Disini saya lihat cukup banyak beristirahat keturunan dari 12 marga yang diberikan oleh Cornelis Chastelein. Ini menunjukkan hubungan yang kuat antara Indonesia dan Belanda. Saya kira Ini adalah tempat pemakaman yang indah, ujarnya.
Lambert melihat adanya peluang untuk pengembangan kawasan Depok Lama. Disini hidup Belanda Depok, generasi ke-10 legacy Cornelis Chastelein. Ini istimewa sekali. Lambert menegaskan Depok sesungguhnya terkenal di Belanda. Ada komunitas yang namanya Depoker atau komunitas yang leluhurnya pernah tinggal dan bekerja di Depok lama sekarang. Mereka lumayan fanatik dengan kedepokannya dan anytime siap berkunjung kesini.Â
Perlu diketahui orang Belanda itu sangat menghargai bangunan-bangunan tempo doeloe yang berhubungan dengan masa pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia. Maka kami tertarik dengan apa yang ada dan terjadi disini. Kami sangat menghargai bagaimana pihak Pemkot Depok mau menatanya sebagai kawasan heritage atau warisan sejarah, demikian Lambert kepada para wartawan di Depok Lama.
Kunjungan Dubes Belanda itu rupanya berhubungan dengan diskusi hangat terkait rencana Penataan Kawasan Depok Heritage di Depok Bolanda yang dalam hal ini merupakan kerjasama antara Pemkot Depok dan Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Konservasi atau Likuidasi
Menarik memang kunjungan Dubes Belanda itu, sayang ia lebih hanyut kepada jejak sejarah berupa bangunan-bangunan tempo doeloe, termasuk jembatan Panus karya Stevanus Leander. Cagar alam Chastelein yang punya nama besar dalam sejarah itu pun terlupakan begitu saja. Hebatnya tak satu pun wartawan yang sempat bertanya tentang itu, meski hingar bingar konferensi iklim dunia di Glasgow, UK, belum berlalu dari ruang publik.
Kita hanya bisa berandai-andai di akhir tulisan ini, kalaupun Cagar Alam itu serius akan dilestarikan, bisakah Pemerintah mengembalikan 4 Ha tanah legacy Chastelein yang dalam perjalanan waktu disempal oleh para penjarah tanah legacy Chastelein. Atau Cagar Alam Chastelein dibiarkan ending begitu saja apabila kepentingan ekonomi-bisnis semakin bersikukuh untuk melikuidasinya.
Pilihan yang sangat dilematis wahai Kaoem Depok.
Depok Bolanda, Sat', Nov' 27, 2021.