Mohon tunggu...
Ninoy N Karundeng
Ninoy N Karundeng Mohon Tunggu... Operator - Seorang penulis yang menulis untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya Induk Kata-kata". Membantu memahami kehidupan dengan sederhana untuk kebahagian manusia ...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Antara Cibodas dan Jakarta Cinta Indah Tercipta

9 September 2012   08:34 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:43 316
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"Iya sih...terserah kamu saja Mas...bingung kalau bicara ama kamu..." sahutku sambil memeluknya.

Dia merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Dikecupnya bibirku dengan kelembutan sutra. Denyut darah mengalir ke seluruh tubuhku. Aku menikmati sentuhan tangannya. Kecupan bibirnya. Kerapatan tubuhnya padaku.

Malam semakin larut. Area parkir itu telah sepi. Tak ada kendaraan lagi diparkir di sana kecuali kendaraan kami.

"Kamu begitu mulus. Kamu indah. Aku suka melihat gelang kakimu. Itu membuat imajinasi indah bagiku. Seksi. Hips kamu begitu indah. Pahamu tirus mulus juga begitu sempurna. Itu menciptakan rasa luar biasa ketika kita bercinta...Duh..." katanya merayuku.

"Ah masak sih Mas..." kataku sambil merapatkan tubuhku pada tubuhnya.

Napasku dan napasnya menderu dalam alunan deru debur rasa cinta. Dia mencumbui aku dengan kelembutan cinta namun gentle. Aku menikmati rasa cinta ala seniman. Aku sendiri juga senang seni. Aku bisa menari dan menyanyi. Kini alunan cinta dan seni menyatu dalam cintaku dan cintanya. Tak terasa aku dan dia sudah tak berbusana tidur di dalam mobil berdua. Sungguh indah cinta itu membara dalam jiwa. Sejak itu cintaku tak akan sirna dari dalam jiwa. Aku mencintai kekasihku itu sama dengan dia memujaku setinggi langit dalam nama cinta.

"Pak..Pak...Parkiran sudah tutup," terdengar ketukan di pintu depan.

Aku terbangun. Kekasihku di sampingku juga tampak terjaga. Oh tampak seorang Satpam Taman Matahari mengingatkan kami karena sudah tutup. Oh. Jam telepon seluler telah menunjukkan pukul 21:30 WIB. Kami bergegas mengenakan pakaian kami. Untung tidak terlihat dari luar jika kami tanpa busana.

Kami meninggalkan Taman Matahari dengan gelak tawa dan senyum karena cinta kami hadir dan terpatri di sana. Selain dalam jiwa. Mobil meluncur ke arah Jakarta. Kugenggam tangan kiri kekasihku sepanjang jalan dengan bunga rasa cinta mewarnai hatiku dan hatinya tak akan pernah sirna.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun