Saya teringat ketika SD, kita sering disuruh praktik menanam pohon, bunga, tanaman obat, hingga tumbuhan hias bermaslahat lainnya. Dan saat menonton sepulang sekolah, kita seringkali melihat iklan masyarakat berupa menanam 1.000 hingga sejuta pohon. Sejatinya itu sangatlah bagus dalam mewujudkan ketentraman dan harmoni di negara ini.
Tapi, sekarang berita yang kita lihat dan baca itu lain. Yang tampak malah penebangan pohon secara liar, pembakaran hutan untuk membuka lahan, hingga penumpukan sampah diseluruh penjuru negeri. Pertanyaannya? Apakah nilai IPS pada rapor SD mereka para pelaku dahulu merah? Setelah diperiksa, ternyata tidak merah alias naik kelas. Huuuffh
Lagi-lagi kembali kepada hati kita masing-masing. Percuma banyak motto sayangi hutan, percuma banyak teriak cinta alam, dan percuma berdebat dalam forum serta berkoar menyalahan "aku", Â "dia" dan "mereka", jika hatinya tidak ngeh.
Jika hati sudah tersentuh, rasanya membakar sampah daun saja kita sudah berpikir dua kali. Jikapun mau membakarnya, pastilah kita tunggu sampai api itu benar-benar padam dan tidak menimbulkan jerebu. Jangan bosan untuk buat snap dan berteriak "cegahlah selagi mampu" untuk kebakaran hutan.
Mitigasi Bencana
Dalam modul pengintegrasian pengurangan risiko kebakaran, mitigasi adalah serangkaian upaya mengurangi risiko bencana. Baik struktural maupun non-struktural, berupa pembangunan fisik maupun non-fisik. Pembangunan fisik mengarah pada unsur-unsur material, sedangkan non-fisik mengarah pada peningkatan kualitas SDM dalam menghadapi bencana.
Upaya mitigasi bencana kebakaran hutan dalam bentuk fisik dapat berupa pemasangan alarm kebakaran, pemetaan wilayah rawan kebakaran, pendeteksi kebakaran hutan, menjauhkan segala sesuatu yang mudah terbakar, hingga pemasangan instalasi listrik yang profesional.
Sedangkan aspek non-fisik dapat berupa sosialisasi tanggap bencana kebakaran, cara memadamkan api, hingga membina relawan kebakaran hutan. Karena mitigasi adalah sebuah sistem, maka akar sistem haruslah cepat tanggap, cepat peduli, serta cepat menyerap pupuk-pupuk terbaik agar berbuah keselamatan alam.
Semakin banyak aspek fisik yang dibangun, semakin berkurang ancaman resiko dan kerentanan. Semakin banyak upaya non-fisik yang dilaksanakan, semakin meningkat pula kapasitas manusia dalam menghadapi bencana kebakaran hutan. Jadi, tidak melulu berulang setiap tahun begini-begini saja.
Kesiapsiagaan
Siap siaga mengandung makna pengorganisasian yang tepat guna dan berdaya guna. Untuk menghadapi bencana kebakaran hutan, dibutuhkan serangkaian upaya antisipasi bencana yang dapat mengurangi dampak, kerugian, hingga korban jiwa. Alangkah mirisnya jika bencana yang sejatinya dapat dicegah dan dihindari malah mendatangkan korban jiwa. Itu kelalaian!