Padahal alangkah baiknya jika Presiden SBY membuat buku kolaborasi bersama Ibu Negara. SBY dapat menulis kehidupan rakyat dengan sangat dekat dan Ibu Ani dapat menambahkan dengan foto berkualitas. Barangkali tidak perlu tulisan sistematis, cukup kumpulan esai pendek dengan setiapnya didukung foto karya ibu negara. Dan pasti "Selalu Ada Pilihan" tema. Banjir, letusan Sinabung, harga sembako yang meroket, kesehatan, kemacetan, premanisme dan kriminal, korupsi dan masih banyak yang lain.
Sungguh beruntung memiliki bakat menulis cemerlang seperti Pak SBY dan memotret seperti Ibu Ani. Bakat yang juga ditopang kemampuan untuk memenuhi fasilitas. Mungkin mendiang Ibu Fatmawati akan berkolaborasi dengan Bung Karno dalam buku "Di Bawah Bendera Revolusi" jika beliau punya keterampilan memotret. Sayangnya ia hanya memiliki keahlian "menjahit". Mungkin juga Ibu Tien akan memotret para penderita kanker di seluruh pelosok Indonesia sebelum mencetuskan ide pembangunan Dharmais, dan membuat antologi esai-foto bersama suaminya. Tetapi sayang sekali keduanya "bodoh" dalam hal itu.
Akan tetapi SBY-Ani memiliki kecakapan untuk mengangkat realitas. Bukan dari sudut pandang seorang politikus hebat, melainkan cara pandang seorang pemimpin negara sekaligus seniman penulis dan fotografer. Betapa baik apabila itu dilakukan, pasti akan sangat berdampak bagi rakyat Indonesia. Dan keserasian langka seperti SBY-Ani sangat memprihatinkan jika tidak dimanfaatkan untuk tujuan yang mulia.
(Penulis adalah pelajar hukum, penulis buku Pasca Kematian Paman Gober dan seorang wedding planner)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H