Setelah acara bersih-bersih raga, kami pun mencari santap malam ke kedai makan tak jauh dari penginapan. Makan malam kami tak sulit, kami mencoba menyantap Lawar, penganan khas Sabu yang terbuat dari rumput laut, cuka, cabai, bawang merah dan ikan kecil. Lawar, biasa disantap dengan nasi, atau disantap begitu saja tanpa nasi. Tapi dengan nasilah. Masalahnya, saya dan Ricky sudah capek menghabiskan waktu seharian menjelajah tiga perempat bagian pulau Sabu. Dan Lawar ternyata asyik-asyik juga. Lain kali saya akan ke pulau kecil Raijua, yi ujung terbarat pulau Sabu. Hanya itu yang belum saya lihat di Kabupaten Sabu-Raijua ini.
Syukurlah saya masih sempat beli oleh-oleh penganan kecil khas Sabu yang biasa disebut Wollapa. Jajanan kecil ini terbuat dari tepung beras dan gula merah dari lontar khas Sabu. Kata Ibu penjual, tepung beras itu dicampur gula lontar sebagai adonan. Kemudian dibentuk dan dibungkus menggunakan kulit jagung yang sudah kering, atau dibungkus daun kelapa. Kemudian dikukus hingga matang. Jajanan sedap yang dibungkus kecil-kecil seperti Jenang Kudus ini ketika itu hanya dipatok Rp 1.000 per bungkus. 100 bungkus ajalah, kataku.
Saya juga mencoba membeli Sopi Sabu sekadar 2 botol. Namanya saja mencoba. Sopi made in Sabu terbuat dari air tuak yang disadap, kemudian dimasak dalam sebuah tungku kedap udara. Uapnya yang berubah menjadi cair disuling kedalam batang bambu dan ditampung di dalam botol setelah sebelumnya dibubuhkan akar husor yang telah ditumbuk. Sopi dijual ketika itu seharga Rp 10 ribu per botol dan Rp 200 ribu per jerigen. Sopi terbaik Sabu mengandung alkohol sekitar 30%. Ngedrink banget deh, tak kalah ama Johnny Walker. He He ..
Ricky tersenyum melihatku membeli cinderamata khas Sabu itu dan Ibu si penjual segera membungkuskannya agar mudah ditenteng dalam perjalanan pulang besok ke Kupang. Bagaimana Rick, asyik kan, kataku.
Itulah catatan perjalanan ke Sabu beberapa waktu lalu. Jujur, Sabu sangat mengesankan. Itulah salah satu yang membuatku sangat mencintai Indonesia tengah, khususnya NTT dengan segala cakupan pulaunya disitu. Dan di atas segalanya aku bangga dengan negeriku Indonesia, sebuah archipelagic state dengan belasan ribu pulau di wilayah kedaulatannya.
Aku yakin kesadaran berwilayah anak bangsa di negeri ini akan semakin kuat dan kuat setelah jatuhnya Sipadan dan Ligitan, menyusul Timtim yang kini menjadi Timorleste.
Joyogrand, Malang, Tue', March 28, 2023.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H