Bermula dari kami selaku orangtua ingin memberikan buku, untuk si adek yang sudah bisa membaca. Adek sangat antusias, mungkin karena gambar-gambar dalam buku yang menarik.
Seiring perkembangannya, kami mulai memberikan buku cerita yang lebih tebal. Buku-buku pun dibaca cepat dituntaskan, sehingga segera minta dibelikan lagi. Sedangkan jarak antara rumah ke toko buku lumayan jauh.
Untuk mendapatkan buku cerita, kami bisa menempuh perjalanan selama sekitar satu setengah jam dengan kendaraan.
Terkadang beberapa buku dibeli sekaligus. Ya...mumpung kesempatan.
Toh ini kegiatan yang positif, yaitu membaca buku. Jadi harus didukung. Itulah pemikiran kami sebagai orangtua.
Buku yang dibaca si adek kebanyakan ditulis juga oleh para penulis cilik.
Saat dia duduk di kelas 3 sekolah dasar, saya menyarankan untuk membuat cerita sendiri, dan menuliskannya.
Lucunya setiap saya mengintip apa yang dia tulis, segera dia menutup layar dengan kedua tangannya memberikan tanda agar tak boleh dilihat.
Naskah-naskah itu pun semakin lama bertambah banyak, dan hanya tersimpan di file.
Di tahun kedua menulis di komputer, suatu saat dia mulai menginginkan naskah itu dikirimkan ke penerbit buku.