Mohon tunggu...
Nina Sulistiati
Nina Sulistiati Mohon Tunggu... Guru - Senang menulis, pembelajar, senang berbagi ilmu

Pengajar di SMP N 2 Cibadak Kabupaten Sukabumi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen "Misteri Hilangnya Gelang Giok"

24 Agustus 2024   20:13 Diperbarui: 11 September 2024   23:10 363
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Input sumber gambar dok.pri by. Canva

Malam ini Bima berdiri terpaku di depan pintu rumah megah itu. Matanya tak bisa lepas dari keindahan di hadapannya. Dia datang ke rumah ini untuk memenuhi undangan reuni SMA Budi Utama 1994. Rumah milik Gunarsa~pengusaha batubara dan property~ ini benar-benar luar biasa. Pilar-pilar besar menjulang tinggi, menopang atap dengan ukiran-ukiran rumit.Dinding-dindingnya dihiasi dengan jendela-jendela besar berbingkai warna emas.

Bima disambut seorang karyawan Gunarsa dan dipersilakan masuk.Di sebuah ruangan besar dengan langit-langit tinggi berukir klasik, suasana malam itu terasa hangat dan penuh keakraban. Sekitar tiga puluh orang teman-teman SMA-nya berkumpul, duduk di kursi yang disusun melingkar di tengah ruangan. Lampu kristal yang bergemerlapan di atas memberikan cahaya lembut, memantulkan sinarnya pada lantai marmer yang berkilau. Aroma kopi dan teh melayang di udara, bercampur dengan wangi kue-kue yang dihidangkan di meja panjang di sudut ruangan. Tak jauh dari meja sebuah gelang Giok bermahkota mutu manikam, ditempatkan di dalam kotak kaca di meja yang sedikit terpisah, mencuri perhatian setiap orang yang masuk.

Percakapan santai mengisi udara, terdengar tawa ringan dan suara-suara yang saling bersahutan. Saat melihat Bima, mereka menyambut dengan senang.

Baca juga: Cerpen "Mbatin"

"Bagaimana kabarmu, Bima?" tanya Sri dengan senyum ramah, sambil menyeruput teh melati dari cangkir porselen.

"Alhamdulillah, sehat semua," jawab Bima seraya membalas senyum teman-temannya.

Di sudut lain, beberapa teman tampak asyik berbincang tentang hobi dan rencana masa depan. Salah satu dari mereka, seorang laki-laki berjas abu-abu dan kemeja putih rapi. Gunarsa datang menyalami saat melihat Bima lalu berbincang akrab.

Suasana terus hidup dengan berbagai topik yang dibicarakan, dari urusan keluarga, pekerjaan, hingga rencana liburan. Sesekali terdengar suara-suara tawa lepas yang memenuhi aula, menambah kehangatan di antara mereka yang berkumpul. Di tengah kebersamaan ini, tak ada yang terburu-buru. Semua menikmati momen, seolah waktu berjalan lebih lambat di bawah sinar lampu kristal yang gemerlapan. Hingga tiba-tiba, sebuah teriakan memecah keheningan.

"Gelang itu! Gelang Giok hilang!" Suara pengawal Gunarsa menggema di seluruh ruangan, membuat semua orang menoleh.

Mata kami terpaku pada kotak kaca yang kini kosong. Gelang Giok yang bernilai miliaran itu lenyap tanpa jejak. Dalam sekejap, suasana menjadi tegang. Tatapan penuh curiga saling dilemparkan di antara para alumni yang hadir. Seseorang di antara kami pasti mencurinya, tetapi siapa?

Gunarsa yang panik segera mengunci semua pintu dan jendela. "Tak seorang pun meninggalkan rumah ini sebelum gelang itu ditemukan," katanya dengan tegas.

Sebagai seorang detektif, Bima merasa terpanggil untuk menyelidiki kasus ini. Bima mendekati Gunarsa, menawarkan bantuan untuk mencari pencuri gelang itu.

Malam itu, aula besar berubah menjadi ruang interogasi. Bima meminta semua orang berkumpul di tengah ruangan. Mata mereka tampak saling mencurigai. Bima memulai penyelidikan dengan memeriksa tempat kejadian. Kotak kaca itu utuh, tak ada bekas dibobol paksa, dan tak ada jejak sidik jari asing di sana. Ini bukan pekerjaan amatir.

Satu per satu, Bima mengajukan pertanyaan kepada setiap orang. Mereka semua memiliki alibi, tetapi ada satu hal yang menarik perhatian Bima. Luki, mantan ketua OSIS yang dulu terkenal licik, terlihat gelisah. Ia menghindari tatapan Bima dan terus memandangi lantai.

"Luki, di mana kau saat gelang itu hilang?" tanya Bima, mencoba membaca bahasa tubuh temannya itu..

"Aku ... aku di toilet," jawabnya singkat, masih menghindari kontak mata.

"Adakah saksi yang bisa menguatkan pernyataanmu?" tanya Bima seraya memandang tegas.

Luki menggeleng, membuat suasana semakin tegang. Namun, bukan hanya Luki yang mencurigakan. Ada Lina, mantan bintang sekolah yang tampaknya menyembunyikan sesuatu. Ketika Bima menanyakan keberadaannya saat gelang itu hilang, Lina menjawab dengan nada datar, "Aku di taman belakang, mengambil udara segar."

Kecurigaan semakin dalam ketika Bima melihat Andi, sahabat lama yang pernah berseteru dengan Gunarsa. Dia terlihat lebih tenang dari yang lain, terlalu tenang. Senyumnya yang biasa hangat kini terasa dingin, penuh misteri.

"Bagaimana denganmu, Andi?" tanya Bima, menatapnya tajam.

"Aku diam di sini, bersama yang lainnya," jawabnya dengan senyum yang tidak wajar.

Perlahan, Bima merangkai setiap potongan informasi. Setiap orang tampaknya memiliki motif dan kesempatan, tetapi tidak ada bukti konkret. Bima menyadari bahwa ini bukan sekadar pencurian biasa.

Ketika semua orang mulai lelah dan cemas, Bima memutuskan untuk mengejutkan mereka. "Saya yakin pencuri gelang ini ada di antara kita. Namun, saya juga percaya bahwa orang tersebut pasti meninggalkan jejak, sekecil apa pun itu. Sekarang, saya akan meminta kalian semua untuk memeriksa barang-barang pribadi kalian."

Perintah Bima membuat suasana semakin panas. Mereka semua mulai memeriksa tas, saku, dan barang bawaan mereka. Saat itulah, sebuah penemuan mengejutkan terjadi. Sebuah kertas kecil jatuh dari saku Andi. Kertas itu terlihat biasa saja, namun ketika dibuka, ada sebuah peta kecil yang menggambarkan denah rumah Gunarsa, lengkap dengan tanda pada tempat gelang itu disimpan.

Wajah Andi pucat seketika. "Ini ... bukan milikku!" Dia bersikeras, tetapi tatapan curiga dari yang lain sudah mengunci nasibnya.

Gunarsa maju dengan amarah yang membara. "Kau mencuri gelangku, Andi?"
Sebelum Andi bisa membela diri, sebuah suara lain memecah kebisuan. "Tunggu!" Itu suara Lina. "Aku tahu siapa yang mencuri gelang itu."
Semua mata tertuju padanya. "Apa maksudmu?" tanya Bima dengan serius. Lina menelan ludah, tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Gelang itu... sebenarnya tidak pernah dicuri."
Bima terdiam. "Apa maksudmu?"
"Gelang itu sudah aku amankan sebelum acara dimulai. Aku merasa ada yang tidak beres dengan semua ini," katanya, sambil menatap Andi dengan sorot mata tajam. "Aku tahu Andi akan mencoba sesuatu malam ini, jadi aku sengaja memindahkan gelang itu ke tempat yang lebih aman."
Andi tampak terpukul dan mengaku bukan perbuatannya, tetapi Bima masih merasakan ada sesuatu yang belum terungkap. "Lalu, di mana gelang itu sekarang?" tanya Bima.
Lina tersenyum tipis. "Sudah kubilang, di tempat yang aman."

Ketegangan di ruangan itu terasa semakin menebal. Semua orang menunggu dengan cemas, berharap Lina akan mengeluarkan gelang itu dari tempat persembunyiannya. Namun, sebelum Lina sempat melangkah lebih jauh, lampu di ruangan tiba-tiba padam, meninggalkan kami dalam kegelapan total.

Bima mendengar suara langkah kaki berlari, dan sebelum Bima bisa bereaksi, suara pintu dibanting terdengar dari arah belakang. Bima mengejar bayangan itu, tetapi gagal. Ketika lampu menyala kembali, Bima melihat bahwa Lina telah menghilang. Gelang itu, seperti Lina, lenyap tanpa jejak.

Bima berdiri di tengah aula, dikelilingi oleh wajah-wajah bingung dan cemas kecuali Gunarsa, yang sebelumnya terlihat begitu cemas, kini berdiri dengan senyum yang hampir tak terbaca. Ada sesuatu dalam tatapan matanya yang membuat Bima curiga.

Bima mengingat kembali setiap detail kejadian malam ini. Semua terlalu sempurna untuk sebuah kebetulan. Peta di saku Andi, pengakuan dan hilangnya Lina, lampu yang padam di saat yang tepat. Bima teringat sesuatu yang pernah didengar tentang asuransi benda berharga---terutama tentang bagaimana beberapa orang yang sangat kaya terkadang memilih untuk "kehilangan" barang-barang mereka demi klaim asuransi yang besar.

Bima menatap Gunarsa, yang kini sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Suaranya terlalu pelan untuk didengar, tapi ekspresinya mengatakan lebih dari yang perlu Bima ketahui.

Ada permainan yang lebih besar di sini, dan Gunarsa-lah dalangnya. Gelang itu tidak hilang karena dicuri. Gelang itu hilang karena rencana yang sudah diatur dengan cermat. Dan saat Bima menyadari semua itu, Bima tahu bahwa malam ini, akan benar-benar terungkap.

Bima menyimpan kesimpulan sendiri. Di dunia yang penuh tipu daya ini, kebenaran terkadang harus tetap tersembunyi---setidaknya untuk sementara waktu. Bima harus mencari gelang itu. Bima yakin seseorang mengambil gelang itu agar dana asuransi dapat diklaim. Bima tersenyum saat memiliki cara untuk menjebak Gunarsa.

Cibadak, 24 Agustus 2024

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun