Bila bulan puasa tiba, saya selalu ingat bulan-bulan puasa sebelumnya. Banyak cerita bila bulan ini tiba. Ingatan saya melayang ketika anak saya masih berumur lima atau enam tahun.
Di bulan puasa memang istimewa, banyak yang harus disediakan. Makanan berbuka puasa, makanan sahur dan buka diluar, baju lebaran , untuk untuk wisata nanti kalau libur lebaran. Wah banyak nian.
Sebetulnya pasti ada THR dari kantor, namun sepertinya sayang kalau THR itu harus dipergunakan untuk semuanya itu. Bagi saya, kalau bisa THR itu saya gunakan untuk sodaqoh atau zakat dan sisanya ditabung. Untuk keperluan puasa dan hari raya, harus bisa menggunakan untuk pos biasanya.
Bila dipelajari sebagaimana yang saya baca di Kompas ataupun di media lain, THR itu memang tidak boleh atau kalau bisa tidak digunakan untuk hingar-bingarnya suasana lebaran. Alasannya, bisa-bisa sesudah lebaran sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Apalagi untuk keperluan lebaran itu sampai berhutang, maka ini bukan cara hidup yang baik.
THR Untuk Pembangunan Diri
Pernah saya membaca tentang penggunaan THR yang baik yaitu untuk pengembangan diri, misalnya bila seorang yang mendapat THR itu pegawai yang masih berkembang sebaiknya THR itu bisa digunakan untuk menambah keahlian untuk meningkatkan diri, misalnya sekolah lagi atau meningkatkan kompetensi lainnya, sehingga menjadi pegawai yang mempunyai kompetensi yang tinggi dan makin membuat pegawai itu mempunyai kelebihan.
Bagi saya yang waktu itu juga masih menjadi pegawai biasa, saya juga menggunakan THR itu dengan sejuta pemikiran. Saya selalu menggunakan THR itu untuk sodaqoh pada siapa yang saya pandang membutuhnya kira-kira habis setengah dari THR itu, sedangkan setengahnya ditabung.Â
Pertimbangan untuk keputusan ini karena barang siapa yang memberi sodaqoh dalam keadaan lapang atau sempit Allah akan menggantinya 700 kali lipat seperti sebiji padi yang ditanam, lalu tumbuh tujuh ruas. Dari tujuh ruas masing masing akan tumbuh padi lagi sampai 700 kali.
Maka saya selalu meniatkan sodaqoh untuk kekayaan saya dalam segi spiritual atau keimanan dan keyakinan seperti itu untuk dunia sana. Sedangkan yang setengah lagi saya tabung , itu adalah kekayaan yang riil didunia ini, yaitu dunia yang fana ini.
Saya berpikir ini lucu. Saya menghitung-hitung seperti ini tentang kekayaan dalam segi dunia sana, juga tabungan di dunia disini. Percepatan kelipatannya dihitung-hitung sangat lebih cepat kekayaan versi dunia sana, sambil berharap siapa tahu percepatan 700 kali lipat itu juga datang di dunia ini. Dalam hati yakin seperti itu, meskipun tidak terlalu dipikirkan.
Setiap saya menerima THR, saya mencatat siapa saja calon-calon orang yang membutuhkan menurut saya. Semua catatan itu berusaha saya penuhi. Di depan mata selalu terbayang akan berlipat menjadi 700 kali.
Sedangkan untuk keperluan berpuasa. Saya menggunakan seperti biasa saja, seadanya, semampunya, tidak berlebihan. Hari raya ya memakai pakaian yang pantas dan bagus tidak perlu harus membeli baru. Semua saya syukuri, yang penting anak juga pendapat pendidikan yang baik, juga mendalami kompetensi yang menunjang sekolahnya.
Petasan dari Kertas
Saya juga mengajarkan pada anak saya bahwa puasa itu pada hakekatnya adalah hubungan dengan Tuhan Allah. Selalu memohon kepada Allah agar semua keinginan terkabul. Dan rangkaian puasa bagi anak-anak yang menggembirakan diri dengan petasan-petasan kecil yang dinyalakan, saya mengajari anak saya dengan menggunakan kertas dari bekas majalah yang agak kuat dilipat menjadi dua di bagian sisi atas dan bawah.
Setelah itu ditarik miring ke dalam dan dipukulkan ke udara akan mendapatkan suara "taar" seperti petasan kecil-kecil yang biasa dimainkan teman-temannya. Putra kecilku sudah senang dan selalu membunyikannya sesudah berbuka menjelang shalat tarwih dan sesudah sahur menjelang shalat shubuh. Kami tertawa lucu. Kertas bisa menjadi petasan.
Kini saya selalu tertawa jika puasa datang dan ingat cerita itu. Karena kini Allah juga sudah memenuhi janjinya melipat gandakan rezeki bagi saya. Putraku sekarang sudah menjdi dosen Sastra Inggris di suatu Universitas Negri. Saya sekeluarga sudah hidup cukup, bisa menjalankan semua, dan tidak kekurangan.
Menabung dunia dan akhirat yang saya hitung-hitung kelipatannya sampai petasan dari kertas adalah kisah lucu saat puasa. Yang sampai kapan pun tak pernak lupa dan selalu membuat tertawa. Lucu meskipun haru. Allah ternyata juga menyertai pengalaman lucu saya. Terima kasih Allah...
Dra. Novi Saptina
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H