24 agustus 2011 pk. 00:05 Tepat di 3 hari menuju kemenangan, dinaungi cahaya seribu bulan setiap kata dan kalimat dari tulisan ini lahir. Bagi orang Jawa perayaan Idul Fitri akrab dikatakan lebaran. Lebaran sendiri mengandung arti lebaring ati leburing budi (melebarkan hati, menyatukan budi). Hati mewakili perasaan dan emosi yang sebulan penuh kita kendalikan. Budi sebagai alat batin yang merupakan panduan akal untuk menimbang baik dan buruk. kendalikan badan, kendalikan pikiran Sebulan penuh mengendalikan raga menyangkal segala kebiasaan dengan mengatur ritme hidup dengan sahur-berpuasa-berbuka menjadikan pikiran dab perasaan bergaya hidup baru. Ya...mekanisme fikik menjadi media untuk mengontrol jiwa. Sadar atau tidak kewajiban ini memberikan pelajaran tidak hanya prinsip dan ajaran yang menjadi konsumsi jiwa namun juga menjadi pelajaran bagi tubuh kita. Perut terbiasa menerima makanan dan minuman apapun yang dimasukkan oleh mulut. Mulut memakan apapun yang ingin dirasakan oleh segala keinginan dan nafsu kita. Dengan mekanisme baru yaitu bernama puasa dengan mekanisme kendali makan dan minum maka tubuh dikenalkan gaya baru. Konsumsi yang terkendali. Kendali di luar makan dan minum bertujuan untuk mengendalikan berbagai keinginan konsumtif yang rasakan tubuh lewat perasan seperti kendali berpakaian glamor, kendali ber-perhiasan norak, dan kendali bergaya hidup tak terbatas. Sadar atau tidak di akhir puasa menjelang Idul Fitri, tubuh telah terbiasa menerima segala yang dikendalikan oleh rasa, akal dan budi. Penguasaan pada tubuh oleh rasa, akal dan budi yang terkendali akan memberikan daya hidup yang melebihi batas, yaitu lebaring ati dan menyatunya segala akal budi dalam satu keinginan yaitu kesucian diri. Hidup baru. so...bila Idul Fitri tiba dan bulan purnama berlalu, satu hal yang perlu kita ingat bahwa perubahan diri itu harus terjadi. Lebur Budi!!! maem ketupat ngganggeh santan, segala kalepatan kulo nyuwun pangampunten! (Kepada para penguasa, pejabat publik dan para pengusaha. Ketika puasa, ramadhan dan idul fitri mengingatkanmu menjadi orang bajik, bijak dalam sebulan. Katakan pada dunia apa yang mampu mengingatkanmu dalam bulan bulan selanjutnya sehingga kejujuran, keadilan dan kebijaksanaan itu menjadi milikmu)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H