Kini, dengan keempat strategi itu, Jokowi akan menunjuk para menteri yang bersih dari korupsi. Namun, tindakan Jokowi ini menimbulkan reaksi yang luar biasa.
Pertama, kalangan pendukung Jokowi di mitra koalisi dan Megawati terkejut. Keterkejutan ini disebabkan Jokowi berjalan sendirian dalam menentukan kabinet. Maka yang akan tampak terwujud adalah beberapa nama yang bersih dan kuat tetap akan menjadi anggota kabinet seperti calon menteri pertahanan Ryamizard Ryacudu.
Selain itu, penyingkiran para orang Mega justru memberi peluang kepada Siti Nurbaya, Ferry Musyidan Baldan, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro. Selain itu, peluang melihat para menteri mumpuni seperti Komaruddin Hidayat dan Pratikno, serta Anies Baswedan semakin terwujud. Selain itu, peluang untuk memasukkan mantan petinggi militer dan pebisnis semakin terbuka lebar seperti Luhut Panjaitan dan bahkan Susi ‘Air' Pujiastuti selain Rusdi Kirana.
Kedua, para anggota DPR yang berseberangan dengan Jokowi selama ini seperti Fahri Hamzah, Fadli Zon dan Hidayat Nur Wahid serta Nurul Arifin dan Tantowi Yahya gerah karena tak memahami langkah zig zag Jokowi yang seharusnya menjadi pesan peringatan taktik dan strategi unjuk kekuatan Jokowi.
Ketiga, para pangamat terpecah . Dua kubu pengamat misalnya oposan Jokowi Siti Zuhro berkomentar miring terhadap penundaan penentuan kabinet. Kubu netral seperti Ikrar Nusa Bhakti lebih taktis memahami penundaan terkait strategi Jokowi dalam memerintah.
Jadi sesungguhnya, penundaan penentuan kabinet adalah tindakan praktek strategi politik ‘testing the water' oleh Jokowi. Hasilnya, Jokowi langsung menyingkirkan dan mengubah strategi devide et impera ke devide at impera plus serangan frontal. Tujuan show off kekuatan Jokowi adalah memberi pesan kepada kawan dan lawan bahwa Jokowi-lah yang berkuasa.
Salam bahagia ala saya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H