Mohon tunggu...
NOR ZILA
NOR ZILA Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Saya mahasiswa dari Universitas Negeri Padang, yang mengambil Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi. Saya memiliki hobi dalam berolahraga dan menulis.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Keajaiban Alam: Kehidupan Adat Istiadat Masyarakat Kampung Adat Cireundeu

7 Maret 2024   18:27 Diperbarui: 7 Maret 2024   20:35 238
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Proses pengolahan ubi-ubian menjadi Rasi | Dok Pribadi

Dalam kegiatan kebhinekaan kali ini memberikan kesempatan kepada saya untuk mengunjungi dan mengetahui keberagaman budaya di kampung adat cireundeu yang terletak di kelurahan Leuwigajah, kecamatan cimahi Selatan, jawa barat. 

Kampung cireundeu diperkirakan berdiri sejak abad ke-16 M. Nama cireundeu sendiri berasal dari 2 kata yakni Ci dan reundeu, Ci yang artinya air dan Reundeu yang berasal dari pohon reundeu. 

Terletak dilereng pegunungan yang menawarkan pemandangan hijau yang menyejukkan dan udara segar yang menyegarkan. Namun, dibalik keindahannya itu, Kampung adat cireundeu sendiri memiliki Sejarah Panjang yang mencerminkan kekayaan warisan budaya. 

Seperti sebagian warga dikampung ini masih ada yang menganut kepercayaan sunda wiwitan . Dan dikenal juga sebagai tempat yang telah berdiri sejak lama, kampung ini menyimpan sejuta cerita tentang keajaiban Panjang dalam kehidupan masyarakatnya.

Kampung cireundeu memiliki bangunan tradisional yang menggambarkan kehidupan masa lampau Masyarakat jawa barat. Kampung ini Memungkinkan pengunjung terlebih saya untuk merasakan atmosfer kuno yang masih terjaga dengan baik hingga saat ini.

Kampung cireundeu memancarkan budaya  jawa barat melalui berbagai acara seni tradisonal, salah satunya pertunjukan alat musik angklung buncis yang dimainkan langsung oleh masyrakat asli kampung cireundeu. 

Disana saya tidak hanya sekedar menyaksikan permainannya, tetapi saya diajarkan langsung oleh masyarakatnya untuk mensimulasikan cara memainkan alat musik angklung buncis tersebut. 

Tidak hanya musik angklung, kampung ini juga memiliki berbagai macam kerajinan tangan yang menjadi bagian integral kehidupan masyarakatnya. Sehingga kampung ini menciptakan lingkungan yang kaya akan warna dan keunikannya.

Alat Musik Tradisional (Angklung Buncis) | Dok Pribadi
Alat Musik Tradisional (Angklung Buncis) | Dok Pribadi

Seiring perjalanan saya dikampung cireundeu, saya mengetahui bahwa kampung ini terkenal dengan praktik pertanian berkelanjutan. Warga setempat telah menjaga tanah subur mereka dengan bijaksana untuk menghasilkan produk organik yang mendukung kehidupan dan merawat lingkungannya. 

Uniknya, Ketika kampung lain menempatkan padi sebagai bahan pokok makanan kampung ini lebih memilih ubi-ubian sebagai makanan pokoknya. Bukan tanpa alasan, kampung ini juga ternyata memiliki Sejarah tentang bermulanya untuk tidak mengkonsumsi padi. Yaitu, bermula pada masa penjajahan kolonial Belanda. 

Dimana pada saat itu, Belanda menjajah jawa barat yang menjadi bagian dari Nusantara demi memperoleh pertanian yang subur salah satunya padi. Sehingga dari faktor tersebut membuat Masyarakat yang ada di kampung cireundeu untuk tidak mengkonsumsi padi sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan. 

Di kampung cireundeu, saya yang merupakan anak pulau Sumatera dapat melihat dan mengolah secara langsung proses pembuatan rasi dengan warga setempat. Rasi merupakakan makanan pokok yang diolah dan bersumber dari ubi-ubian. Sunggu unik.

Proses pengolahan ubi-ubian menjadi Rasi | Dok Pribadi
Proses pengolahan ubi-ubian menjadi Rasi | Dok Pribadi

Dengan berkembangnya pertanian dan pariwisata. Kampung cireundeu telah menjadi desa wisata yang menarik. Dimana pengunjung bisa berinteraksi dengan warga setempat, dan merasakan kehidupan perdesaan yang autentik. Selain itu, kampung cirendeu juga menghasilkan berbagai macam makanan yang lezat sehingga dapat menawarkan pengalaman kuliner bagi para pengunjungnya.

Kampung cireundeu telah menjadi rumah bagi ekosistem alam. Hutan-hutan yang indah memberikan tempat bagi keanekaragaman flora dan fauna yang perlu dijaga untuk keberlanjutan lingkungan. 

Saya sangat salut terhadap Warga kampung cireundeu. Karena warga yang ada di sana sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal. Gotong-royong dan solidaritas komunitas pilar utama untuk kehidupan sehari-hari, menciptakan harmoni antara manusia dan alam.

Dengan daya Tarik alam, keberagaman budaya, dan komitmen terhadap keberlanjutan saya melihat masyararakat di kampung cireundeu memandang cerah masa depanya dengan optimisme. 

Sebagai destinasi yang berkembang, kampung ini menjadi contoh bagi daerah lain untuk melestarikan warisan budaya dan alam sambil memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi Masyarakat setempat.

           

Salam dari Mahasiswa PMM4 (UPI) | Dok Pribadi
Salam dari Mahasiswa PMM4 (UPI) | Dok Pribadi

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun