12 Maret 2022, pukul delapan tepat kami memulai kesempatan ini. Dengan para peserta yang begitu antusiasnya, menunggui sedari tiga puluh menit yang lalu, dengan salam dan bismillahirrahmanirrahim, kami membuka dengan sebuah tekad :
Yang Ikut Kelas Pra Nikah Online, Abis Ini, Nikah!
Dari Kota Boyolali, Perpustakaan Keluarga Syaamil Al Maktabah telah memberikan ruang dan ide bagi kami untuk mengadakannya. Ya, tumpukan literasi itu tidak berarti jika kami tidak mendapatkan apa yang kami butuhkan. Apa yang dibutuhkan teman-teman kami lulusan SMA, lulusan Kuliah, bahwa, selepas ruwet dengan buku, ruwet dengan kerjaan, harus ada pernikahan.
Lha makannya, sebelum menapaki jalan hidup baru yang nggak ada sekolahannya itu (pernikahan), harus diilmui terlebih dahulu.
Saya dan teman-teman menginisiasi Kelas Pra Nikah Online, yang semua pembahasannya diawali rasan-rasan dulu dengan babang Ichlas Jogja, Arya Semarang, Bang Irvan, Akhmad Boyolali, dan babanggus Andi Taiwan, yang proposalnya ditandatangani oleh pemilik perpus, Ibunda Siti Jamilatul dengan ketawa simpel, (mungkin mbatin : anak-anak ini ngapain sih?),
Lalu terbang pakai supra, dari Boyolali menuju ke Palebon Semarang untuk melabrak Ustadz Joko Kristyanto.
“Ustadz! Tolong jenengan ngisi jadi pemateri Kelas Pra Nikah Online!”
Beliau ketawa. Saya labrak dengan sembilan kompi pasukan jomblo antiteror Pondok SBH.
“Baik, abis ini, antum langsung nikah ya!”
Dan season pertama pun terjadi, dengan antusiasme peserta luar biasa tak pernah kami kira. ini pertama kali kami mengadakannya berarti, jomblo diluar sana banyak juga.
Pemaparan season pertama adalah tentang pentingnya menikah. Dimoderatori Akh Muhammad Dzikril Hakim dari Jogja, paham pentingnya dulu to, nggak langsung nikah.
Pembahasan ini kami angkat, melihat banyak yang ngaku single, tapi kemana-mana main perempuan atau runtang-runtung main lelaki. Alias HTS (Hubungan Tanpa Status). Zaman ini lagi trend isu konsan-konsen (Sexual Consent) bahwa suka sama suka itu nggak harus ada ikatan pernikahan, bahkan ada pendapat dari kaum feminis barat, pernikahan adalah sarana lelaki untuk menindas perempuan.
Kita ketar-ketir juga, ada group-group What’s App lelaki dan perempuan yang nggak saling kenal, bisa langsung hang out dan melakukan kumpul kebo. Ini kan bahaya. Ada pula paham-paham anti menikah, anti terhadap hubungan lelaki perempuan karena tak mau repot punya anak. Padahal manusia paling luar biasa (Rasulullah) saja, menikah!
Di slide season pertama ini, ada jargon yang menarik :
Nikah Muda(h) : Enaknya hanya 5%, 95% nya enak buanget
Season dua, dengan mengangkat judul : Bagaimana mempersiapkan pernikahan.
Di season ini, dengan semua pemaparan materi yang luar biasa, ada sebuah pertanyaan menarik dan yang jawabannya paling dibutuhkan para bujanghidin abad millenials :
“Assalamu’alaikum ustadz, saya cuma punya uang satu juta. Bisa nikah nggak itu? Wassalam”
Para peserta tepok jidat, ouch, gini amat astaga... kalau bagi saya, ini pertanyaan terbaik!
“Bisa-bisa.... Nikah kan nggak harus mahal, lima ratus pun cukup untuk biaya Naib KUA, dan tiga ratus untuk lain-lain, total ya delapan ratusan cukup”
“Yang mahal itu gengsinya”
Budaya setempat juga ngaruh ustadz. Budaya gengsi. Tapi untuk mahar, kata kuncinya ‘yang terbaik’ untuk diberikan pada calon istri. ‘Yang mudah’ untuk meringankan calon suami. Itu perlu di perhatikan.
Kesimpulan utama dari dua sesi ini seperti tujuan kita ngadain acaranya : mengilmui sebelum meminang.
Season Tiga : Hak dan kewajiban lelaki dan perempuan dalam berumah tangga kelak.
Meliputi :
- Mengapa hak dan kewajiban lelaki dan perempuan dalam berumah tangga itu berbeda menurut syariat?
- Bagaimana menghadapi pasangan hidup
Silakan chat via What’s App dengan format :
Ketik : Daftar_KPNO_Nama_ Usia_Asal_Jenis Kelamin
Contoh : Daftar_KPNO_Adi_20_Semarang_Laki-laki
Lalu Kirim ke No. Admin via What’s App :
088-956-918-55 a.n Khanif (WA) – Ikhwan
Tautan via google meet akan dibagikan di group. Silakan join, gratis. Nantikan acara-acara kami selanjutnya.
Sama-sama kita mengilmui diri, selamat mengikuti!
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H