Akan tetapi pada saat ini masyarakat setempat menggunakan peresean sebagai ritual meminta hujan saat musim kemarau, dimana dalam pertandingan peresean tersebut ada dua pemain yang berlawanan satu lawan satu, dimana dalam bahasa Lombok disebut "Pepadu" dan didalam permainan tersebut akan diawasi oleh pakembar atau wasi, dalam satu pertandingan tersebut aka nada dua pekembar atau wasit yang berbagi satu berada di luar area dan lainnya berada di tengah area pertandingan.
Di dalam pertandingan tersebut biasanya tidak dipersiapkan sebelumnya dan peserta yang turut hadir untuk menonton pertandingan juga bisa mengajukan diri sebagai pepadu, setelah mereka bersedia menjadi pemain dalam pertandingan tersebut mereka akan memulai mengenakan peralatan yang akan digunakan untuk bertempur, akan tetapi ada juga yang telah dipersiapkan seperti saat mengadakan lomba peresean. Dimana pertandingan ini masuk kedalam tarian daerah Lombok, dari sanalah peresean ini bisa dikatakan olahraga
Dimana dalam permainan pesan terdapat beberapa aturan permainan, siapa saja yang boleh mengikuti presean, lokasi dan alat-alat yang digunakan untuk permainan dan bagaimana sistem berjalannya sebuah pertandingan
Pemain harus berjenis kelamin laki-laki, dimana jumlah pemain tidak terbatas dengan syarat satu lawan satu, selanjutnya tepat dan peralatan, arena pertandingan tidak membutuhkan tempat yang luas, dimana nantinya ada alat pemukul, dan perisai yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau.Â
selanjutnya wasit yang akan mengatur jalannya sebuah pertandingan, nantinya para pepadu (para pemain peresean) yang berada di dalam arena akan melakukan perlawanan satu sama lain dengan pepadu lainnya.Â
Panitia sebagai penyelenggara kegiatan, berfungsi untuk mengatur jalannya acara presean tersebut. Seperti dalam sebuah acara sepak bola ada wasit tengah, wasit pinggir sama seperti dalam pertandingan prisean, tetapi menggunakan istilah dalam bahasa suku sasak, yaitu wasit yang disebut dalam bahasa sasak adalah pekembar atau pekembarakan, dimana terdiri dari pakembaran tengah (tengah), pekembar sedi (pinggir) dimana nantinya para pakembaran ini yang akan memimpin jalannya pertandingan yang berpegang teguh pada  "awig-awig" atau peraturan yang telah ditetapkan.
Dalam pertandingan peresean ini terdapat beberapa ronde yang nantinya dalam setiap ronde akan menentukan siapa pemenang dari pertandingan tersebut, apabila salah satu pepadu mengeluarkan darah maka pertandingan tersebut dinyatakan berakhir dan pepadu yang mengeluarkan darah dinyatakan kalah, setelah pertarungan berakhir maka kedua pepadu harus saling merangkul untuk bukti persahabatan. Setelah pertandingan berakhir maka panitia aka mencari petarung lagi di area penonton hingga acara pertandingan tersebut dinyatakan telah berakhir.
 Penulis: Noerma ElizaÂ
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H