Mohon tunggu...
llma Ranjani Wijaya
llma Ranjani Wijaya Mohon Tunggu... Dokter - FKUI 2019

kelompok 12

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Esai Isu Kedokteran (Penerapan Diet Keto)

19 Agustus 2019   19:43 Diperbarui: 19 Agustus 2019   20:29 84
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mayoritas masyarakat dari generasi-generasi sebelumnya percaya bahwa sering mengkonsumsi makanan dengan kadar lemak tinggi akan dengan pasti menambah berat badan. 

Namun, beberapa tahun yang lalu mulai muncul suatu diet penurun berat badan yang bahkan menganjurkan konsumen untuk mengkonsumi lemak dengan jumlah sangat banyak, dan menjadi tren yang sangat populer antara pejuang diet, yaitu diet ketogenik. Diet ketogenik, kerap dipanggil keto, adalah diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak yang menjanjikan banyak manfaat kesehatan.

Diet keto bertujuan untuk mengalihkan bahan bakar energi yang digunakan oleh tubuh konsumen. Proses ini melibatkan mengurangi asupan karbohidrat secara drastis dan menggantikannya dengan lemak. Pengurangan karbohidrat ini membuat tubuh dalam keadaan metabolisme konstan yang disebut ketosis. 

Di saat tubuh lebih umumnya mengandalkan gula (glukosa) yang berasal dari karbohidrat (seperti biji-bijian, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan), diet keto bergantung pada tubuh keton, sejenis bahan bakar yang diproduksi hati dari lemak yang disimpan. 

(1) Membakar lemak dianggap cara yang ideal untuk menurunkan berat badan serta menyesuaikan bentuk tubuh. Akan tetapi, membulatkan tekad untuk membentuk tubuh keton bisa dianggap sulit karena menuntut berbagai ketentuan. 

Pertama dan yang paling utama, diet keto menghilangkan satu kelompok makanan utama, yakni karbohidrat, hingga kurang dari 20 hingga 50 gram karbohidrat per hari, sekitar satu buah pisang. 

Kedua, biasanya diperlukan beberapa hari untuk mencapai keadaan ketosis, sehingga diet tegas tersebut harus dipertahankan untuk waktu lama. 

Ketiga, makan terlalu banyak protein dapat mengganggu ketosis, sehingga satu kelompok makanan lainnya juga harus dikurangkan. Satu hal yang membuat diet keto mudah dilaksanakan banyak orang adalah karena hanya kadar dan bukan porsi makan yang diubah, sehingga konsumen tidak lagi harus menghitung kalori.

Namun, jika dilaksanakan dengan benar, terdapat banyak bukti bahwa diet keto dapat dianggap efektif. Masyarakat umum menyetujui bahwa menghasilkan penurunan berat badan yang signifikan dan dapat berdampak besar dalam mengurangi obesitas. 

Sebab mengurangi karbohidrat secara drastis juga dapat membantu menstabilkan kadar gula darah dan meminimalkan kebutuhan akan insulin, karena ada lebih sedikit insiden lonjakan gula darah dengan lebih sedikit karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh. Kadar insulin yang rendah dan kadar keton yang tinggi adalah dua alasan paling utama diet keto memiliki banyak sekali manfaat kesehatan. (3)

Diet ketogenik sebenarnya dimulai sebagai alat untuk mengobati penyakit neurologis, seperti epilepsi, Alzheimer's disease, dan Parkinson's disease dengan memperlambat perkembangannya dan meminimalisir gejalanya. (4) 

Namun banyak sekali riset yang mendukung teori bahwa diet keto memiliki manfaat kesehatan lainnya yang sangat beragam. Manfaat kesehatan paling tampak bagi penderita diabetes, pra-diabetes, dan sindrom metabolik yang memerlukan penurunan lemak dan peningkatan insulin. (5) 

Selain itu, diet ketogenik juga sangat mempengaruhi penyakit jantung karena mengurangi faktor-faktor risiko seperti lemak tubuh, kadar kolesterol HDL, tekanan darah dan gula darah, serta kanker, karena memperlambat pertumbuhan tumor. (6) Dalam skala yang lebih kecil, diet keto juga dapat memiliki efek yang berlimpah, seperti terhadap jerawat, yang akan berkurang seiring berkurangnya makanan bergula dan insulin. (7)

Seperti halnya diet-diet lainnya, diet keto juga memiliki beberapa efek samping yang negatif, terutama di awal pelaksanaan. Beberapa dokter memutuskan bahwa ini memiliki banyak sebab, yaitu pemotongan gula dan karbohidrat yang mendadak, perubahan pada bakteri usus atau reaksi sistem kekebalan tubuh. 

Efek samping tersebut adalah kelelahan, kabut otak, iritabilitas, sembelit, susah tidur, mual, kram otot, bau mulut, dan lain-lain. Untuk mengatasi ini, disarankan bagi konsumen untuk mengurangi karbohidrat secara perlahan, serta mensuplemen diet dengan mineral untuk menstabilkan perubahan kimia tubuh. 

Jika konsumen memiliki diabetes yang tidak terkontrol, ketosis dapat berbahaya ketika keton menumpuk. Kadar tinggi menyebabkan dehidrasi dan mengubah keseimbangan kimiawi darah, yang menjadi asam dan dapat menyebabkan koma atau kematian. (2)

Walau efek pada berat badan dan manfaat kesehatan dari diet ketogenik tidak bisa diragukan lagi, diet tersebut tidak bisa direkomendasikan kepada semua orang karena memiliki pengaturan yang tegas dan berbagai efek samping. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa efektifitasnya tergantung pada banyak faktor. 

Diet ketogenik sangat bagus untuk orang yang kelebihan berat badan, diabetes, atau ingin meningkatkan kesehatan metabolisme, namun kurang cocok untuk atlet elit atau mereka yang ingin menambah otot atau berat dalam jumlah besar. Seperti halnya diet apa pun, keberhasilan hanya akan tercapai jika konsisten dalam jangka panjang, serta dengan mengkonsultasi dokter terlebih dahulu.

Referensi:

(1) Freeman Freeman JM, Kossoff EH, Hartman AL. The ketogenic diet: one decade later [Internet]. Nutr Metab. 2007 Mar [cited 18 Aug 2019];119(3):535-43. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17332207

(2) Harvard Publishing. Should you try the keto diet? - Harvard Health [Internet]. Harvard Health. 2018 Oct [updated 2019; cited 18 Aug 2019]. Available from: https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/should-you-try-the-keto-diet  

(3) Lennerz BS, Barton A, Bernstein RK, Dikeman RD, Diulus C6 Hallberg S, et al. Management of type 1 diabetes with a very low-carbohydrate diet [Internet]. Pediatrics. 2018 Jun [cited 2019 Aug 18]; 141(6). Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29735574

(4)Gasier M, Rogawski MA, Hartman AL. Neuroprotective and disease-modifying effects of the ketogenic diet [Internet]. HHS Author Manuscripts. 2006 Sep [cited 2019 Aug 18]; 17(5-6): 431-439. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2367001/

(5) Hession M1, Rolland C, Kulkarni U, Wise A, Broom J. Systematic review of randomized controlled trials of low-carbohydrate vs. low-fat/low-calorie diets in the management of obesity and its comorbidities [Internet]. Obes Rev. 2009 Jan [cited 2019 Aug 18]; 10(1):36-50. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18700873

(6)Zhou W, Mukherjee P, Kiebish MA, Markis WT, Mantis JG, Seyfried TN. The calorically restricted ketogenic diet, an effective alternative therapy for malignant brain cancer. Nutr Metab. 2007 Feb 21 [cited 2019 Aug 18]; 4:5. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1819381/

(7)Paoli A, Grimaldi K, Toniolo L, Canato M, Bianco A, Fratter A. Nutrition and acne: therapeutic potential of ketogenic diets. Skin Pharmacol Physiol. 2012 Feb 11 [cited 2019 Aug 18]; 25(3):111-7. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22327146

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun