Misalnya, dilansir dari kompas.com (06/07/20) dalam raker bersama Komisi IV DPR RI, Edhy Prabowo menyebut bahwa penenggelaman kapal pencuri ikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya, penenggelaman kapal butuh Rp 50 juta hingga Rp 100 juta sehingga lebih baik disita untuk dipakai oleh nelayan dan mahasiswa praktek.
Bahkan, ia mengatakan bahwa bukan popularitas yang ia cari tetapi dukungan dan kritik dari para wakil rakyat dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan terkait laut Indonesia.
"Menenggelamkan kapal itu butuh biaya lagi, setelah putusan pengadilan, itu Rp 50-100 juta harus ada biaya menenggelamkannya lagi. Ngebornya, bakarnya, nyari tempatnya, ngumpulin orangnya, ngumpulin medianya, konsumsi, dan sebagainya. Saya enggak mau lagi bermain, menari untuk mencari popularitas diri saya. Jadi saya sangat percaya Bapak/Ibu (Komisi IV DPR RI) mendukung saya. Saya siap bapak/ibu memarahi saya kapan saja," kata Edhy
Di tengah isu reshuffle seperti ini, kata-kata Edhy Prabowo bermakna ganda. Pertama, menunjukkan kepada wakil rakyat tentang dampak kebijakan-kebijakannya dan kedua secara tidak langsung mengatakan kepada publik dan juga kepada presiden bahwa kebijakannya jauh lebih bagus dari menteri Susi.
Tentunya, hal-hal seperti ini akan menjadi pertimbangan presiden dalam menentukan pilihan. Oleh karena itu, meskipun penyampaian Edhy Prabowo tidak memiliki sangkut paut dengan isu reshuffle, penyampaian seperti hal tersebut di tengah isu reshuffle benar-benar politis dan mengundang curiga.
Salam!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI