Mohon tunggu...
Nikmatul Sugiyarto
Nikmatul Sugiyarto Mohon Tunggu... Tutor - Tutor

Berekspresi tanpa batas

Selanjutnya

Tutup

Politik

Ketika Dua Elite Politik Bersatu Demi Pilpres, Harus Saling Mengingatkan Ya!

15 Oktober 2022   23:08 Diperbarui: 15 Oktober 2022   23:23 180
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar : Postingan Instagram. Dokpri

Tidak akan lama lagi, Anis akan turun dari singgasananya, banyak sekali kesibukan yang dilakukannya untuk meninggalkan kesan baik pada era kepemimpinannya di DKI Jakarta. Tak sedikit pula namanya tercoreng dan menjadi buah bibir di semua kalangan masyarakat.

Memang kapan sih gubernur satu itu absen dari obrolan rakyat, sepertinya tidak pernah, ya. Apalagi pasca dirinya diusung menjadi capres oleh partai Nasdem, bak asap yang merebak ke udara, mengejutkan khalayak umum, dan membuat heboh semua penjuru. 

Belum lagi kegaduhan yang ia lakukan setelahnya, ada-ada aja kelakuan yang harus dikritiki darinya, tak hanya satu namun sering kelakuannya mumbuat geram masyarakat.

Sama halnya dengan kerabatnya dalam dunia politik, siapa lagi kalau bukan AHY, ketua umumnya partai demokrat. Aduh, kalau sampe keduanya berkolaborasi menjadi pemimpin negeri ini, bisa-bisa jadi gado-gado negara ini. 

Gado-gado mending enak dijadikan santapan, lah kalau digambarkan untuk tatanan negeri ini, sama sekali bukan perumpamaan yang layak, apalagi cocok.

Seperti Anis yang mencampurkan agama dan politik hingga mencetuskan politik identitas, dan AHY yang selalu menduelkan urusan pribadi dengan politik hingga menyeret peponya tersayang.

Terkadang publik dibuat heran oleh kedua elit politik itu, kenapa dalam mengambil peran sebagai seorang tokoh politik, mereka tidak bisa bermain pintar, siasat yang mereka gunakan menimbulkan gelakan tawa sana-sini.

Skenario yang mereka jalankan sudah banyak ditebak oleh khalayak umum, caranya selalu itu-itu saja yang dimainkan.

Anis mengulang kampanyenya dengan politik identitas, AHY tidak ada bosannya menyindir, bahkan dengan gamblang menyerang sistem pemerintah Jokowi ini. Betulkah, tidak ada inovasi berpolitik kedua elite politik ini?

Pasca pencapresan Anis oleh Nasdem, bagaikan buah simalakama, dia dirundung banyak sekali masalah. Banjir yang terus berputar di sekeliling Jakarta. 

Apa yang dia banggakan, hanya sumur resapan air hujan yang tidak berjalan efektif. Baru-baru ini muncul di pemberitaan bahwa satu program yang digadang-gadang akan menjadi pengendalian banjir di ibu kota mandeg dari tahun 2018.

Program itu ialah normalisasi sungai ciliwung yang garapannya belum selesai, dan vakum hingga saat ini. Bukannya meneruskan penggarapan itu, nyatanya ia mengalihkan pada proyek baru dengan merealisasikan sumur resapan air.

 Sumur resapan memang sudah menjadi rencana besar dari Pak Jokowi, tapi di tangan Anis, hal itu tidak berjalan sesuai rencana.

Lagi-lagi, ia tidak mematangkan rencana, bukannya untung malah jadi buntung. Sumur itu tidak berjalan efektif, lalu letak pembangunannyapun tidak tepat sehingga banyak merusak aspal di jalan raya. 

Tugas pertamanya dalam normalisasi Kali Ciliwung adalah pembebasan lahan, dirinya tidak berani mengambil langkah itu karena ditakutkan ia melanggar janji kampanyenaya, yang kemungkinan akan adanya acara gusur-menggusur untuk meneruskan normalisasi Kali Ciliwung.

Tapi tidak karena itu pun Anis sudah dinobatkan sebagai pembual terbaik oleh LBH Jakarta, karena tidak menepati janji kampanyenya membangun tanpa menggusur.

 LBH menobatkan pembual terbaik untuk Anis karena masalah perjalanan pencabutan Pergub DKI 207/2016 yang melanggengkan tindakan penggusuran paksa tidak kunjung menemukan titik terang.

Saat ini yang menjadi harapan besar Jokowi untuk menuntaskan banjir DKI adalah Penjabat baru Gubernur DKI Jakarta yang menggantikan Anis, ialah Heru Budi Hartono. 

Sosoknya yang kerap wira-wiri di pemerintahan khususnya DKI mendapat amanah dari Jokowi untuk memprioritaskan penyelesaian masalah ibu kota, salah satunya banjir.

Belum resmi dilantik, dirinya sudah mulai blusukan ke daerah rawan banjir. Dan rencana awal sudah digaungkan untuk melanjutkan normalisasi Kali Ciliwung yang sudah mandeg dari 2018. 

Bukan lagi dengan cara gusur-menggusur, tapi melalui cara yang sudah diterapkan sebelumnya, yang dinilai olehnya akan memperlancar normalisasi Kali itu. Wuah, semoga Heru betul menjadi super hero ya untuk DKI. 

Belum resmi hengkang dari DKI, bukannya sibuk melakukan perbaikan sana-sini, Anis malah gencar dengan aksi safari politiknya tempo hari, mengunjungi AHY di markas demokrat. 

Disaat bersamaan, berita duka datang dari MTSN 19 Jakarta Selatan. Dinding sekolah itu tidak kuat menahan kuatnya aliran air banjir, hingga roboh dan memakan korban, 3 murid dinyatakan tewas terkena robohan dinding.

Miris bukan, disaat Pak Anis sedang ngobrol manis dengan AHY, ada rintihan rakyat yang menderita karena banjir yang tak kunjung surut.

Disaat dirinya berbincang cantik dengan AHY di ruangan mewah, rakyatnya mengeluh karena perjalanan pulang kerjanya harus diiringi dengan banjir yang menggenangi jalanan. 

Saat di media sosial warga DKI penuh dengan keluh kesah akan kesulitan mereka bertemu keluarganya sepulang kerja akibat crowdednya jalanan yang berteman dengan genangan air, Anis justru memamerkan potret kebersamaannya dengan AHY di ruang yang megah nan mewah. 

Disaat media penuh dengan berita dukanya murid DKI yang tertimpa robohan dinding akibat banjir, potret Anis dengan senyum lebarnya bersama AHY terpampang cantik di postingannya tempo hari. Woah sangat menyedihkan melihat kesenjangan Anis dan rakyatnya itu.

Amat disayangkan lagi, dengan sisa jabatan Anis ini hanya digunakan untuk peresmian sana-sini. Niatnya awalnya untuk meninggalkan citra dan kesan yang baik tapi di balik satu peresmian yang malah terkesan buru-buru demi tinggalkan citra yang baik di mata rakyat.

Peresmian Waduk Brigif, yang penggarapannya jauh dari kata rampung, bahkan banyak material yang belum terpasang ditemukan di sekitar proyek. 

Jangankan bisa uji operasional untuk kelayakan bangunan, berdiri utuh saja belum. Tapi pak Gubernur ingin segera meresmikannya, ya sudah apa boleh buat, kalau sang pemimpin sudah bertitah. 

Tak beda dengan Anis, AHY pun memiliki tindak-tanduk yang sama dengan Anies, justru ada bumbu arogan yang menyertai aksinya. Dirinya selalu menghujami pemerintah era Jokowi dengan keburukan. 

Anak karbitan itu terang-terangan membandingkan bagaimana kehebatan pemerintah ayahnya, SBY, dengan pemerintah Jokowi.

Tidak cukup dengan menyindir proyek era Jokowi hanya tinggal potong pita dari proyek tinggalan SBY. Yang kemudian sindiran itu dipatahkan oleh warganet dan oleh sang presiden, dengan penampakan bejibun bangunan yang mangkrak di era SBY. 

Itu hanya tamparan lembut yang dilayangkan untuknya.

Saat ini AHY kembali gembar-gembor menyerang pemerintah Jokowi. Tepat saat pelantikan pengurus partainya, dirinya meluapkan kegembiraan karena naiknya elektabilitas partai demokrat dalam survey pilpres.

 Tidak berhenti disitu untuk menaikkan elektabilitas partainya dan demi keeksisannya di dunia politik, AHY mengatakan bahwa rakyat lebih sejahtera hidupnya di era SBY katimbang era Jokowi saat ini.

Wuah, dia hanya disodori prestasi bapaknya aja apa gimana sih, enggak coba belajar dari sebelumnyakah, Mas Agus?

Mainnya kurang jauh ternyata anak karbitan satu itu. Tidak ada bosan-bosannya dia menjadi bulan-bulanan warganet. 

AHY, AHY, berharap besar untuk bisa maju nyapres, bukannya prestasi yang diperlihatkan, malah sibuk mengeluarkan opininya yang nyleneh, bawa nama bapaknya mulu lagi.

Begitulah dua elite politik yang saat ini digandrungi oleh rakyat, bukan karena prestasinya, melainkan karena huru-hara yang mereka bawa. 

Hati-hati di jalan ya Pak Anis, dan Mas Agus, jalan menuju panggung demokrasi masih panjang, jangan buru-buru, takut tersandung anggelan di jalan, belum lagi kalau tergelincir karena kerikil jalanan. Terus saling mengingatkan demi pilpres yang sehat, oke. 

Nikmatul Sugiyarto

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun