Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Lainnya - ibu rumah tangga biasa dengan 3 dara cantik yang beranjak remaja
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, insyaallah tidak akan mengecewakan...

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Dari Museum ke Museum, Jalan-jalan ke Masa Lampau

12 Oktober 2021   12:58 Diperbarui: 12 Oktober 2021   13:05 491
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Museum Transportasi TMII (dokumen pribadi)

Sebagai pekerja lapangan, saya selalu berada di tempat kegiatan yang berbeda-beda. Terkadang di hotel, restoran, gedung perkantoran, kantor kementerian, cafe, tempat rekreasi, rumah sakit, pasar, termasuk tentu saja museum. 

Di Jakarta ini bertebaran museum dengan keunikannya masing-masing. Itu, berarti, museum yang saya kunjungi pun berbeda-beda. Jelas, sesuatu yang menguntungkan buat saya karena saya jadi bisa tahu museum yang berbeda-beda.

Selain bisa sambil bekerja, saya juga bisa berwisata. Kalau waktunya sangat memungkinkan, terkadang saya mengajak anak-anak saya, untuk sekalian berwisata ke museum. 

Biar anak jaman now paham ada museum yang menjadi saksi perjalanan bangsa kita ini. Bahwa museum sarat budaya dan ilmu pengetahuan. Jangan melulu berkunjung ke mall. 

Biasanya, usai menuntaskan pekerjaan atau ketika kegiatan yang dihadiri belum mulai, saya memanfaatkan waktu yang ada dengan melihat-lihat museum. Tidak lupa untuk berfoto-foto.

Dengan mengunjungi setiap spot, wawasan atau pengetahuan saya pun bertambah. Untung bukan? Seperti kata pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampui.

Dari sekian museum yang saya kunjungi, berikut beberapa di antaranya:

Museum Kebangkitan Nasional (dokumen pribadi)
Museum Kebangkitan Nasional (dokumen pribadi)

Museum Kebangkitan Nasional

Museum yang berlokasi di Jl Dr. Abdul Rahman Saleh Nomor 23, Jakarta Pusat, ini tidak begitu jauh dari RSPAD Gatot Soebroto dan Pasar Senen. Museum ini menjadi salah satu obyek wisata yang paling diminati dan dikunjungi di ibukota ini. 

Biasanya, untuk bisa sampai ke sini, saya naik kereta commuiter line turun di Stasiun Gondangdia, lalu naik bus Transjakarta atau ojek online atau bajaj. Kalau naik bus Transjakarta turun di samping RSPAD, tinggal menyeberang deh.

Sebelum menjadi Museum Kebangkitan Nasional, gedung ini dikenal dengan nama Gedung Stovia, atau gedung sekolah kedokteran yang didirikan oleh Belanda dengan nama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen yang disingkat STOVIA. 

Sekolah kedokteran jaman Belanda ini berdiri pada 1899. Awalnya, bernama Sekolah Dokter Jawa yang berdiri pada 1851 di Rumah Sakit Militer Weltevreeden -- sekarang RSPAD Gatot Soebroto. 

Karena dianggap mengganggu kenyamanan para pasien, sekolah ini pun dipindahkan di samping gedung yang tidak begitu jauh dari RS tersebut. Oleh para pribumi sekolah ini dikenal dengan nama Sekolah Dokter Bumiputra.

Di museum ini pun menyimpan ribuan memori yang terkoleksi dari masa ratusan tahun. Di museum ini pula menjadi saksi berbagai fase perjuangan kemerdekaan.

Di dalam museum ini menyimpan berbagai koleksi perabotan, jam dinding, lampu antik, genta, perlengkapan medis, pakaian, senjata, foto, diorama, lukisan, patung, peta, miniatur dan koleksi lainnya. 

Terdapat pula karya instalasi seukuran manusia yang diletakkan dalam salah satu ruang belajar, memperlihatkan para pelajar STOVIA dengan pakaian semi-tradisional mereka. Dan, banyak lagi.

Karena itu, mengunjungi museum ini menjadi refleksi diri mengenang bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Museum Transportasi TMII (dokumen pribadi)
Museum Transportasi TMII (dokumen pribadi)

Museum Transportasi TMII

Museum milik Kementerian Perhubungan ini berada di dalam area Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Dari pintu gerbang TMII kita bisa naik mobil wisata dengan tarif 10.000 PP.

Didirikan bertujuan mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan bukti sejarah dan perkembangan transportasi, serta perannya dalam pembangunan nasional.

Museum ini menampilkan berbagai moda transportasi yang mengandung nilai sejarah dan perannya dalam perjuangan bangsa. Jadi, sangat tepat untuk wisata edukasi bagi para pelajar atau siapa saja karena di sini kita bisa belajar sejarah bagaimana transportasi Indonesia saat itu.

Sebagaimana namanya, di museum ini terdiri dari transportasi darat, laut, udara, dan perkeretaapian dari masa ke masa. 

Dalam wahana ini, ada Kereta Keliling, terdiri dari dua kereta kayu berkapasitas 63 orang yang ditarik dengan lokomotif uap C1912 yang telah dimodifikasi. Sangat menarik untuk dinaiki untuk "menjelajahi" wahana ini. Terlebih bagi pelajar TK dan SD.

Serunya ketika berkeliling wahana ini saat kereta memasuki Terowongan Idjo di jalur kedua. Terowongan yang tampak gelap ini  di kedua sisinya ada diorama-diorama yang menarik. 

Salah satunya adalah diorama perlintasan sebidang kereta api dengan orang-orang yang melambaikan tangan. Ada pula yang menampilkan diorama kendaraan-kendaraan seperti mobil dan delman.

Masih banyak lagi koleksi kendaraan unik yang dimiliki Museum Transportasi. Seperti bus tingkat Si Jangkung Merah. Bus buatan Inggris pada 1968 ini beroperasi di Jakarta sampai tahun 1982. Wah, saya masih kecil itu, masih imut-imut dan menggemaskan, eh...!

Ada juga armada pertama DAMRI dari tahun 1945 sampai dengan 1950, yakni cikar yang ditarik dengan dua ekor sapi. Pada salah satu sisinya tertulis Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia, kepanjangan dari DAMRI.

Pokoknya banyak deh.

Museum Purna bhakti Pertiwi TMII

Museum ini juga berada di area Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Tepatnya di sisi depan gerbang utama kawasan TMII. Bangunannya berbentuk seperti sekumpulan kerucut.

Dikutip dari situs resmi TMII, tamanmini.com, museum ini dibangun atas gagasan Ibu Tien Soeharto sebagai bentuk rasa syukur dan penghargaan atas peran serta dukungan masyarakat Indonesia dan mancanegara terhadap pemerintah. 

Ruang utama museum berisi beraneka jenis cendera mata, seperti dari para kepala negara asing dan diplomat. Salah satu cendera mata yang dipamerkan adalah patung Bali yang terbuat dari susunan koin Cina dan replika Peraduan Putri Cina berbahan batu giok.

Di ruang perjuangan yang berada di sisi barat bangunan utama berisi berisi relief perjalanan hidup Presiden Soeharto dari lahir hingga periode ke-5 menjabat sebagai presiden. Di sebelah utara ada ruang khusus yang menyimpan berbagai tanda kehormatan, seperti lencana, bintang kehormatan, dan selendang. 

Museum Nasional (museumnasional.or.id)
Museum Nasional (museumnasional.or.id)

Museum Nasional

Lokasinya begitu strategis. Depannya ada taman Monas atau Monumen Nasional. Untuk ke sini dengan menggunakan bus Transjakarta, tinggal turun di Halte Monas, lalu menyeberang deh.

Ini adalah museum yang paling sering saya singgahi karena pekerjaan saya banyak berelasi dengan kementerian yang ada di sekitar Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

Ada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Pertahanan, Kementerian Perhubungan, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Jadi, sambil berjalan kaki, saya mampir ke Museum Nasional.

Museum ini sangat dikenal kalangan masyarakat, karena dekat juga dengan Istana Negara, Medan Merdeka Barat, dan Radio Republik Indonesia. Masyarakat yang akan ke sini, tidak akan tersesat deh. Lokasinya strategis banget.

Di halaman depan museum terdapat patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pada 1871. Itu sebabnya, masyarakat lebih sering menyebut Museum Nasional dengan "Gedung Gajah" atau "Museum Gajah". 

Dulu, saya sempat bingung, kenapa Museum Nasional lebih sering disebut Meseum Gajah, ternyata karena alasan tersebut hehehe...

Terkadang disebut juga "Gedung Arca" karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode.

Museum Nasional sebagamana yang saya baca di museumnasional.or.id, memiliki visi "terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan national, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antar bangsa".

Dan banyak lagi museum-museum lain yang sudah saya kunjungi.

Bagi saya sendiri mengunjungi meseum sangat bermanfaat karena dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan. Dengan mengunjungi museum, berarti saya bisa jalan-jalan ke masa lampau. Membayangkan suasana saat itu.

Selain itu, jadi mengenal lebih dalam tentang sejarah dan budaya bangsa, dan bisa melihat dunia lebih luas lagi. 

Bagi anak-anak saya, mereka bisa belajar dengan melihat langsung, bukan sekedar dari buku pelajaran. Biasanya, anak-anak saya jadi lebih banyak bertanya. Apa ini, apa itu. Mengapa begini, mengapa begitu. Mirip lagunya Doraemon.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun