Seromantis Tunggul Ametung.
Bayu dan Aya selalu menikmati masa-masa keindahan yang syahdu, laksana sepasang insan yang sudah selesai menjalani wadad pengantin, masa 40 hari penantian sebelum bersenggama.
Aya yang digambarkan sebagai seorang Sinta oleh Bayu, dianggap sangat pantas dijadikan permaisuri di istananya.
Yah, setidaknya itulah istilah yang kerap di gunakan Bayu ketika tengah bercengkrama merancang rencana kedepan bersama Aya, perempuannya.
“Kelak, dari sucinya garbamu itu, akan terlahir pangeran dan putri pewaris tahta kerajaanku. Penerus yang kelak akan mengabadikan trah darahku di dunia ini”
Dan Aya..mencerna kalimat per kalimatnya dengan tersenyum..sebuah senyum malu-malu khas perempuan jawa. Malu yang mengisyaratkan menyetujui, menyepakati dan mengaminkan ucapan Bayu. “Teruslah kau bermimpi tentang masa depan..dengan begitu..kita akan menjadi terbiasa untuk menjadi setia, satu dengan yang lainnya”
Bayu meraih jemari lentik Aya. Mengenggamnya dan meletakannya tepat di dadanya. “Nafas ini, adalah milikmu.”
Aya menoleh dan tersenyum, matanya tertuju pada dada kurus milik Bayu. Dada yang bagi sebagian orang dianggap tidak bisa menjanjikan apapun di masa depan.
***
Bercerainya Nakula-Sadewa
Banyak yang berkata, bahwa menikmati rumput tetangga adalah hal yang paling indah, apalagi membantu tetangga untuk mencabuti rumputnya.