Deru mesin KM Kelud perlahan senyap. Dari sisi kanan kapal, ada pemandangan tak biasa: sebuah kapal nangkring di antara dua gedung tinggi. Kok bisa?
Oh ternyata, itu Marina Bay, ikon khas negeri tetangga, Singapura. Di kiri-kanan dan belakang kapal nangkring itu juga terlihat jelas jejeran gedung pencakar langit. Plus pesawat udara yang tampak baru saja mengudara.
Saya berandai nahkoda kapal berbelok ke arah sana, mempersilakan penumpang turun sejenak, sejenak ber-selfiria di tanah Singa. Paling-paling kena nota keras diplomatik, kan? Sesekali kita usil ke negeri kecil itu kan tak mengapa.
KM Kelud yang dalam posisi mati mesin itu pun digiring kapal pandu, ditarik perlahan-lahan hingga sisi kiri kapal menyentuh tepian dermaga. Kapal pun sandar dengan sempurna.
Pasukan porter dengan seragam dominan merah dan kuning, tampak siap siaga. 1,2,3 mereka berteriak serentak saat mengaitkan tangga ke pintu bawah kapal yang telah dibuka. Begitu tangga telah menyatu dengan kapal, pasukan porter itu langsung berlari menyerbu ke bagian dalam kapal.
Sampai di sini, Anda pasti sudah paham kenapa mereka berebut masuk ke kapal. Apa lagi kalau bukan mencari nafkah lewat jasa panggul barang-barang penumpang.
Bah...kenapa pula ini? Bukan satu-dua, tetapi hampir semua porter itu bersuku Batak (Toba). Kok tahu? Tak lain karena sesama mereka berkomunikasi dengan bahasa Batak, yang tentunya saya pahami dengan baik dan benar. Bukan main, serasa saya berlabuh di kampung sendiri.
Mobil pengangkut air bersih untuk persediaan KM Kelud juga "dikuasai" orang Batak. Kalau tak salah hitung, terdapat 3 atau 4 truk air bersih yang di bagian kaca depannya tertulis: Putra Nababan.
Busyet, ini milik Putra Nababan yang baru lolos sebagai anggota DPR itu bukan ya? Entahlah, mungkin ya mungkin tidak. Yang pasti, pemilik truk itu sudah pasti bermarga Nababan. Mustahil milik marga Pardosi. Mungkin suatu saat nanti. Amin...!