Apalagi begitu tahu salah satu media sosial ternyata "kebocoran" data pribadi, kemudian ribut-ribut merasa dirugikan, dicurangi, dan seterusnya. Dewan yang biasanya seperti tidak punya waktu untuk bekerja saja langsung bereaksi keras. Seperti yang paling tahu dan mengerti banyak hal saja.
Apa yang kita bagikan dalam media sosial, ya akhirnya menjadi konsumsi publik. Jangan dikira pribadi itu benar-benar pribadi. Jelas saja ada admin yang mengendalikannya. Mereka bisa saja salah pencet, atau sengaja pencet dan jadi lebih dari dua minimal yang tahu. Belum lagi jika itu grup, langsung jamak yang bisa mengonsumsi.
Tentu tulisan ini bukan mau menghakimi, menilai lebih baik mana atau lebih buruk yang mana, namun bahwa keputusan kita bermedia, kemudian mendapatkan kerahasiaan yang tidak seperti yang diharapkan, berkaitan pula dengan keberadaan kita, untuk mendengarkan atau mau didengar secara terus menerus.
Manusia pada hakikatnya akan memiliki kecenderungan untuk selalu didengar, menjadi pusat perhatian, dan merasa yang paling, itu manusiawi. Tidak mau menjadi nomor sekian, apalagi jika tersisih. Dari sana timbulah keinginan mendomanasi, tebar pesona, dan sejenisnya. Merasa kesepian dan mudah tersinggung jika mendapatkan tanggapan yang tidak semestinya.
Dengan  mau mendengarkan, mau menjadi penikmat, dan menjadi pihak yang memahami, lebih meringankan beban pikiran. Tidak heran orang bisa menjadi begitu pemarah akhir-akhir ini, sikap iri, pengin, merasa orang lain lebih beruntung, lihat status orang jadi baper, merasa tersia-siakan tidak bisa seperti orang lain.
Sayang energi, waktu, dan hidup jika mewarnai hidup demikian. Hal-hal menarik jauh lebih banyak, jika mau sejenak bersyukur dan mewarnai hidup dengan merasa cukup.
Salam
Inspirasi: Listen Like a Dog
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H