"Tidak semua sopan itu baik, karena pembangkang, punya nilai kejujuran yang belum tentu dimiliki oleh si sopan. Dia tidak takut dan tidak malu 'tuk mengaku. Dikenang dengan keSOMPLAKannya."
"Ntar, ya, gue mau beli kojek. Lu, masuk aja duluan!" ucap gue seraya turun dari motor.
"Eh, ngapain lu beli cilok?" teriak Dee.
"Untuk dimakan, lah!" jawab gue yang terus berlari mengejar Kang cilok.
"Ventsy Laurel!!" teriak Dee dan gue tidak peduli.
"Kang, ciloknya sepuluh ribu, yang hot!" ucap gue yang langsung menyerahkan selembar uang sepuluh ribu.
"Okelah, Mbak!" jawab Kang cilok.
"Jangan panggil Mbak, Kang! Baru 22, nih!"
"Siaplah, Neng!"
"Siiip, Kabayan!"
"Lah, kenapa dipanggil Kabayan, Neng?
"Lah, Kang ciloknya manggil saya; Neng," jawab gue, asal-asalan.
"Lah, biar tahu, Nengnya lebih muda dari sayalah." Kang cilok mulai mengikat plastik pembungkus cilok.
"Lah, lah, lah ..., liat aja muka saya yang imut ini, orang lain langsung tahu kalo saya masih muda," gue dan Kang cilok tertawa bersama.
"Lah, ini Neng! Terima kasih, sudah beli ciloknya, lah."
"Lah, sama-samalah, Kang. Titiplah salam ama Kabayan, ya!" gue pun berjalan meninggalkan Kang cilok yang tertawa sendiri.Â
Bersambung, maaf, ya....Â
Mengikuti karya kids zaman now
Copyright Wattpad: @divkamayasarihilry
Divka Mayasari Annisa
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H