Mohon tunggu...
Noorhani Laksmi
Noorhani Laksmi Mohon Tunggu... Administrasi - writer, shadow teacher, Team Azkiya Publishing dan Sanggar Rumah Hijau, Admin Komunitas Easy Writing

http://noorhanilaksmi.wordpress.com FB : Nenny Makmun

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Senja Jakarta - Cibubur

26 Maret 2020   14:38 Diperbarui: 26 Maret 2020   14:59 124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
picture: freepik.com

Wah kemarin sore udah kepengen sampai rumah ternyata nasib, nasib bus jemputan kami warga Cimanggis mogok berat di Senayan. Akhirnya ber-enam kita naik bus Mayasari jurusan Cibubur Cilengsi, sementara hujan mengguyur deras di luar.

Baru duduk udah ditawari penjual asongan, "Cuma seribu ... seribu ... teman hujan sore-sore! "

Wah ternyata kacang telur. "Enak lho Mbak, apa aku yang kelaparan," kata bu Rasya yang langsung menikmati kacang telur jajaan anak yang tampak dekil.

Aku jadi ikutan tertarik langsung beli dan langsung memakannya. Sebenarnya aku tidak hanya tertarik rasa enak yang barusan bu Rasya teman perjalanan pulang kantor tapi melihat pedagangnya masih anak-anak sudah harus bekerja keras membanting tulang di kota metropolitan.

Ah aku merasa beruntung senja dan hujan turun ada rasa cinta yang ingin aku bagi dengan membeli beberapa kacang telor jualannya. Dan kunikmati kacang telur dengan senyum yang masih termemori anak penjual kacang telur menerima sepuluh ribu uangku.

"Kriuk ... kresss ... hmmm enak! Gurih manis," Kacang telur ini mengingatkan kacang kucing jaman kecil dulu, itu kacang terenak waktu masih di Sekolah Dasar.

***

Hujan semakin deras tak ada matahari senja yang tampak terbenam. Bus melaju dengan tersendat-sendat, sudah bukan rahasia lagi kalau Jakarta akan macet dengan hujan senja di jam pulang kantor. Sebentar kemudian, pengamen jalanan dengan gitarnya. Berdiri samping persis aku.

 "Aduuhh berisik nih, aku gak bisa tidur" gerutu Bu Rasya.

Kemudia pengamen itu mulai memetikan gitarnya, suaranya dan mainan gitarnya bagus, Aseliii apik! Kalau ada kesempatan untuk berkembang, pasti dia tidak hanya jadi pengamen jalanan.

Ada lagu yang ciptaannya sendiri lho. Sepertinya lagu curahan hati, sedih banget dengarnya dan sang pengamen sangat menghayati. 

"Maafkan kekasih terlambat mengetahui. Kalau ternyata kamu mencintaiku. Andai aku tahu dari awal. Akan kubuka hatiku sepenuhnya. Maafkan kekasih Tetapi itu semua sudah terlambat..."

Lihat wajahnya sedih sekali sepertinya ini kisah nyata sang pengamen yang merebak air mata di bola matanya

Terus ada lagunya Slank juga,"Walau ku tahu tentang kisahmu.Waktu yang lewat atau engkau kini. Jangan hindari aku dan jangan kau malu.Karena cintaku ini dari hati yang suci ...."

Aku lihat Bu Rasyha tertidur pulas juga Mbak Ayu teman seperjalanan pulang kantor terlelap banget. Padahal enak lho petikan lagu-lagu dari pengamen ini.

Rata-rata kulihat sebagian penumpang tidur, "Aduh kasian sekali kalau nggak ada yang ngisi kantong plastik bekas permen pengamen itu, padahal lagu dan suaranya bagus, apalagi petikan gitarnya."

Wajahnya menyodorkan bungkus plastik kosong penuh harap. Diam-diam aku berdoa dia akan dapat lumayan dari penumpang yang terbangun karena akan turun.

Aku sendiri menikmati lagu-lagu sang pengamen terutama saat lagunya Eric Clepton -- favorite-ku Tears in Heaven, sebuah lagu yang di persembahkan buat anaknya yang masih balita, meninggal karena jatuh dari lantai 53 di apartemennya.

Menyanyikan penuh penghayatan banget, benar-benar menjadi teman perjalanan kami.

"Would you know my name? If I saw you in heaven? Would you feel the same? If I saw you in heaven? I must be strong and carry on 'cause I know I don't belong here in heaven..."

Tanpa kusadari bis Mayasari yang aku tumpangi sudah masuk tol Cibubur. Beberapa penumpang sudah siap-siap berdiri.

Agak tergesa pengamen itu menyelesaikan lagunya sambil mengeluarkan kantong plastik bekas permen mata pencahariannya.

Dengan santun pengamen itu berkata," Terima kasih atas kesempatannya untuk menyanyi, maaf hanya dengan menyanyai, semoga bisa menghibur perjalanan saudara-saudara, hati-hati dengan barang bawaan. Jangan ada yang tertinggal (mengingatkan kita semua) dan hati-hati di jalan karena keluarga menanti di rumah, silakan mengisi seikhlasnya semoga bertambah rejeki dengan berbagi."

Pas banget aku menuju turun, kucemplungin selembar uang kertas. Ternyata banyak juga yang mengisi, wah penumpang yang aku kira tidur ternyata mereka sebenarnya menikmati lagu sang pengamen.

"Semoga banyak rejekinya yo Mas Pengamen, lebih baik jadi pengamen dari pada jadi pemeras apalagi jadi Gayus eh koruptor," doaku terselip.

Senja saat hujan itu ada dua cinta aku tebarkan berbagi sedikit yang aku punya. Senja hujan selalu ada cerita dalam perjalanan dari kantor ke rumah.

My diary about real story, last year 14042011

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun