Cinta Berlabuh Pada Yang Seharusnya
Oleh : Didi Eko Ristanto
Diantara hal yang menggelisahkan hati adalah ketidakmampuan hati untuk mencintai Allah subhanahu wa ta'ala dan mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Padahal cinta ini adalah bukti nyata dari keimanan bahkan Rasulullah sendiri secara tegas dan jelas mengatakan bahwasanya tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai aku dia cintai melebihi cintanya pada orang tuanya, pada anak-anaknya dan pada seluruh manusia.
 Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia".
Tapi sejujurnya hati ini dan siapapun silakan memeriksa hatinya apakah kita mencintai Allah dan rasulNya? apakah ada cinta pada Allah dan rasulNya di hati kita? kalau kita mengaku mencintai Allah dan rasulnya tentu cinta itu punya tanda dan bukti.
Masih ingatkah kita waktu dahulu kita masih remaja, pertama kali ada rasa suka atau rasa cinta pada lawan jenis. Perhatikan gerak-gerik hati kita, berdebar-debar, canggung, malu, gelisah, gembira dan teringat terus padanya. Bila ada yang menyebut nama orang yang kita cintai itu, kita menjadi salah tingkah, histeris, antusias dan menjadi gembira.
Karena tanda cinta itu ya seperti itu. Selalu mengingat, menyebut, membayangkan, mengidolakan, memuliakan, memuji dan selalu berusaha menyenangkan orang yang dicintai. Selalu berusaha tampak menyenangkan di hadapan orang yang dicintai. Baik dalam penampilan maupun sikap. Bila ada hal kecil yang salah, kita buru-buru minta maaf karena khawatir melukai yang kita cintai itu.
Tanda cinta juga berdebar-debar mengingat namanya. Mengikuti dan menuruti apapun yang diminta dan disuruh oleh orang yang kita cintai. Seakan-akan tertutup mata, akal, hati, pendengaran untuk orang lain karena hanya tertuju pada orang yang kita cintai.
Mau tidur, bangun tidur, mau makan, saat makan dan kemanapun aktivitas siang dan malam, pagi dan sore yang terbayang, yang teringat, yang terdebar di dalam hati adalah orang yang kita cintai. Melihat apapun dan mendengar apapun yang tergambar orang yang kita cintai. Tidak jarang tidur pun mimpi bertemu dengannya.
Sungguh menggelisahkan bahwa perasaan seperti itu belum ada untuk Allah dan rasulNya. Padahal tanah kubur sudah semakin dekat. Ajal bisa jadi sudah di depan mata. Malaikat maut bisa menyambar nyawa kita kapan saja bila Allah telah memerintahkannya dan bila catatan takdir kita sudah sampai ujungnya.
Sungguh menakutkan bahwasanya bila kita nanti mati dalam keadaan belum punya perasaan cinta kepada Allah dan rasulNya. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memperingatkan bahwasanya setiap orang itu akan bersama dengan yang dia cintai. Â Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berpesan :
Â
"Engkau akan bersama orang yang Engkau cintai"
Jujurlah, siapa yang kita cintai saat ini? apakah Allah dan rasulNya? ataukah politikus, atlit sepak bola atau penyanyi, ataukah selebriti atau siapapun yang itu adalah bukan Allah dan rasulNya? maka kita harus kritisi hati ini agar ditujukan cinta ini kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan minta kepada Allah agar Allah memberi kita cinta padaNya, pada Rasulnya dan pada amal yang bisa mengantarkan kita pada cintaNya.
 Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kecintaan-Mu, dan kecintaan orang yang mencintai-Mu, serta amalan yang menyampaikanku kepada kecintaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan-Mu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku serta air dingin.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H