Bukan karena tidak adanya opsi pekerjaan lain sehingga nelayan tersebut harus memilih berjudi nasib di tengah ganasnya lautan, sekali lagi bukan, saya sangat memahaminya sebab saya sendiri berasal dari keluarga nelayan.
Ada banyak alasan ideologis yang mempengaruhinya, salah satunya; karena dengan menjadi nelayan berarti berbakti kepaa lautan, Tuhan melalui lautan memberikan anugrah-Nya untuk manusia sehingga manusia bisa hidup dalam menghamba pada-Nya, lautan juga dengan difungsikannya seperti itu bagian dari proses amalannya kepada Tuhan.
Bukan seperti pejabat-pejabat yang di sana, yang tahunya hanya mensahkan proyek investasi yang mengeksplotasi alam dan lautan, tidak terjun langsung untuk berbakti kepadanya.
Gambaran pada foto di atas, saya kira hanyalah salah satu potret bahwa di luar wilayah-wilayah Indonesia, yang belum terpublikasi media, masih banyak orang-orang hebat, orang-orang baik, dan orang-orang pekerja keras.
Yang hidup sederhana tanpa keluh kesah, harmonis dan bahagia dengan apa yang telah disediakan alamnya. Bukan saling menipu antar sesama.
***
SahyulPahmi
*tulisan ini telah dipublikasikan sebelumnya di web pribadi saya, sahyulpahmi.blog
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H