Tidak hanya menyajikan kisah horor melalui unsur mistis, Hutang Nyawa juga meraba isu sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Disutradarai oleh Billy Christian yang menggandeng Taskya Namya, Muhammad Khan, dan Mian Tiara, film ini mengangkat tema eksploitasi buruh, beban perempuan dalam keluarga, hingga trauma yang diwariskan antargenerasi. Isu-isu tersebut sudah menjadi sejarah kelam dan rahasia umum yang terkadang masih sangat sensitif untuk dibahas oleh media awam.
Praktik Eksploitasi Pekerja
Gemah Ripah, pabrik batik yang menjadi saksi bisu terjadinya semua tragedi nahas, menjadi simbol ketidakadilan sosial di dunia kerja. Berlatar belakang tahun 1990-an, film ini melukiskan dengan apik bagaimana pekerja menjadi korban kekejaman literal maupun metaforis demi ambisi segelintir pihak yang berkuasa. Karakter Awang yang diperankan oleh Muhammad Khan sukses menggambarkan nasib buruh dari desa terpencil yang melihat pekerjaan di pabrik sebagai jalan terang untuk keluar dari cengkeraman kemiskinan. Hal ini menyoroti realitas sosial Indonesia, di mana pekerja kerap menjadi bagian dari rusaknya sistem masyarakat, terutama di kalangan marginal yang tidak dihargai kontribusinya secara layak dan manusiawi.
Beban Ganda Perempuan dan Ekspektasi Sosial
Di sisi lain, karakter Amak yang diperankan oleh Mian Tiara adalah potret ibu Indonesia yang sering kali dibebani tanggung jawab untuk menjaga kesejahteraan keluarga. Mian menggambarkan Amak sebagai sosok realistis, bukan ibu yang diglorifikasi sempurna. "Sebagian besar perempuan, terutama ibu, memiliki beban untuk membahagiakan dan mensejahterakan keluarganya," kata Mian. Kritik terhadap ekspektasi sosial ini memperkaya narasi film, menjadikannya lebih dari sekadar cerita horor.
Budaya Tumbal sebagai Refleksi Ketimpangan
Konsep hutang nyawa dalam film ini mengangkat praktik tumbal yang jarang dibahas secara mendalam. Ritual mistis ini menjadi simbol bagaimana mereka yang lemah sering dikorbankan demi mempertahankan sistem yang tidak adil. Melalui elemen horor, film ini menawarkan perspektif tentang bagaimana ambisi manusia dapat mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.
Pendalaman Karakter yang Sempurna
Taskya Namya, yang memerankan Erwina, mengaku perannya sebagai buruh dan seorang ibu menjadi tantangan tersendiri. Dengan latar belakang keluarga yang kompleks, ia menumbuhkan karakter Erwina yang sarat emosi dan ketegangan. Taskya menyebut peran ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi sepanjang kariernya. Meskipun menjadi tantangan, peran ini juga memberinya ruang untuk belajar tentang dinamika kehidupan buruh pabrik dan produksi batik.