Alur cerita kemudian dibuat menjadi tegang, saat Jang Dong-su pada suatu malam bertemu dengan sang pembunuh berantai. Tanpa pandang bulu, Jang Dong-su ditikam dengan susud mematikan dari jarak dekat, namun masih tetap melawan dan menyebabkan sang pembunuh berantai kewalahan dan kabur dengan membawa luka tikam pada dada kirinya.Â
Melalui serangkaian operasi yang panjang, Jang Dong-su selamat, namun kehilangan muka, karena itu dendamnya teramat besar terhadap sang pembunuh berantai. Dalam keadaan seperti inilah, Jang Dong-su berusaha bangkit kembali menjadi gangster yang ditakuti oleh teman dan lawannya, serta bekerja sama dengan detektif Jung Tae-seok.
Saat Jang Dong-su dan  Jung Tae-seok saling berhadapan dan bekerja sama, serangkaian perjanjianpun  dilakukan, masing-masing tetap dengan gaya dan strategi tersendiri. Namun Jung Tae-seok tetap menyatakan hendak membawa pula Jang Dong-su ke penjara dan diadili atas tindakannya yang sadis dan brutal di dunia kegelapan.Â
Adegan demi adegan kemudian ditampilkan dengan kompleks dan memperlihatkan strategi dari masing-masing pihak, dan menghasilkan tontonan yang seru , membuat penonton pnasaran untuk mengetahui penyelesaian dari alur cerita film ini.
Saat menonton film ini, saya jadi teringat akan film  tahun 1987, The Untouchables. Namun apabila film The Untouchables adegan kekerasanya sangat dijaga, maka film the gangster, the cop , the devil justru menonjolkan banyak adegan sadis dan kekerasannya.
Dengan berhasilnya film ini masuk ke ajang film festival bergengsi Cannes , seolah memberikan tanda , bahwa saat ini memang era film brutal dan sadis menjadi salah satu trend dalam dunia perfilman.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H