Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - biasa saja htttps://susyharyawan.com eLwine

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Penambahan Kursi Pimpinan DPR-MPR, Politik Dagang Sapi

27 Maret 2018   12:20 Diperbarui: 27 Maret 2018   12:31 412
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Penambahan kursi pimpinan dewan dan majelis jelas mempertontonkan politik dagang sapi. Tidak heran P3 enggan menyetujui dan mau hadir. Jelas bukan soal idealisme namun iri dan pengin semata. Ditambah riuhnya "kekelirian doa" makin lengkaplah dagelan politik bangsa ini.  Kompromi beda dengan politik dagang sapi. Politik itu seni kompromi untuk menemukan titik temu, di sinilah diperlukan keulungan politikus.

Politik dagang sapi jelas gampang, semua senang, soal anggaran membengkak, dan kinerja menjadi inefesien bukan menjadi pertimbangan. Penambahan kursi berarti juga penambahan anggaran untuk para pejabat yang sejatinya tidak berguna itu.

Satu hal yang jelas untuk jangan sampai lupa adalah kejahatan politik KMP yang "merampok" jatah pimpinan dewan karena kalah pilpres. Jangan dilupakan  akar dari itu semua, ini akal-akalan bandit demokrasi yang berkedok demokratis. UU diubah demi kepentingan sesaat dan sekelompok bandit yang hauskekuasaan. Sila keempat Pancasila musyawarah mufakat bisa dirampok dengan semena-mena atas nama koalisi busuk.

Berbulan lamanya tarik ulur itu, hal memalukan yang kini hendak dilupakan, dikamuflasekan dan menyatakan diri sebagai demokratis. Bekal demokratis dengan UU baru untuk melindungi tamak dan bebal mereka, sehingga kritik mereka bisa dipidana.

Penambahan ini kan kesia-siaan, di mana unsur bagi-bagi kue untuk mendiamkan anak yang me-radang. Jelas jatah siapa diambil siapa kemudian yang berhak agar diam diberi. Logika gila yang dikemas dengan seolah-olah sahih, ya kerena penyusunnya memang seperti itu.

Tidak heran selama hampir empat tahun melahirkan pimpinan hampir masuk bui sebagai terpidana, dua pimpinan banyak omong kosong, dan dua pimpinan hanya diam saja seolah tidak ada. Produk hukum yang sedikit namun diberi rasionalisasi kinerja dewan bukan hanya produk hukum, lha nyatanya lainnya pun sama buruknya.

Kompromi vs dagang sapi

Sejatinya politik itu seni menemukan titik temu dengan kompromi, itu sahih dan sangat alamiah, menemukan titik temu dengan saling memberikan kesempatan dan memang-menang sebagai motivasinya. Jangan harap di mana demokrasi semata kedok paling mudah adalah dagang sapi, A dapat 1 B dapat 2 dan seterusnya. Tahu sama tahu yang ujungnya adalah kesengsaraan rakyat dan bangsa serta negara.

Seolah mereka berpikir rakyat tidak tahu, kan di ruang gelap, remang-remang, hukumnya pun dibuat seolah transparant padahal tidak. Ingat rakyat makin cerdas, jika kalian makin bodoh, jangan ajak-ajak. Apa yang membedakan kompromi nalar dan politk dagang sapi?

Sikap kritis jelas membedakan. Nyinyir tanpa ada tawaran solusi, pihak lain selalu salah, jelas akan mengedepankan dagang sapi. Bagi-bagi kue atau daging untuk kesenangan. Merampok jatah rakyat bukan pertimbangan. Jika kompromi tetap akan bersuara lantang bukan waton sulaya,namun memberikan alternatif. Positif juga diapreasiasi.

Rekam jejaknya. Lantang kemudian diam. Jelas kekenyangan, bukan karena kinerja membaik namun sudah kalah karena hutang budi.  Jelas nampak politik dagang sapi polanya demikian, bukan tetap kritis karena memang tugas dan kewajiban. Keras karena lapar minta perhatian. Begitu kenyang duduk diam dan ngantuk.

Kinerja rendah karena tidak ada daya saing dan usaha keras untuk mencapai prestasi. Mengapa harus susah payah, jika enak-enakan saja dapat uperti kog. Prestasi bukan menjadi tujuan, namun beban yang akan bisa dirasionalisasi dengan berbagai hal yang sebenarnya memalukan.

Hadiah dan hukuman tidak pernah berlaku. Dewan itu pun parpol sebusuk apapun tidak pernah mendapatkan hukuman. Hadiah terus, malah, buruk, bahkan busuk sekalipun dapat terus reward,kapan berubah.  Tidak akan berubah jika terus demikian. Sama juga memanjakan anak kecil.

Apapun parpolnya, apapun ideologinya, jika masih demikian jangan harap bangsa ini beranjak maju. Ekonomi politik tinggi salah satu pemicu yang sangat buruk. Susah berharap dewan pun majelis berkualitas jika masih uang untuk menjadikannya, dan uang juga tujuannya.

Makin liar, makin kasar, dan makin tidak tahu malu untuk berebut kue yang ada. Jangan kaget jika anggaran ini menguap, anggaran itu hilang, dan jembatan putas putus terus. Jalan berlobang seminggu jebol lagi, ya karena anggaran sudah banyak yang dimaling daripada dibuat membangun.

Susah jika mental tidak diubah. Mental priyayi yang selalu menerima bakti dari abdinya. Rakyat itu penguasanya, dan diwakili oleh dewan, lha ini malah mewakili sejahteranya, mewakili malasnya, mewakili tamaknya. Jangan heran kalau rakyat marah dan ada amok karena kinerja buruk kalian.

Almarhum Gus Dur mengatakan kalian TK,  ini malah lebih rendah PG, di mana minta disuapin, minta dimandikan, minta semua demi kalian, sekalipun tidak ada kontribusi bagi bangsa dan negara. Tidak semua, tapi dominan.

Empat tahun tanpa prestasi, presensi penuh kursi kosong, masih juga jadi gaya  kinerja yang sama kog. Kapan kalian berubah? Apalagi naik kelas kapan kuliah, kalau gak naik-naik, malah mlorot?

Salam  

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun