Jadi kalau orang Perancis bilang kematian sesaat karena orgasme adalah le petite morte, maka pada pelaku pelemparan sperma, korban akan berteriak mourir pour toujours. Matilah kau selamanya!
Sama seperti teman waktu kuliah dulu. Satu bedeng dibuat geger. Teriakan teman itupun membuat penghuni bedeng berlarian ke kamar mandi mencari tahu.
Setelah kamar mandi di gedor-gedor. Teman menunjuk kaca kecil di kamar mandi yang ternyata penuh dengan cairan berbau khas. Sebagian teman perempuan yang ada di bedeng seberang pun lalu mendatangi bedeng lelaki dan ada yang cekikikkan, ada juga yang pucat.
Sorenya di fakultas muncul gosip, makin digosok makin sip. Cerita menjadi liar. Bahkan ada guyon 9 bulan lagi di kamar mandi akan ada yang teriak papa, papa, papa. Satire. Cuma itu terjadi. Fakta sosial. Sampai sekarang tidak diketahui siapa pelakunya.
Giat seksualitas tidak perlu dilakukan di depan publik. Apalagi sampai mengajak orang lain yang belum tentu mau melihat kegilaanmu. Ingat woyyy. Giat itu suka sama suka bukan main paksa apalagi rudapaksa.
Melecehkan perempuan di tempat umum, melecehkan perempuan di angkutan umum apa nggak bikin malu. Malu dong karena satu waktu bisa jadi giliran diri dilecehkan. Hadewww. Cuma segitu. Apes dah.
Eh tu orang apa nggak punya adik kakak perempuan. Lah kalau ibunya diperlakukan seperti itu bagaimana perasaannya? Miris. Nggak mikir atau pikirannya nggak sampai ke sana.
Berbuatlah semaumu! Buatlah kerugian untuk dirimu sendiri! Jangan ajak orang lain! Kalau sudah ajak orang lain, itu sudah berurusan dengan hukum, bukan lagi berurusan dengan moral. Ngerti kamu!
Salam seksualitas yang sehat dan bertanggungjawab.
Salam dari Punggung Bukit Barisan Sumatra
Salam Kompal