Mohon tunggu...
OtnasusidE
OtnasusidE Mohon Tunggu... Petani - Petani

Menyenangi Politik, Kebijakan Publik dan Kesehatan Masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Marah Tanda Cinta

3 Agustus 2016   10:13 Diperbarui: 3 Agustus 2016   10:18 197
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jalan mendaki lagi terjal dan penuh disiplin yang dipilih Paskibraka

Bentakan. Teriakan. Hentakan kaki. Tunjukkan dan juga hukuman, ledekan ditambah tertawaan, barangkali itulah yang paling banyak terjadi di Lapangan MTQ Lahat terhadap anak lelaki dan perempuan yang bertinggi badan minimal 170 cm dan 165 cm.

Anak-anak itu pasrah. Anak-anak itu tak bisa melawan. Mereka sepertinya terhipnotis mau saja atas perlakuan orang-orang dewasa yang berbadan tegap dan terlatih itu. Dirudungkah mereka?

Panas terik. Uap panas dari aspal yang terpanggang dari sinaran matahari di bulan Agustus yang merupakan periode kemarau di Punggung Bukit Barisan Lahat itu terlihat dari kejauhan seperti kabut berbayang. Fatamorgana.

Keringat bercucuran. Kulit mereka rata-rata mencoklat hitam. Topi yang menutupi kepala mereka seakan tak kuasa melindungi sinaran matahari yang menerpa wajah-wajah remaja dewasa muda ini. Mereka selalu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sambil tangan memberi hormat dengan tubuh tegap. Mereka selalu menyanyikan lagu-lagu perjuangan kala tubuh diperintahkan untuk istirahat. Lagu-lagu yang meresap hingga tulang belulang mereka.

Tiga puluh enam anak beserta pelatih bertarung adu kuat, daya tahan, berkejaran dengan waktu menuju kesempurnaan gerakan pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2016. 

Mereka sudah memilih jalan. Jalan disiplin. Jalan terjal lagi mendaki. Jalan Paskibraka.

“Kita berpanas, berlatih berjuang di sini menuju 17 Agustus. Semua mata akan memandang kalian nanti. Konsentrasi. Jalankan tugas kalian. Kibarkan Bendera Merah Putih. Kalian adalah Paskibaraka,” kata Pelatih, Sugianto.

“Siap,” jawab tiga puluh enam anak.

Kemarahan pelatih ini adalah gemblengan mental. Hukuman adalah latihan fisik. Semuanya bertujuan menuju pada kesempurnaan gerakan mereka agar sukses mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Marah tanda cinta. Cinta pada anak-anak yang sudah dianggap darah daging para pelatih sendiri.

Lets  check  it  dot,  marah tanda cinta itu.

Dihukum di panas terik di aspal yang panas
Dihukum di panas terik di aspal yang panas
Genggamanmu salah nak
Genggamanmu salah nak
Tak pernah lelah memberikan penjelasan mengenai gerakan hingga suara serak
Tak pernah lelah memberikan penjelasan mengenai gerakan hingga suara serak
Mata elang pelatih melihat gerakan anaknya kalau masih ada yang salah
Mata elang pelatih melihat gerakan anaknya kalau masih ada yang salah
Pelatih memperhatikanmu
Pelatih memperhatikanmu
Kerapian, keselarasana dan tenaga sudah mulai terlihat
Kerapian, keselarasana dan tenaga sudah mulai terlihat
Berjalan pulang ke Desa Bahagia sambil bernyanyi lagu-lagu perjuangan
Berjalan pulang ke Desa Bahagia sambil bernyanyi lagu-lagu perjuangan
Jalan jongkok ya nyanyinya nggak semangat
Jalan jongkok ya nyanyinya nggak semangat
Jalan mendaki lagi terjal dan penuh disiplin yang dipilih Paskibraka
Jalan mendaki lagi terjal dan penuh disiplin yang dipilih Paskibraka
Salam Paskibraka

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun