Mohon tunggu...
Yulius Roma Patandean
Yulius Roma Patandean Mohon Tunggu... Nomine Best in Citizen Journalism Kompasiana Award 2024 - I am proud to be an educator

Nomine Best in Citizen Journalism Kompasiana Award 2024. Guru dan Penulis Buku, menyukai informasi seputar olahraga, perjalanan, pertanian, kuliner, budaya dan teknologi.

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Jeongbang Waterfall, Ikon Air Terjun Pulau Jeju di Seogwipo

9 November 2024   05:57 Diperbarui: 10 November 2024   15:31 255
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jeongbang Waterfall di Seogwipo, Pulau Jeju. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Di sela-sela menuntaskan tugas pokok sebagai duta budaya pada program Asia-Pacific Teacher Exchange 2024, saya meluangkan waktu di akhir pekan untuk menjelajahi Pulau Jeju, Korea Selatan. 

Perjalanan ke Seogwipo membawa saya ke satu tempat paling ikonik di kota bagian timur Pulau Jeju, yaitu Jeongbang Waterfall. Ini adalah objek wisata instagramable berupa air terjun alamiah. Aliran sungai dari arah Gunung Hallasan langsung mengarah ke bibir pantai karang Laut Cina Timur.

Setelah menyaksikan sekilas sejarah Seogwipo di Seobok Exhibition Hall, saya meneruskan langkah kaki sejauh 150 meter memasuki area Jeongbang Waterfall. Di jalan ini, masih disuguhi satu lokasi menarik lagi, yakni sebuah monumen peringatan peristiwa duka ketika ada warga Seogwipo yang meninggal karena kecelakaan di air terjun Jeongbang beberapa tahun yang lalu.

Akses jalan masuk area parkir Jeongbang Waterfall bisa dilalui kendaraan kecil. Sementara bus, wajib parkir di Seobok Exhibition Hall.

Halaman parkir Jeongbang Warerfall cukup luas, meskipun berada di bibir tebing curam. Di sini tersedia beberapa kedai kuliner Korea. Dan yang selalu menjadi pusat perhatian saya adalah toilet.

Toilet di sini sangat bersih, wangi dan dilengkapi fasilitas digital. Teknologi toilet kering memang menjadi primadona di Korea Selatan.

Rimbunnya pohon pinus di sekitar area sedikit menghalangi tiupan angin laut ya g tentu saja memberikan kesejukan.

Pengunjung cukup padat saat saya tiba. Mereka berasal dari warga lokal Korea, Cina dan banyak wisatawan mancanegara.

Halaman parkir dan ticket entrance office di pintu masuk Jeongbang Waterfall. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Halaman parkir dan ticket entrance office di pintu masuk Jeongbang Waterfall. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Setelah membayar tiket masuk Jeongbang Waterfall senilai 2.000 Won (dewasa), saya langsung turun melalui ratusan anak tangga. Masih ada satu pos pengecekan tiket di pertigaan jalur keluar. Sekitar 50 meter dari ticket entrance office. 

Mulai dari anak tangga pertama turun ke area bibir pantai, mata sudah disuguhi pemandangan luar biasa. Hamparan laut biru memanjakan mata. Jauh di bawah sana terlihat ombak menghempas karang di sisi air terjun Jeongbang. 

Air terjun sendiri sudah menampakkan diri dari arah pos pengambilan tiket.

Untuk menapaki anak tangga, wajib hati-hati. Pengaman di sisi kiri sangat kokoh, tapi wajib memperhatikan anak tangga dan arah berpapasan dengan pengunjung yang keluar dari area air terjun.

View dari arah pintu masuk Jeongbang Waterfall. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
View dari arah pintu masuk Jeongbang Waterfall. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Terdapat tiga tempat berfoto di jalur turun ini. Ketiganya menawarkan pemandangan laut dan air terjun Jeongbang.

Mendekati spot utama air terjun, tersedia beberapa bangku sebagai tempat beristirahat dan berfoto. Di bebatuan karang menghadap ke laut, terdapat satu pondok nelayan di mana pengunjung bisa mencicipi langsung olahan seafood segar, seperti kerang, gurita dan ikan.

Menuju spot utama Jeongbang Waterfall, kumpulan bebatuan khas Pulau Jeju menjadi pijakan kaki. Tak ada pasir, yang ada hanya bebatuan berwarna kelabu. 

Perlu berhati-hati melangkah dari batu ke batu yang lain agar tidak terpeleset. Sesekali, semburan air terjun akan menghempas wajah dan itulah sensasinya, rasa dingin bercampur sejuknya suasana. Meskipun di bawah terik matahari, dijamin tidak akan kepanasan di sekitar air terjun.

Keindahan Jeongbang Waterfall. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Keindahan Jeongbang Waterfall. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Jeongbang Waterfall memiliki ketinggian sekitar 23 meter. Lebar air terjun sendiri antara 8-10 meter. Ukuran ini akan berubah jika sedang musim hujan.

Curahan airnya sesekali berubah dari normal ke besar. Hal ini dipengaruhi oleh tiupan angin laut yang membuat gelombang air dari atas ikut berubah. 

Semburan dan percikan air terjun pun akan menyebar hingga beberapa puluh meter terbwa angin. Berada 30 meter di depan air terjun sudah bisa membuat bawah pakaian dan tas dalam waktu 5 menit. 

Perpaduan gemuruh air terjun dengan ombak keras memberikan sensasi lain jika ingin bermain air. Selain itu, suara keduanya membuat sekitar lokasi sedikit bising. Meskipun demikian, pesona dan keindahannya tak bisa disucapkan dengan kata-kata.

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Saya menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk menikmati Jeongbang Waterfall dari berbagi sudut. Sangat nyaman duduk sambil menunggu muka dihempas buih-buih air yang ditiup angin. 

Menikmati camilan dan kopi panas di tengah sejuk berpadu dinginnyq air sangat sesuai. Semakin lama duduk dan berpindah tempat, semakin banyak pula objek yang menarik pandangan mata.

Pengunjung pun silih berganti mengambil posisi terbaik, yakni dua batu besar yang pas berada di tengah pandangan mata. 

Pada sesi mengambil foto, saya sempat berkenalan dan berbincang beberapa saat dengan rombongan satu keluarga Korea Selatan. Perbincangan kami sangat penuh keakraban meskipun mereka hanya menggunakan bahasa Inggris seadanya. Kami saling membantu ketika mengambil dokumentasi.

(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Tersedia pula satu fotografer lokal yang stand by di lokasi. Jika ingin dipotret, bisa menghubungi yang bersangkutan. 

Lokasi sekitar Jeongbang Waterfall sangat bersih dari sampah. Tak ada jejak sampah sama sekali. Semua pengunjung bertanggungjawab penuh atas sampah yang dibawa. 

Jika ada tumpukan batang kayu atau sampah yang terbawa air laut, petugas kebersihan langsung mengangkut dan mengumpulkannya. Sejumlah kecil tumpukan batang kayu tersusun rapi di dekat tebing.

Selepas tengah hari, saya meninggalkan Jeongbang Waterfall. Mendaki anak tangga menuju pintu keluar cukup menguras energi. Tetapi, setiap kali berhenti sejenak, pemandangan Laut Cina Timur langsung mengobati rasa letih di kaki.

Di belakang pos pengecekan tiket, terdapat satu kios penjual cinderamata khas Pulau Jeju. Saya sarankan untuk membeli di sini karena harganya sedikit lebih murah jika dibandingkan dengan cinderamata yang ada di toko-toko. 

Cinderamata mata berupa miniatur patung Jeju kecil dihargai 1.000 Won. Tersedia pula es krim dingin segar yang bisa mengobati dahaga seharga 2.000 Won.

Inilah salah satu perjalanan terbaik saya di Pulau Jeju sejauh ini setelah mendaki puncak Gunung Hallasan di awal bulan Oktober yang lalu.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun