Mohon tunggu...
Opa Jappy
Opa Jappy Mohon Tunggu... Konsultan - Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

http://jappy.8m.net

Selanjutnya

Tutup

Sosok

Tidak Ada Alasan untuk Meragukan Islamnya Joko Widodo

24 November 2018   21:59 Diperbarui: 24 November 2018   22:36 557
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jokowi Sholat | Tangkapan Layar dari Youtube

Joko Widodo

Semua orang boleh ragu dengan agamaku tapi saya tidak ragu dengan iman dan imamku dan saya tidak pernah ragu dengan Islam agamaku.

Saya bukan bagian dari kelompok yang mengaku Islam yang punya tujuan mewujudkan negara Islam.

Saya bukan bagian dari yang mengaku Islam tapi suka menebar teror dan kebencian.

Saya bukan bagian dari kelompok Islam yang sesuka hatinya mengkafirkan saudaranya sendiri.

Saya bukan bagian dari segelintir Islam yang menutupi perampokan hartanya, menutupi pedang berlumuran darah dengan gamis dan sorban.

Saya bukan bagian dari Islam yang membawa ayat-ayat Tuhan untuk menipu rakyat.

Saya bukan bagian dari Islam yang membawa azas partainya untuk korupsi dan hidup bermewah-mewah.

Saya bukan bagian dari Islam yang menciptakan perang bagi sesama Islam.

Saya bukan bagian dari Islam yang menindas agama lain.

Saya bukan bagian dari Islam yang arogan dan menghunus pedang ditangan dan dimulut.

Saya bukan bagian dari Islam yang suka menjejerkan fustun-fustunnya.

Saya Jokowi bagian dari Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

Islam yang hidup berketurunan dan berkarya di Negara RI yang memegang teguh UUD 45. Bhinneka Tunggal Ika adalah rahmat dari Tuhan.

24 Mei 2014 | Sumber, Klik

Kampanye Politik dalam rangka Pilpres RI tahun 2019 sementara berlangsung; hampir setiap hari para Capres/Cawapres melaksanakan tebar pesona agar, nantinya, dipilih oleh rakyat pada waktu Pilpres. Sayangnya, Kampanye Pilpres yang seharusnya sebagai 'Kampanye yang paling berkualitas dan bermutu tinggi,' ternyata sering diwarnai dengan hal-hal yang remeh, tidak masuk akal, hoaks,  serta serta ujar kebencian terhadap lawan politik.

Bukan saja 'sayangnya .... ' tapi juga 'lucu-lucuan.' Misalnya, ketika Capres/Cawapres menyebut tempe setebal Kartu ATM, sainganya blusukan ke pasar, sambil mengelus-elus 'tempe asli, yang ternyata puluhan kali lebih tebal dari Kartu ATM; ketika Capres/Cawapres katakan bawa Rp. 50.000.- ke pasar, tidak dapat apa-apa, pesaingnya menyatakan bahwa tempa yang tebal seharga Rp. 3000.- dan uang Rp 50.000.- bisa membeli sayuran, telur, daging, dan lain-lain; ketika Capres/Cawapres 'lompat-lompat' di kuburan, pasangan lain sebarkan cara ziarah yang baik dan benar; dan masih banyak lagi lucu-lucuan.

Lucu-lucuan baru terupdate, hari ini, muncul foto-foto Capres dengan seragam driver ojek online; nah, jika yang ini, pasangan sainggannya tidak melakukan hal yang sama. Jika terjadi, maka 'kasihanlah Rakyat RI,' karena pasangan Capres/Cawpres bersaing seperti anak kecil, atau bahkan bagaikan badut.

Selain 'sayangnya .... ' dan 'lucu-lucuan' tersebut, ada Capres/Cawapres yang menyebarkan atau pun memainkan 'psikologi ketakutan' melalui orasi dan narasi menakutkan serta pesimisme, sementara pasangangan lainnya, memberi semangat serta harapan masa depan, bahkan menyampaikan motivasi serta inspirasi agar tergerak membangun bangsa.

Selain hal yang remeh temeh dan lucu-lucuan di atas, ada juga Tim Pemenangan atau Tim Sukses (termasuk pendukung dan Tim Hores atau Sorak-sorai) pasang Capres/Cawapres yang terus menerus melakukan penistaan, tudingan, tuduhan, serta ujar kebencian terhadap pesaing mereka. Ini yang paling parah dan sangat tidak beradab dan di luar akal sehat serta normal.

Katakanlah, tudingan dan tuduhan terhadap Capres RI yang bernama Joko Widodo; yang kini masih Presiden RI yang sah; ia dituding sebagai 'turunan Asiong,' anggota dan pendukung Komunis; bahkan yang sangat tidak masuk akal, Jokowi dituduh bukan Islam dan tidak Islami. Luar Biasa. Bagusnya, tudingan dan tuduhan seperti itu tidak dibalas oleh Jokowi dan Pendukung serta Tim Sesnya.

Khususnya, tuduhan bahwa Jokowi bukan Islam dan tidak Islami, yang (juga) menjadi perhatian saya. Aneh juga, bisa-bisanya Jokowi mendapat serangan seperti itu. Saya pun 'gatal' untuk menjawab mereka yang menuding.

Berdasar pengalaman, ketika mengikuti jejak digital dari (dan tentang) Joko Widodo sejak terpilih menjadi Wali Kota Solo (ada) Parpol berbasis Agama yang mendukungnya, apa memang mereka buta terhadap agama (dan keagamaan) Jokowi?

Dan, ketika Jokowi bersama Basuki Tj Purnama berkampanye pada Pilkada DKI Jakarta, sepanjang saya ikut (dengan ngosan-ngosan) gerak Jokowi, dan melihat, ia lakukan sholat sesuai waktunya. Juga, sepanjang yang saya tahu, ketika ikut 'mengekor' Jokowi di/ke luar Jakarta, saya melihat Jokowi tetap berwudhu dan sholat sesuai waktunya.

Lalu, di mana ketidak-islam-nya dan bukan Islaminya Jokowi? Banyak orang, termasuk saya, belum menemukan sehingga tidak bisa menjawab.

##

Berdasar semuanya itu, dan melihat kutipan di atas, maka sebetulnya tidak ada alasan apa pun untuk menyatakan bahwa Joko Widodo, Presiden RI dan juga kini Capres RI untuk Pilpres 2019 sebagai bukan Islam dan tidak Islami. Sekali lagi, tidak ada alasan untuk menyatakan seperti itu.

Namun, ternyata masih tidak sedikit orang yang tak mempercayainya; mereka lebih meyakini berita bohong alias hoaks (yang ditiup atau disebarkan oleh lawan politiknya) bahwa Jokowi 'di luar mereka,' serta Jokowi adalah Sang Lain yang berbeda iman dengan mereka. Nah.

Semuanya bisa terjadi karena kuat dan kekuatan hoaks sertaujar kebencian. Anehnya lagi, para penyebar tersebut, maaf kata, adalah sebagian besar adalah orang-orang yang bisa disebut seiman dengan Jokowi. Agaknya, menolak (tepatnya menuding) seseorang dengan cara 'ia tidak seiman atau pun seagama (dengan saya, dengan kami, dengan kita)' telah dipergunakan ke/dalam ranah politik. Prihatin.

Pada kerangka itu, yang terjadi adalah membangun 'pembusukan dan permusuhan politik' berdasar sentimen perbedaan agama (walau sangat dipaksakan); sehingga orang yang dituding mendapat stigma 'ia bukan kami, ia tidak sama dengan kita, ia berbeda, oleh sebab itu 'jangan atau tidak memilih dia.'

Sungguh Terlalu dan Keterlaluan.

Oleh sebab itu, ada baiknya, anda dan saya membaca ulang kutipan di atas dan memahami apa itu 'Islamnya Joko Widodo'

Opa Jappy | Relawan Indonesia Hari Ini Memilih Joko Widodo

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosok Selengkapnya
Lihat Sosok Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun