Walau tidak lebar, dengan mekanisme jalan bergantian bagi kendaraan yang hendak melintas di bawahnya. Tentu dengan beban yang dibatasi, agar tidak menjadi persoalan ketika kereta api melintas di atasnya. Seperti kita lihat dalam gambar dibawah ini, bentang Sungai Citanduy menjadi lanskap eksotik yang mampu memanjakan para pengguna jembatan ini.
Tetapi tidak jauh lebih ekstrim dibandingkan dengan pembuatan Jembatan Cisomang, yang kini mencapai ketinggian hampir 100 m dari dasar sungai Cisomang. Pada awal pembangunannya, jembatan Cisomang telah direvitalisasi sebanyak tiga kali sejak dibuka pada tahun 1906. Jadi, kini yang dapat kita ketahui adalah hasil dari revitalisasi ketiga pada tahun 2004.
Sebelumnya memang pada jembatan Cisomang ini berada pada area tanah yang labil, apabila terjadi longsoran ataupun gempa. Maka, jembatan lama Cisomang ini kemudian dipindahkan sedikit ke sebelah barat. Dengan memakai jalur kereta lama tetapi dengan teknik pondasi yang berbeda. Tujuannya ya tentu saja agar tidak mudah bergeser bila ada pergerakan tanah.
Berikut ini adalah wujud dari eksotisme Jembatan Cisomang lama, yang kini hanya meninggalkan rangka baja dan pondasinya saja.
Sedangkan dibawah ini adalah Jembatan Cisomang baru, telah dikonsep dengan double track bagi lalu lintas kereta api modern. Tetapi jembatan baru ini belum dapat dilalui untuk perjalanan double track, karena masih dalam tahap pengembangan. Kereta api Indonesia (KAI) hingga kini masih terus mengembangkan peremajaan pada setiap jembatan yang ada. Semoga bermanfaat. Terima kasih.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI