakyat nyatanya tidak bereaksi kog, yang ramai dan ribut itu elit, dan mereka punya dollar dan kepentingan di 2019. Jika memang mirip 98, mau tidak mereka itu memangkas gaji mereka bagi negara, apalagi yang tunjangan gede-gede seperti dewan itu? Saya ragu kebiasaan mereka mark-up, nyolong, mengumpulkan, dan bagi mereka sendiri kog mau-maunya berbagi dan memangkas. Tidak ada budaya demikian.

Mereka yang teriak-teriak dollar naik ini justru orang-orang yang memiliki kesempatan untung. Harapan mereka bukan mereda laju kenaikan, malah di dalam hati, ah nanti dulu, kan masih ada waktu, untung makin gede. Jadi seolah-olah saja prihatin, padahal sebaliknya.

Sikap kerdil dan jiwa kecil, lagi dan lagi, soal mentalitas berbangsa dan bernegara yang seolah terjajah bukan rakyat bangsa merdeka. Salah satu cirinya menghujat dan menggugat tanpa memberikan alternatif solusi, yang penting memuaskan hasrat kebencian dan rasa tidak suka semata. Tidak bersama-sama untuk membantu bagaimana bisa berperan dalam negara, namun malah menyalahkan pemerintah semata-mata tanpa mau tahu kondisi global yang bisa berkaitan.

Cepat menganalisis dan menyimpulkan, tanpa mau tahu data penunjang dengan lebih komplet dan komprehensif. Sifat kanak-kanak yang wawasannya sempit dan itu malah dominan dalam diri para elit dan pejabat negeri ini.

Terima kasih dan salam

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun