Â
'People talking without speaking, people hearing without listening', penggalan lirik ini bahkan kemudian dikutip oleh Scott M. Cutlip, dkk., dalam buku "Effective Public Relation" yang juga menjadi buku pegangan para mahasiswa Ilmu Komunikasi atau Humas (public relations).
Lirik lagu lawas ini mencerminkan masalah krusial kita sebagai manusia dalam berkomunikasi dari masa ke masa. Kemampuan kita berkomuniksi tidak hanya sekedar saat berucap atau omong doang (talking only), namun saat berbicara (speaking) dengan memahami informasi atau pesan yang akan kita sampaikan dengan baik. Ini juga kenapa public speaking menjadi ilmu dan keterampilan yang perlu dipelajari.
Sebagai komunikan (pendengar / penerima pesan) kita juga bukan hanya sekadar mendengar (hearing), tetapi mendengarkan (listening) dengan memahami. Bukankah komunikasi efektif adalah ketika komunikator dan komunikan memiliki makna yang sama terhadap pesan yang disampaikan?
Betapa banyaknya kita melihat pidato-pidato menjanjikan dari para pejabat yang bertolak belakang dengan aksinya? Atau berapa banyak dari kita yang menghiraukan pesan-pesan dari saudara kita sesama manusia yang sedang kesulitan di luar sana yang ditayangkan di media?
Tak sedikit dari kita yang masih sibuk menggeser-geser layar hp ketika teman di depan muka sedang berbicara. Tak sedikit dari kita yang akhirnya kehilangan kepercayaan dan memilih berbicara dalam diam karena tidak menemukan tempat untuk didengarkan.
Duh, sedih. Saya lanjut nanyi dulu ya,
       In restless dreams I walked alone
      Narrow streets of cobblestone
      'Neath the halo of a street lamp
      I turned my collar to the cold and damp