Mohon tunggu...
Nurhaliza RahmaDamanik
Nurhaliza RahmaDamanik Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

-

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Paradoks Keamanan di Kawasan Asia Timur Dalam Konteks Uji Coba Nuklir Korea Utara

13 September 2024   08:30 Diperbarui: 13 September 2024   08:35 75
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dalam studinya, Ian Bowers menguraikan bahwa penguatan senjata konvensional oleh Korea Selatan dan Jepang, dengan dukungan dari Amerika Serikat, memunculkan dilema counterforce, dampaknya yaitu risiko konflik yang tak terduga. Jika suatu waktu Korea Utara merasa terancam oleh serangan militer negara tetangganya yang dirancang untuk menonaktifkan senjata nuklirnya, mereka akan memilih menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu sebagai langkah pencegahan (Bowers, 2022). 

Ancaman Global: Asia Timur Menuju Perang Nuklir?

Selain memperburuk keamanan regional, situasi ini juga menimbulkan ancaman serius bagi stabilitas global. Dengan intensitas provokasi yang terus meningkat, ancaman konflik di Semenanjung Korea tidak hanya menciptakan ketidakstabilan di kawasan Asia Timur tetapi juga di dunia. Negara-negara seperti China dan Rusia memantau dengan cermat perkembangan ini, sementara komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, terus menyerukan agar Korea Utara menghentikan program nuklirnya. Upaya diplomatik tidak membuahkan hasil baik bahkan semakin sulit dilakukan di tengah meningkatnya perlombaan senjata dan ketegangan yang memuncak (Reiss, 2006).

Bagi negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, potensi dampak perang nuklir di Semenanjung Korea sangat nyata. Ribuan pekerja migran Indonesia yang tinggal dan bekerja di Korea Selatan akan terancam jika konflik nuklir terjadi. Pemerintah Indonesia harus mempertimbangkan langkah dan strategi terbaik untuk perlindungan warga negara di luar negeri jika ketegangan ini terus meningkat.

Kesimpulan


Ketegangan di Asia Timur, yang dipicu oleh uji coba rudal nuklir Korea Utara pada 12 September 2024, menunjukkan bahwa penguatan aliansi militer antara Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat tidak selalu menghasilkan stabilitas. Sebaliknya, peningkatan pertahanan justru memicu siklus provokasi yang memperburuk dilema keamanan. Dilema counterforce semakin memperparah situasi, dengan risiko eskalasi nuklir yang semakin nyata. Selain mengancam kawasan Asia Timur, ketegangan ini juga membawa dampak global, termasuk bagi negara-negara di Asia Tenggara, yang harus mempersiapkan langkah strategis untuk melindungi warganya dari potensi konflik yang lebih besar.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun