Hal  yang paling utama adalah emosinya cenderung tidak stabil. Ia mudah  sekali merasa khawatir, sedih, kecewa atau bahkan marah-marah sendiri,  terutama jika ada pengalaman tidak mengenakan yang ia alami. Masalahnya, Scottie, terapis yang menanganinya tidak ada di sisinya setiap waktu.  Jika ia sedang sendiri dan mengalami pergolakan emosi, tidak ada yang  bisa ia lakukan selain menenangkan dirinya sendiri.Â
Caranya adalah  dengan mengatakan "Please Stand By"berulang kali. Kendati  masalah belum tentu selesai, setidaknya perasaannya menjadi lebih tenang  dan lebih baik daripada sebelumnya.
Wendy  sangat menggemari Star Trek. Ia sangat hapal dengan segala tokoh dan  cerita di dalam film Star Trek. Saking sukanya, ia bahkan menguasai  Bahasa Klingon yang ada di film tersebut. Hari-hari ia jalankan sebagai  pegawai toko kue. Namun ketika ada informasi tentang kompetisi naskah  Star Trek dan naskah yang menang akan difilmkan, seketika jalan hidupnya  berubah.Â
Wendy  ingin mengikuti kompetisi tersebut. Ia bahkan sudah membayangkan bahwa  jika menang, hadiah lomba yang ia terima dapat ia berikan kepada  kakaknya dan mereka bisa tinggal bersama. Oleh karena itu sembari  sibuk bekerja sebagai pegawai toko kue, ia mengisi waktu luangnya dengan  menulis naskah cerita Star Trek. Ia melakukannya dengan tekun hingga  akhirnya naskahnya mencapai 400 halaman lebih. Sesekali ia meminta Scottie  untuk membaca naskahnya dan meminta masukan kepadanya.
Bagi  orang biasa mungkin itu hal mudah. Namun bagi Wendy yang mengidap autis  dan belum pernah berpergian seorang diri sejauh itu menjadikannya tantangan tersendiri. Mampukah Wendy mengantarkan naskah  sampai ke tempatnya sebelum tenggat waktu berakhir? Seperti apa pula perjalanan yang akan dilalui olehnya? Masalah semakin besar karena kepergian Wendy dilakukan secara diam-diam. Audrey terlebih Scottie yang bertindak sebagai psikolog yang menanganinya bahkan tidak mengetahuinya! Dapatkah mereka menemukan Wendy yang hilang?
Tanpa perlu berpikir keras, film ini sangat mudah dipahami. Dengan durasi 93 menit, Ben Lewin sukses membuat "Please Stand By" menjadi film ringan yang menghibur namun tetap sarat akan pesan makna. Kualitas Dakota Fanning sebagai aktris memang tak perlu diragukan lagi. Saya sangat suka dengan bagaimana Dakota Fanning memerankan gadis pengidap autis. Aktingnya 'dapet' banget. Dakota Fanning membuat saya terpikat dan rasanya ingin berkenalan langsung dengan Wendy 'si-banyak-akal'. Saya juga suka dengan hubungan antara Audrey dan Wendy. Kasih sayang tak terbatas ternyata tak hanya milik ibu kepada anaknya saja melainkan juga dari kakak kepada adiknya. Kesederhanaan cerita menjadi kelebihan tersendiri.Â
Sayangnya, "Please Stand By" bukanlah film yang 'luar biasa', namun juga bukan film yang buruk. Nyatanya, masih banyak film yang lebih baik dan luar biasa daripada film ini. Film ini sebatas bagus karena film ini masih memiliki 'cacatnya' berupa beberapa adegan janggal yang akan diketahui saat kita menontonnya. Kendati demikian, saya sangat menikmati film ini. Dari skala 1-10, saya berikan nilai 8. Â
Lebih Berwarna di CGV Central Park
Film "Please Stand By" saya tonton di CGV Central Park Jumat lalu (6/4/18) bersama teman-teman Komik (Komunitas Pecinta Film Kompasiana). Saat terakhir kali ke sana pada Januari 2018 (saat itu menonton film "Maze Runner: The Death Cure"), keadaan CGV Central Park masih belum baik. Sejumlah sisi bioskop masih direnovasi. Nah, setelah dua bulan tak berkunjung, proses renovasi CGV Central Park telah selesai dan tampak jelas perbedaannya.