Sistem saraf tubuh mengontrol respon tubuh dengan mengontrol segala sesuatu yang diketahui dan diketahui, seperti: b. Gerakan lengan, kaki dan bagian tubuh lainnya bekerja. Neurotransmitter ini mengirimkan informasi sensorik dari kulit, indera atau otot ke sistem saraf pusat. Selain itu, saraf fisik mengirimkan respons dari otak yang menghasilkan respons berupa gerakan.
Misalnya, menyentuh pemanas mengirimkan informasi ke otak yang membuat saraf sensitif menjadi panas. Saraf motorik mengirimkan informasi ke otak dengan meremas tangan, melepaskannya, dan menariknya melalui radiator untuk keluaran yang cepat. Seluruh proses memakan waktu sekitar 1 detik.
System saraf otonom
Di sisi lain, sistem saraf otonom mengontrol tindakan yang dilakukan tanpa mengetahui atau memikirkannya. Sistem ini secara konstan mengatur berbagai fungsi tubuh, seperti pernapasan, detak jantung, dan proses metabolisme.
Terdapat dua bagian dari saraf otonom yaitu:
System sispatik
Sistem ini mengontrol respon ketahanan tubuh  terhadap ancaman. Sistem ini menggunakan energi dan mempersiapkan tubuh untuk potensi bahaya dari lingkungan.
Misalnya, sistem saraf simpatik merespon ketakutan atau kecemasan dengan meningkatkan detak jantung, mempercepat pernapasan, meningkatkan aliran darah ke otot, mengaktifkan kelenjar keringat, dan melebarkan pupil. Hal ini memungkinkan tubuh Anda untuk bereaksi dengan cepat dalam situasi darurat.
System parasimpatik
Sistem ini digunakan agar tubuh dapat berfungsi secara normal setelah ada sesuatu yang mengancamnya. Ketika ancaman telah berlalu, sistem memperlambat detak jantung, memperlambat pernapasan, mengurangi aliran darah ke otot dan mempersempit kandung kemih. Ini akan membuat tubuh Anda kembali normal.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI