Sangat menarik melihat keberadaan situs ini yang ternyata sudah digunakan sejak lama oleh para leluhur, ya! Ritual lain yang juga dilakukan ditempat ini adalah Mahasa atau Maesa, yakni kanaramen/tradisi para leluhur saat menghadapi kekuatan dari luar yang mengancam kehidupan bersama. Nah, dari sini juga cikal bakal nama Minahasa itu berasal.
Setelah puas melihat Situs Watu Merengke, kami turun dari bukit dan beranjak ke samping restoran karena di sanalah situs kedua, yakni situs Watu Siouw Kurur berada. Aturannya masih sama, kami diminta untuk melepas alas kaki sebelum masuk.
Di sini, susunan batunya lebih sederhana. "Hanya" ada satu berukuran besar yang terlihat mencolok di bagian tengah. Sedangkan batu lain posisinya agak berjarak, tidak rapat sebagaimana yang kami lihat di Watu Merengke sebelumnya.
Ini tempat yang diyakini digunakan oleh Empung Siouw Kurur, leluhur yang diyakini dapat memberi tanda kematian dan kehidupan sering melakukan ritual.
Sungguh sebuah situs bersejarah yang dengan adanya restoran dan kafe, harapannya lebih banyak generasi muda yang datang, melihat dan napak tilas keberadaan situs ini sambil melihat panorama indah yang ada, ya!
Saya senang berada di tempat ini. Oh ya, bagi yang berminat datang, cukup siapkan uang Rp.15.000 untuk biaya masuk. Sedangkan makanan dan minuman dapat dipesan terpisah dan disesuaikan dengan harganya. Sebagai info, karena berada di ketinggian, hanya mobil berukuran kecil yang dapat menuju lokasi ini. Saat itu, kami menggunakan kendaraan sejenis elf. Lalu, rombongan berjumlah lebih besar yang datang menggunakan bus sepertinya harus berganti kendaraan lain sebab jalurnya cukup sempit dan terjal.
Terakhir, pastikan mengisi daya ponsel atau kamera sebelum ke sini ya! Karena pemandangannya sangat indah dan sayang jika tidak diabadikan.